SUMENEP, RadarMadura.id – Musyfiqur Rahman sudah banyak melahirkan buku terjemahan. Sejak 2017 sampai dengan 2023, lebih kurang ada 20 buku puisi yang dia terjemahkan.
Mulai dari puisi-puisi cinta Abu Nuwas hingga puisi paling romantis tentang ibu sebagai sosok perempuan yang ditulis Nizar Qabbani, penyair Syuriah.
Pria asal Desa Ganding, Kecamatan Ganding, Sumenep, itu mengaku benar-benar dikenal sebagai penerjemah puisi Arab sejak menerjemahkan karya Nizar Qabbani tersebut.
Sebab, mendapat sambutan yang luar biasa dari khalayak pembaca sastra Indonesia.
”Proses penerjemahan buku itu sangat berkesan bagi saya pribadi. Sambutan publik sastra luar biasa. Karena itu pula saya berkenalan dengan para kritikus. Mulai dari Maman S. Mahayana hingga Arif Bagus Prasetyo,” tuturnya.
Karena itulah sampai kini Musyfiq terus berusaha melakukan penerjemahan karya puisi Arab ke dalam bahasa Indonesia.
Dia menggali khazanah yang bahkan sangat jarang dilakukan secara serius.
”Kalau dulu saya intens dengan puisi kontemporer. Sekarang saya memilih fokus mengkaji, menelaah, dan membaca lalu menerjemahkan puisi-puisi Arab klasik,” tambahnya.
Alumnus Madrasah Aliyah Tahfidh (MAT) Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, itu kini sedang memproses menerjemahkan dua karya dari dua penyair era Abbasiyah.
Yakni, pertama Abu Nuwas atau yang dikenal dengan nama Abu Nawas yang legendaris dengan cerita-cerita humornya di Indonesia. Kedua, karya-karya Al-Abbas bin Al-Ahnaf.
”Proses sebenarnya. Tinggal menunggu endorse dari tokoh, lalu naik cetak. Itu yang saya lakukan sekarang. Ada lagi, yaitu Al-Mutanabbi, tapi tidak terlalu intens saya baca,” ucap dia.
Dia menyukai puisi Arab, salah satunya, karena bagi dia puisi adalah kebudayaan paling murni. Jika puisi dihapus dari sejarah dan peradaban, maka kebudayaan Arab terasa kosong.
Sebab, salah satu alasan kitab suci Al-Qur’an diturunkan bagi umat muslim, kata Musyfiq, untuk melawan seni puitika bangsa Arab.
”Mungkin dalam tradisi kita, penyair kurang ditempatkan secara proporsional. Dia dinilai tidak memiliki peranan yang kuat dalam sejarah peradaban. Artinya, kalau toh dihapus, Indonesia mungkin akan baik-baik saja. Tapi, kalau di Arab, peradabannya akan kosong,” terangnya.
Dengan begitu, jika belajar membaca maupun menerjemahkan puisi berbahasa Arab, otomatis juga belajar tentang satu konsep pemahaman dalam Al-Qur’an.
Artinya, betapa sentral dan pentingnya puisi dalam upaya memahami peradaban. Khususnya bangsa Arab dan Islam itu sendiri.
”Sederhananya, kalau puisi Arab dihapus, satu konsep pemahaman dalam Al-Qur’an itu hilang,” pungkasnya. (di/luq)
Editor : Fatmasari Margaretta