Oleh DAVIATUL UMAM
BEBERAPA tahun terakhir, eksistensi penyair perempuan Madura meredup. Mereka yang pernah lantang menyuarakan isi pikiran dan perasaannya dalam baris-baris puisi nyaris tak terdengar lagi. Secara kasatmata hal ini bisa kita buktikan dengan absennya karya mereka di media massa, kompetisi menulis dan penerbitan buku, baik berupa buku tunggal maupun bunga rampai. Apakah mereka benar-benar pensiun dari dunia kepenyairan?
Di 2023, sepintas kita menghirup udara segar berkat terbitnya buku puisi Surat Jibril karya Maftuhah Jakfar. Dan, udara segar itu bisa kita rasakan lagi di 2024 ini seiring kelahiran serpihan puisi Sampai Ambang Senja anggitan Lilik Rosida Irmawati. Keduanya merupakan perempuan Madura yang terbilang cukup panjang menempuh jalan terjal kepenulisan. Ini dapat menjadi pemantik api semangat generasi para perempuan Madura yang lain untuk bangkit atau mulai menulis, meski puisi bukanlah satu-satunya pilihan.
Namun, kita tidak bisa cukup bersorak-ria di tepi kolam. Keteladanan seorang penulis tidak cukup dilihat dari kebertahanan dan produktivitasnya menelurkan karya. Lantaran itulah kita mesti mencemplung ke kolam itu, karya yang dihasilkan itu, agar kita tahu seberapa dalam ia dan seberapa jauh kita menikmati kesegaran airnya serta bermacam wahana yang ada. Dengan demikian, kita dapat menilai sendiri apakah tulisan mereka mampu menginspirasi kita sehingga ketokohan pengarangnya patut menyandang predikat uswatun hasanah.
Oleh sebab itu, saya hendak berbagi hasil tilikan saya terhadap buku puisi pertama Lilik Rosida Irmawati bertajuk Sampai Ambang Senja (Rulis, 2024). Tetapi sebelum itu, perlu saya sampaikan terlebih dahulu bahwa tilikan yang saya maksud di sini bukanlah analisis secara komprehensif dan mendalam, melainkan sebatas pembacaan singkat atas buku tersebut berdasarkan pengalaman pribadi selama bertangkap-lepas dengan puisi.
Setelah menyelami keempat puluh puisi dalam Sampai Ambang Senja, yang segera terlintas di kepala saya adalah parafrasa berikut: puisi bukan sekadar kata-kata puitis. Apalagi dipuitis-puitiskan supaya tulisan yang kita maksudkan sebagai puisi tampak berbeda belaka dengan bahasa berita atau reklame. Rupanya, Lilik masih asyik bermain-main di kubangan itu. Dari segi bentuk memang cenderung luwes seperti puisi modern pada umumnya, tapi dari aspek isi masih tercium jelas aroma napas Pujangga Baru. Mari kita perhatikan puisi pembukanya ini:
Pendar Cahaya
Aku menemukanMu
dalam pendar cahaya yang
berkelip di kegelapan
malam
Pendar cahyaMu
tetap berkilau di jagat
pijar langit Jakarta
Meski hanya setitik kerlip
memenuhi rongga hati gulita
memancarkan
cahaya-cahaya baru
di belantara hati nan sunyi
(hlm. 1)
Tidak perlu berpusing-pusing untuk mengangkat makna yang mengendap dalam larik-larik puisi diafan di atas. Bahkan, dalam sekali baca kita sudah bisa meraba apa maksud si penyair. Penggunaan bahasa yang polos semacam itu sangat dominan dalam buku ini, kalau bukan menyeluruh. Katakanlah puisi tersebut merupakan representasi dari semua puisi yang tertera. Imaji ”pendar cahaya”, ”kegelapan malam”, ”pijar langit”, ”belantara hati nan sunyi”, menjadi gambaran suasana alam, waktu, dan perasaan personal penyairnya yang amat jelas.
Baca Juga: Perihal Perkalian
Kiranya Lilik terlalu tergesa-gesa merampungkan antologi Sampai Ambang Senja. Puisi-puisinya seolah digarap tanpa perhitungan, pengendapan, dan revisi yang matang. Barangkali tema religiositas yang dipilih adalah salah satu penyebabnya. Tema ini memang rentan membuat seorang penyair mengungkapkan kata-kata secara lugas karena terlampau dikuasai gejolak jiwanya yang seakan tak terkendali.
Dalam esai Tradisi dan Bakat Individu, T.S. Eliot (1888-1965) menegaskan kalau puisi bukanlah pelepasan emosi, melainkan pelarian dari emosi; bukan ekspresi kepribadian, melainkan pelarian dari kepribadian. Nah, Lilik terjebak di situ, di kegemerlapan emosinya sendiri, di rongga kepribadiannya sendiri. Mungkin ia menganggap puisi sebagai cermin yang bisa memantulkan pengalaman intimnya dengan Sang Pemilik Semesta secara persis.
Maka, silaulah ia terhadap perangkat-perangkat poetika, pemilihan sudut pandang, eksplorasi tematik, yang sebenarnya dapat memperluas tafsir puisi. Akibatnya, yang terjadi pada kumpulan ini justru serangkaian diksi persuasif yang gemar berbasah-kuyup dengan senja, sembilu, luka, jiwa, hati, batin, kalbu, nurani, serta frasa/klausa kaku dan redundan semisal: ruang abstrak hati (hlm. 8), renta yang tak muda (hlm. 19), merekrut hati (hlm. 35), menghempaskan erotisme (hlm. 42), dan keheningan nan senyap (hlm. 67).
Selain itu, terdapat pengaturan huruf M pada enklitik ”-mu” yang inkonsisten, antara lain bisa kita jumpai dalam puisi Lelakiku 3 (hlm. 44), Aku Menunggumu, Kekasih (hlm. 48), dan Saat Senja (hlm. 50). Pasalnya, huruf konsonan nasal itu ditulis kapital (M) di bait/baris yang satu, tetapi juga ditulis kecil (m) di bait/baris yang lain, sehingga tak jelas enklitik ”-mu” dan ”-Mu” merujuk kepada siapa ataupun pronomina dari siapa. Tuhan ataukah manusia yang dipanggil ”lelakiku” dan ”Raja”?
Yang tak kalah disayangkan, ada begitu banyak salah ketik dan ejaan. Sebut saja ”dipunggungmu” ([mestinya dipisah antara di dengan punggungmu] hlm. 2), ”Ku Ketuk” ([mestinya disambung antara Ku dan Ketuk] hlm. 13 & 15), ”punca” ([mungkin yang dimaksud adalah puncak] hlm. 47), ”nuktah” ([mungkin yang dimaksud adalah noktah] hlm. 50), ”kerjab” ([mungkin yang dimaksud adalah kerjap] hlm. 51), dan masih banyak kasus serupa yang mudah ditemui di sana-sini. Belum lagi bicara kata baku dan tak baku yang digunakan tanpa mempertimbangkan kelayakannya serta efek yang ditimbulkannya.
Walau demikian, bagaimanapun saya harus angkat topi atas hadirnya buku serpihan puisi ini, karena telah berani menyala di tengah redupnya penyair perempuan Madura yang lain. Sebagai manusia, penulis/penyair tentu saja akan semakin menua dan proses kreatif pun masih terus berlanjut seiring laju usianya. Dengan kata lain, masih ada kesempatan untuk belajar sembari berupaya meningkatkan kualitas karya. Sebuah jalan yang memang penuh cobaan dan tantangan, yang tak semua orang sanggup melewatinya, apalagi bertahan selama puluhan tahun seperti Lilik; aku telah memilih jalan/penuh onak membersamaimu/sampai ambang senja
Sumenep, 19 September 2024
Catatan: Ulasan sederhana ini disampaikan pada acara Bincang Buku Puisi ”Sampai Ambang Senja” karya Lilik Rosida Irmawati, pada Jumat, 20 September 2024, di Madrasah Al-Huda, Gapura Timur, Gapura, Sumenep, atas kerja sama Komunitas Damar Korong dan Rumah Literasi Sumenep (Rulis).
Daviatul Umam, menulis puisi dan prosa. Buku puisinya yang telah terbit bertajuk Kampung Kekasih (2019). Alumnus Pondok Pesantren Annuqayah ini bergiat di Komunitas Damar Korong. Kini bermukim di tanah kelahirannya, Sumenep, Madura.
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti