Oleh HIDAYAT RAHARJA
PAMERAN Seni Lukis Madura ”Tompengan” berlangsung di ruang Galeri Prabangkara, Taman Budaya Surabaya pada 10–16 Juni 2024. Pameran ini melibatkan 43 pelukis Madura dari berbagai usia mulai dari Generasi X sampai Gen Z dengan jumlah lukisan sekitar 54 karya memenuhi dua sayap ruang Galeri Prabangkara di Taman Budaya Surabaya, Jalan Genteng Kali 85 Surabaya.
Beberapa pelukis tersebut, antara lain, Taufik Rahman, Ochez Sumantri, Fiki Moo, Haris Dhuro, Wahyu NR, Sumantri Hotsu, Farid Wadjdi, Fendi Ompong, Fendi, Misnaya, Ginaya, Falya Artama Josium, Thofa Zain, Nadya Shofwah Fillaili, Sigit Purnomo, As’art Ashari, Marsiono, Akhmad Ludfi, Moh. Ali, Vicky Arisandy, Ahmad Yulius Handayani, Salwanida Putih Shafiyyah, Eros van Yasa, Kak Herry, Hendri R Sidik, Satuman Ashari, Budi Cahyanto (Alm), R. Fajar Iriadi, SA, Steffany Kinar Maheswari (Kinar), Ach. Suherman, S Rijal, Malwa Senandung Kinanti (Kinan), Rimbi Ariraja, ST., Feeza, Tuti May, Syahrul Hanafi, Johan Wahyudi, Juhari, Zaenab Zuraida, M. Firdaus Tsany Akbar, Agus Supriyadi, Fatechatoel Hoeda, Henry Sukamto.
Pameran ini merupakan sebuah reuni bagi beberapa pelukis generasi X yang pernah melakukan pameran bersama pada 1990-an. Di antaranya; Ochez Sumantri, Fajar Iriadi, Farid Wadjdi, As’art Ashari, Satuman Ashari. Namun, yang lebih penting dalam pameran ini adalah pertemuan silaturahmi antar generasi di Madura.
”Tompengan” ini merupakan pameran yang menjalin kembali hubungan silaturahmi antargenerasi, mulai dari generasi Baby Boomer sampai dengan generasi Z. Sebuah bentangan waktu yang membangun dinamika perkembangan seni lukis di Madura. Taufik Rahman, Farid Wadjdi, Ochez Sumantri, R. Fajar Iriadi, As’art Ashari adalah pelukis senior di Madura yang telah lama eksis dengan karyanya dan telah berpameran di berbagai wilayah Indonesia dan bahkan di antaranya ada yang berpameran di Singapura, Malaysia, dan Hongkong.
Di antara mereka selama ini tidak terlihat di permukaan, namun karyanya cukup mengejutkan, sebut saja misalnya; Akhmad Ludfi, Sigit Purnomo dengan karyanya yang khas cukup menarik untuk dicatat. Akhmad Ludfi seorang guru SD, lulusan STKW (Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta) Surabaya. Ludfi cukup kental dengan budaya pesisir. Pelukis asal Pamekasan ini menampilkan lukisan masyarakat pesisir, terlihat gerakan ikan yang sangat dinamis dalam kanvasnya di antara kesibukan ibu-ibu melakukan aktivitas. Kehidupan kaum ibu dan anak-anak di pesisir. Ludfi mampu menghidupkan karakter di dalam kanvas.
Eros van Yasa menampilkan lukisan dengan bahan mixed media di atas kanvas. Lukisan Ayam Cemani, ayam berwarna hitam legam yang bertarung dengan menggorok jantungnya sendiri. Jantung yang terbuat dari baja. Ayam jantan tersebut terkapar, berdarah. Melihat lukisan ini, saya seperti melihat cermin diri yang kalah bertarung melawan diri sendiri.
Sementara Sigit Purnomo dalam pameran ini menampilkan dua lukisan yang senada namun berbeda persoalan salah satu lukisannya ”Komposisi Up” akrilik di atas kanvas ukuran 120 x 90 cm. Lukisan yang menggambarkan seragam PGRI didominasi warna putih hitam dan warna biru seperti motif seragam IGI. Gambar yang menyimbolkan dua organisasi guru di Indonesia. Cukup menarik. Pada luksian lainnya Sigit menampilkan gambar seragam PGRI digantung di kapstok warna merah. Gantungan yang tidak sempurna karena posisi baju dicangkingkan ke badan kapstok dengan latar hitam dan posisi baju seragam jomplang. Sigit alumnus ISI (Institut Seni Indonesia), kini menjadi guru di SMPN 2 Pamekasan, sangat khas dalam karyanya mengangkat persoalan-persoalan yang ada di sekitar untuk direnungkan bersama. Karya bukan hanya gambar, tetapi menyisipkan persoalan-persoalan yang tengah berkelindan di sekitar.
Ochez Sumantri dengan garis dan warna yang khas menampilkan ekspresi seorang gitaris tengah memetik gitar dengan wajah sangat ekspresif. Lukisan berjudul ”Semua tentang Jiwa.” Goresan garis dan warna yang khas. Saya katakan sebagai tarikan garis Ochez.
Taufik Rahman pada lukisan ”The Controller”, pewarnaannya lembut antara warna biru muda cerah dan putih bermain-main dengan simbol naga. Sebuah lambang yang banyak memengaruhi mitologi masyarakat di dunia timur. Bahkan, simbol naga ini sangat familier diletakkan sebagai hiasan di wuwungan rumah tradisional Madura yang dipengaruhi unsur budaya Tiongkok. Sekarang hiasan naga ini banyak ditemukan di beberapa pintu gerbang kelenteng yang ada di Indonesia. Sementara dalam primbon masyarakat Madura, naga disimbolkan sebagai malapetaka jika kita bepergian pas menghadap ke arah mulut naga maka kesialan akan menimpa. Namun akan menjadi keberuntungan jika langkah kita searah dengan jalan naga. Di masyarakat agraris Madura, naga merupakan salah satu simbol binatang yang sangat mistis.
Sumantri Hotsu cukup lama berkecimpung dalam dunia seni lukis. Pada pameran kali ini menampilkan lukisan tentang kehidupan nelayan, yaitu perempuan penjual ikan yang sering ditemuinya setiap berangkat kerja. Bentuk figur tubuh orang yang digambarkan Sumantri cukup unik dengan bibir yang tebal dan permainan pecahan cahaya yang khas.
Fiki Moo (Fiki) memindahkan lukisan mural ke atas kanvas. Sangat menarik karena ia telah memperkecil bidang luas di atas tembok ke atas permukaan kanvas. Tentu ini sangat menarik dengan keunikan Fiki dengan simbol sapi (moo) yang ada dalam setiap lukisannya. Tidak banyak pelukis Madura yang menekuni lukisan mural di atas kanvas ini, sehingga terbuka bagi Fiki untuk melakukan eksplorasi.
Misnaya sangat kuat dengan lukisan potretnya. Kali ini menampilkan lukisan yang menggunakan api pembakaran di atas lembaran kayu. Beberapa tokoh nasional menjadi salah satu objeknya yang sangat menarik. Misnaya cukup menarik dengan lukisan-lukisan realisnya.
Salah satu lukisan kaligrafi dalam pameran ini karya Marsiono, kaligrafi Al-Qur’an surah Al Ikhlas dengan warna hijau muda menyala berpadu dengan warna merah dan cokelat.
As’art Ashari dengan lukisan dekoratif warna biru, merah, dan putih berupa ornamen seperti topeng yang diberi judul ”Sangkolan.” Apakah As’art tengah mengungkit seni topeng yang mulai pudar di tengah perkembangan seni pertunjukan modern saat ini? Entahlah.
Lukisan Kak Herry sangat menarik dengan gambar-gambar perahu khas Madura berwarna hijau, merah, putih, dan biru. Herry cukup kental dengan nuansa Madura. Yang saya lihat cukup menarik dengan komposisi perahu di pantai.
Satuman Ashari dengan lukisan berjudul ”Istighrof,” menggambarkan seseorang memeluk ujung perahu di antara gelombang laut yang menggelegak. Menggambarkan kepasrahan di tengah kecamuk gelombang menghantam perahu yang ditumpanginya. Warna-warna cerah, kuning, merah, hijau dengan motif orang dan ikan yang unik. Ia sudah tidak terikat ke bentuk formal, tetapi lebih menukik pada bentuk-bentuk visual yang unik, dan menjadikan khas Satuman Ashari.
Hendri R Sidik masih konsisten dengan permainan garis dekoratif yang membentuk objek tertentu. Garis yang bergerak melingkar, dan kadang lepas seperti gerakan tubuh terpusat pada satu titik dipenuhi getaran ritmis memancar dari pusat tubuh.
Mungkin untuk menandai kehilangan dari Sampang juga menampilkan lukisan karya almarhum Budi Cahyanto. Pelukis Sampang yang meninggal di usia muda. Beberapa karyanya tengah mencari format, namun Tuhan lebih dahulu memanggil kembali kepangkuan-Nya.
Pelukis-pelukis dari Bangkalan cukup menakjubkan, ada sekitar 13 pelukis dalam pameran ini dan di antara yang senior ini cukup menarik perhatian, di antara mereka menampilkan beberapa budaya khas Madura dari bentuk rumah, dan kebiasaan dalam kehidupan bermasyarakat. Kecintaan mereka pada budaya karapan sapi tampak pada lukisan A. Rijal dengan judul lukisan ”Tambenah Ateh” seorang remaja laki-laki tengah memegang tali tongar sapi. Seorang perawat Sali dan tukang tongkok sapi karapan. Lukisan realis yang sangat proporsional seperti fotografi.
Johan Wahyudi dengan lukisan ekspresif menggambarkan suasana karapan sapi dalam lukisan berjudul ”Berpacu Menembus Batas”. Sedangkan Tuty May melukis acara ”Marlamar”, sebuah visual yang menggambarkan orang Madura tengah melamar gadis perempuan. Sebuah komposisi yang cukup unik karena Tuty May mengambil perspektif pandangan mata burung, tatapan dari atas, sehingga terlihat kerumunan orang, dan atap-atap rumah tradisional Madura.
Juhari menampilkan sosok seorang penari perempuan dengan pakaian kemban warna merah dan selendang di tangan. Agus Supriyadi dengan detail menggambar burung ruak-ruak yang ada di belukar. Ia amat dekat dengan alam. Fatechatoel Hoeda menggambarkan seorang anak sedang menggambar kaligrafi bertuliskan Allah. Cukup simpel lukisan itu diberi judul ”Mengenal”.
Satu yang berbeda dalam pameran ini, yakni lukisan yang ditampilkan R Fajar Iriadi, SA. Ia tidak lagi menggambarkan wujud, tapi melukis dengan menampilkan rasa. Karya Mas Ir, begitu saya memanggilnya, menggunakan bahan limbah di lingkungan. Bahan-bahan limbah yang ditemukan di lingkungan sekitarnya dijadikan bahan lukisan Mas Ir. Sesaat lukisan tersebut seperti hamparan limbah yang tergenang di atas kanvas. Seperti arus sungai yang tak bisa lagi bergerak karena aneka limbah yang memenuhi mulut sungai. Bagi saya, persoalan yang paling krusial dari Mas Ir adalah daya tahan bahan. Artinya, ada bahan yang rapuh dan rusak dalam waktu yang tidak lama. Saat ini Mas Ir mengeksplorasi limbah plastik dalam karya-karyanya.
Para pelukis senior di Madura menunjukkan daya tahan mereka dalam menghadapi seleksi alam. Mereka masih bertahan dan berkarya sejak 1990-an hingga saat ini. Melukis sebagai bagian dari kehidupan. Sebuah dinamika kreativitas yang terus bergerak dalam bentangan waktu. Farid Wadjdi, Taufik Rahman, Kak Herry, Hendri R Sidik, Ochez Sumantri adalah nama-nama di antaranya yang bergumul dalam percaturan seni rupa kontemporer di Madura.
Salah satu perupa perempuan dari Bangkalan, Zaenab Zuraidan, tampil memukau dengan pertunjukan instalasi berjudul ”Masa Itu”. Pertunjukan Bu Zaenab, begitu ia dipanggil, cukup memukau. Ia berkolaborasi dengan musisi dari ISI Mas Memet Chairul Slamet memainkan suling mengiringi pertunjukan Bu Zaenab mengenang masa kanak-kanaknya, masa bermain. Ia bermain-main dengan tembikar, lidi dan cobbhu’. Bu Zaenab seperti membentangkan kenangannya di atas kain hitam di atas meja. Serakan lidi-lidi dan tumpukan tembikar mengisi seluruh ruang bidang, seperti kenangan yang tumpah di hamparan waktu.
Dalam bentangan waktu tiga dekade, perkembangan seni lukis di Madura menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan. Perkembangan yang ditandai dengan lahirnya berbagai komunitas dan kolektif di Madura. Beberapa komunitas yang lahir di pesantren seperti komunitas perupa di Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep; Ponpes Assirojiyyah, Kajuk, Sampang; Sanggar Madurese, Bangkalan; Sanggar Mbah Kung Art, Sampang; Kelompok Perupa Sumenep (Klops); Art Line (Sumenep); Kelompok Seni Rupa Bangkalan (Seruba); Kelompok Perupa Sampang (KPS); dan Alzheimer (Pamekasan). Selain itu ada beberapa pelukis Street Art yang cukup familier di Madura; Fiki Moo, Balisme, Bushi, Edshone, Jend, Reckcnvs, Stanbai, Thumb, dan Fard. Karya-karya mereka banyak menghiasi ruang terbuka.
Gen Z dalam Seni Lukis Madura
Ada yang luput dari perhatian kita dalam pameran Seni Lukis ”Tompengan”, hadirnya generasi baru, Generasi Z. Mereka yang lahir 1997 sampai 2012. Ginaya, Falya Artama Josimun (Falya), Nadya Shofwah Fillaili, Steffany Kinar Maheswari (Kinar) Burung Hantu, Malwa Senandung Kinanti (Kinan), Feeza -Keluarga Blater, Salwanida Putih Shafiyyah judul ”Kamu”, M. Firdaus Tsany Akbar.
Keberadaan pelukis-pelukis muda belia ini seakan menjadi penanda sebagai penerus generasi pelukis di Madura. Generasi baru yang hadir di tengah perkembangan teknologi digital dan perkembangan media sosial yang tidak terbendung. Maka, tidak berlebihan jika karya-karya (pemikiran) mereka berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Generasi yang hadir dan dipengaruhi media sosial sebagai bagian lingkungan yang begitu akrab dalam kehidupan mereka.
M. Firdaus Tsany Akbar pelukis belia dengan kekuatan pada bentuk dan warna seperti tampak pada lukisan berjudul ”Merak.” Burung indah yang menjadi simbol keindahan yang agung, pelindung dari bahaya dan pengaruh buruk.
Ginaya, salah seorang pelukis perempuan seusia SMA menghadirkan lukisan yang berjudul ”Doa Kesedihan”. Gambar dengan dua tangan tengadah dan dililit pita warna merah putih di hamparan warna dekorasi kuning hijau dan beberapa mata yang memandang sedih. Gambaran memohon doa pertolongan atas bencana yang terjadi di muka bumi. Bencana yang menimbulkan kesedihan bagi umat manusia.
”Keterhalangan Cinta” karya Falya Artama Josimun (Falya) mengisahkan gadis yang mencintai robot. Cinta yang terhalang sebagai simbol kekinian ketika anak remaja menyenangi berbagai produk teknologi yang akrab dengan mereka. Falya menggambarkan bagaimana cintanya kepada robot, cinta yang terhalang karena robot sebagai produk teknologi yang mengalami kerusakan. Juga hubungan manusia dengan makhluk mitologi dan sebagai gambaran hubungan yang emosional dan tidak memungkinkan sehingga sangat memilukan.
Nadya Shofwah Fillaili (Shofwah) cukup menyita perhatian dengan lukisannya yang sangat mengejutkan. Goresannya lembut dan permainan warnanya cukup cerah dengan mengangkat tema-tema aktual. Pada lukisannya kali ini ia menampilkan gadis tengah bersolek di depan cermin namun bayangan dalam cermin yang ada di hadapannya memunculkan moncong babi. Di antara objek terlihat tangan memegang handphone mengambil swafoto. Shofwah dengan dunia remajanya yang berada dalam genggaman tangan. Pada lukisan lain yang berjudul ”Mangled” sebuah hubungan antar personal saling bersinggungan, berkerubung dan saling mencabik. Makhluk-makhluk soliter yang merasa terusik dengan kebersamaan, tidak nyaman dan merasa harus meniadakan yang lain.
Steffany Kinar Maheswari (Kinar) masih belia dengan gambar burung hantu di atas pohon. ”Peliharaanku” lukisan Kinar dengan warna-warna cerah dan goresannya tegas menggunakan bahan crayon di atas kertas. Kinar cukup berani memainkan garis, santai, dan menjanjikan.
Salwanida Putih Shafiyyah, pelukis perempuan dari Pamekasan. Salah seorang pelukis anak, karyanya terpilih untuk dipamerkan di Artjog tahun ini. Lukisannya berjudul ”Kamu”. Sebuah vas bunga berwarna cokelat dan bunga mekar. Gambar bunga seperti lazimnya. Namun, ada satu hal yang menarik dari lukisan ini karena pada bagian atasnya ada tiga tangan yang menunjuk (menuding) ke arah bunga dalam vas. Putih, begitu ia dipanggil, terpilih pula sebagai finalis UOB di Jakarta pada 2024.
Sementra pelukis muda perempuan lainnya dari Bangkalan, Malwa Senandung Kinanti (Kinan), lukisannya yang berjudul ”Ngerumpi Jaman Now” melukiskan beberapa emak-emak dengan rambut digelung dan pakaian batik asyik dengan handphone-nya. Mereka bersama, tetapi aktivitasnya fokus kepada HP di tangan masing masing. Ada yang berswafoto dan membaca sesuatu di layar. Kinan cukup lihai menangkap suasana dengan warna-warna cerah dan mampu melukiskan kehidupan saat ini.
Dalam pemahaman masyarakat lokal, blater diartikan orang kuat di Madura, baik secara fisik maupun spiritual, dan biasanya dikenal memiliki ilmu kebal atau kanuragan. Ia bisa menjadi seseorang yang memiliki anak buah, dan kekuatannya bergantung dalam mengelola kekerasan dan kemampuan mengelola anak buahnya. Pemahaman ini berbeda dengan Keluarga Blater yang dilukiskan Feeza di atas kanvas.
Feeza, perempuan kecil dan masih belia lukisannya berjudul ”Keluarga Blater.” Lukisan Feeza menggambarkan satu keluarga, sepasang suami istri dan tiga orang anak. Si ibu memakai pakaian kebaya warna hijau dengan rambut dikuncir dan anak perempuannya berpakaian terusan dan memakai jilbab kuning. Dua anak laki-laki satu yang lebih besar memakai sarung biru dan baju koko warna merah serta sajadah di bahu. Anak laki-laki terkecil dengan pakaian topi pet ke arah samping mengenakan kaus lengan panjang dan si bapak menggunakan songkok hitam tinggi dan baju koko warna hitam. Keluarga blater yang bahagia. Feeza menggambarkan keluarga blater kekinian, sebuah gambaran keluarga di Madura dengan keakraban dan kasih sayang di antara mereka.
Pelukis-pelukis muda yang menjanjikan di waktu yang akan datang. Mereka berani berbicara pada zamannya dengan berbagai persoalan-persoalan di sekitarnya. Permasalahan berhubungan dengan perkembangan teknologi dan media sosial. Suatu keniscayaan karena mereka mampu menangkap lanskap sosial di lingkungan mereka. Madura dengan berbagai pusaran kebudayaan hadir melalui alat komunikasi dan media sosial.
Ada beberapa catatan penting bagi penentu kebijakan di daerah dan sekolah untuk memberikan ruang kreativitas para pelukis belia ini agar bisa maju dan berkembang.
Pertama, pemerintah daerah wajib menyediakan ruang pamer semacam galeri yang menampung karya-karya anak muda ini untuk melakukan ekshibisi. Sampai saat ini belum ada ruang representatif yang disediakan pemerintah daerah untuk dijadikan ruang pamer yang dibutuhkan mereka. Kedua, beberapa pelukis berbakat yang ada di setiap daerah tidak pernah mendapatkan insentif ketika mereka berpameran ke luar kota. Semua biaya ditanggung mereka sendiri. Padahal keberangkatan mereka berpameran di luar daerah otomatis membawa nama daerahnya.
Ketiga, masih ada beberapa sekolah yang enggan memfasilitasi kegiatan seni lukis yang ada di sekolah, karena beranggapan seni lukis kastanya lebih rendah daripada mata pelajaran sains (IPA dan IPS) serta pelajaran matematika. Pandangan semacam ini kerap kali membuat siswa merasa tidak diapresiasi dengan karya-karya yang dihasilkan karena sekolah tidak menyediakan ruang untuk menyimpan karya-karya yang dihasilkan.
Keempat, ruang aula yang ada di sekolah merupakan ruang yang bisa dimanfaatkan untuk memamerkan karya-karya siswa yang bagus dalam momen ekshibisi ataupun dalam Pameran Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) kepada masyarakat luas, bukan hanya kepada orang tua siswa. Apalagi pameran hanya ditonton siswa dan guru di sekolah bersangkutan.
Pameran karya siswa ataupun Pameran P5 bisa menjadi ajang pengenalan sekolah secara terbuka kepada masyarakat luas, sehingga masyarakat punya referensi dalam menentukan pilihan sekolah yang akan dituju. Pelukis-pelukis muda berprestasi ini kelak akan mengemban amanat kebudayaan. Mereka yang secara tidak langsung akan membawa pesan melalui karya-karya yang disebarkan ke hadapan publik. Sangat terbuka kemungkinan-kemungkinan mereka berprofesi di luar bidang seni rupa tetapi membawa nilai-nilai estetika, etis yang akan mewarnai masyarakat yang berbudaya dan beradab. Sebab, belajar seni lukis bukan berarti harus jadi pelukis, tetapi akan menjadi manusia yang lembut, berbudi pekerti luhur dengan memegang estetika, dan etika moral dalam kehidupan bersama.
Dari pameran ini terlihat bahwa Madura memiliki gudang potensi para pelukis yang dapat menjadi duta bagi perkembangan kebudayaan yang ada di daerah setempat. Pelukis yang mampu mewarnai perkembangan peradaban lokal yang menjadi saka guru kebudayaan nasional. Maka, amat disayangkan jika potensi dari gen Z ini tidak berkembang di daerahnya dan jauh dari akar budayanya. Apa pun alasannya, identitas budaya lokal akan menjadi gen (ADN) dalam karya-karya mereka di waktu yang akan datang. (*)
Sampang, Juni 2024
*)Guru, suka menggambar sketsa dan menulis esai, tinggal di Sampang
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti