Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Sendèlan: Pertunjukan Pantun Madura

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 4 Agustus 2024 | 16:05 WIB
Rozekki, dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Bangkalan.
Rozekki, dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Bangkalan.

Oleh ROZEKKI

 

KONSEPSI yang kali pertama muncul dalam benak ketika mendengar kata sendèlan adalah pantun. Sejenis puisi lama yang terdiri atas empat baris dengan persajakan ab-ab. Baris pertama dan kedua disebut sampiran atau gantungan, baris ketiga dan keempat disebut isi, makna, tujuan, atau tema. Selain empat baris, terdapat juga pantun dua baris yang disebut pantun kilat atau karmina. Aturannya sama, bagian pertama sampiran, bagian kedua isi. Persajakannya aa, jika yang dilihat hanya sajak akhir, tapi jika dihitung dengan sajak tengah juga bersajak ab-ab. Contoh sendèlan empat baris:

Nompa’ kapal jhâ’ nga-nengnga

Èterbâ’ angèn jâl-ghunjâlân

Anḍi’ bhâkal jhâ’ nga-bhunga

Èkala’ orèng gâr-jlânggârân

 

Contoh sendèlan dua baris:

Nyara nyo’on parèng

Sè ènyara èkollè orèng

Baca Juga: Puisi dan Sudut Pandang Lain yang Belum Selesai Digali: (Catatan tentang Manuskrip Puisi Kembang Laut yang Dilaksanakan Komunitas Damar Korong)

Konsepsi umum yang diberangkatkan dari penyepadanan seperti itu sangat rentan, memiliki ruang koreksi yang terbuka, memiliki peluang untuk didefinisikan ulang. Untuk itu, diperlukan penelusuran dan pengkajian yang tidak hanya didasarkan pada asumsi, tetapi disandarkan pada pendekatan yang lebih ilmiah. Dalam tulisan pendek ini diketengahkan sedikit kajian berdasarkan penelusuran pustaka.

Dalam buku Kosa Kata Bahasa Madura Lengkap (2009) yang disusun oleh Bastari dan Yoesi Ika Fiandarti, ada satu bab khusus tentang sastra Madura. Setiap jenis sastra dibahas secara singkat dalam satu subbab, yang seluruhnya terdiri atas 14 subbab. Namun, tidak ada subbab tentang sendèlan. Istilah sendèlan hanya disebut satu kali dalam subbab pantun, sebagai keterangan bahwa pantun bisa disebut juga sendèlan. Artinya, sendèlan disepadankan dengan pantun. Tidak kurang, tidak lebih.

Berbeda dengan Bastari dan Fiandarti, Adrian Pawitra dalam Kamus Standar Bahasa Madura-Indonesia (2009) mengodifikasikan kata sendèl dengan arti sindir (dengan berpantun). Pantun diletakkan dalam kurung. Arti dasar dari sendèl adalah sindir. Dengan demikian, bisa dikatakan pantun hanyalah sarana, media, bukan wujud sendèlan itu sendiri. Meskipun, Pawitra kemudian memberi keterangan tambahan yang bersifat sirkular, asendèlan disamakan dengan berpantun (dengan sindiran).

Merujuk kamus bahasa Madura yang lebih tua, Madoereesch-Nederlandsch Woordenboek (1904), H.N. Kiliaan, menulis kata sendèlan dengan sendilan, kata turunan dari bentuk dasar sendil. Kata itu secara etimologi berasal dari bahasa Melayu, sindir. Namun, berbeda dengan Pawitra, pada sublema asendilan Kilian tidak mengaitkannya dengan pantun. Dengan jelas dinyatakan bahwa verba asendilan memiliki arti menyindirkan perasaan cinta dengan lagu.

Menarik untuk ditelusuri. Sebab, jika hanya mengacu pada lema sendil, dugaan yang muncul ialah, sendèlan merupakan lagu cinta, nyanyian kiasan perasaan sayang, sama sekali tidak ada hubungannya dengan pantun. Namun, ketika memeriksa lema pantun pada kamus bahasa Madura pertama itu, dugaan sendèlan tidak memiliki keterkaitan dengan pantun ternyata meleset. Kiliaan mengartikan pantun sebagai nyanyian bersajak.

Mengartikan pantun sebagai nyanyian memunculkan dugaan lain, bahwa orientalis dari Belanda itu mungkin melakukan kesalahan. Dugaan itu berlebihan. Dalam Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik (1975), Liaw Yock Fang menyebutkan bahwa pantun pada mulanya adalah senandung atau puisi rakyat yang dinyanyikan. Jadi, jelas pengertian yang diberikan Kiliaan itu tidak ngawur.

Pengertian sendèlan dan atau pantun sebagai nyanyian dapat dijumpai realitas kontekstualnya dalam tradisi lisan masyarakat Madura. Sebut saja misalnya lagu ”Kaos Kotang” atau ”Sèr-kèsèran”, nyanyian rakyat ”Ler-saaler”, dan juga ”Nang-konang Bu’u’.” Perhatikan lirik berikut ini: Nang-konang bu’u’ coḍhut nyarè gheḍḍâng/ Na-kana’ nyarè embu’ taghuḍhuk ka bâng-labâng. Jika diperhatikan lebih lanjut, struktur lirik nyanyian rakyat tersebut memiliki kesamaan struktur dengan pantun: terdiri atas sampiran dan isi, dengan persajakan sejajar.

Struktur pantun seperti itu, seperti yang sudah disampaikan di atas, termasuk pantun kilat atau karmina. Eko Sugiarto dalam Mengenal Sastra Lama (2015) menyejajarkan karmina dengan parikan dalam kesusastraan Jawa. Sugiarto bahkan menjelaskan, berdasarkan pendapat sejumlah ahli, kata pantun berasal dari bahasa Jawa, yaitu pantun atau pari yang dalam bahasa Melayu sama-sama berarti padi. Istilah parikan juga terserap ke dalam bahasa Madura, yaitu parèghân yang artinya kurang lebih sama dengan pantun.

Kembali ke sendèlan. Selain dalam kamus Madura-Belanda dan kamus Madura-Indonesia, kata sendèlan ternyata juga sudah masuk dalam KBBI digital edisi V. Dalam KBBI, lema sendèlan diartikan pertukaran pantun, syair, atau tembang yang sering disisipi peribahasa dan umumnya sambil dilagukan dan dilakukan beberapa orang dalam upacara adat tertentu. Jadi, pantun, juga sair hanya menjadi alat atau media pertukaran pesan. KBBI menempatkan sendèlan lebih sebagai performa, pertunjukan.

Konsep berbalas pantun sebagai pertunjukan bukanlah hal ganjil dan asing. Dalam Pengajaran Sastra Teknik Mengajar Sastra Anak Berbasis Aktivitas (2010), Taufik Ampera memasukkan berbalas pantun sebagai bagian dari teknik bermain peran. Posisi pantun dalam hal ini bisa disejajarkan dengan dialog dalam drama. Dalam konteks itulah, kurang lebih, ”Lèbur: Pementasan Kesenian Tradisional Sendèlan Madura,” karya Putra Mulya Nurjaya diposisikan. Dengan kata lain, sendèlan diposisikan sebagai pertunjukan pantun Madura. (*)

*)Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Bangkalan

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#sindiran #pementasan #pantun #sendil #nyanyian bersajak #madura