Oleh AINUL YAQIN
”MEMBELI sebuah buku berbeda dengan membeli sebuah baju, dalam hitungan waktu ia akan lusuh bahkan tak pas lagi dengan tubuh pemakainya. Namun buku tidak, selagi ia terus dibaca dan dirawat, pengetahuan di dalamnya akan terus abadi dalam kepala pembacanya.” Tukas seorang rekan sesama penjaga stan bazar buku saat bercengkerama dengan pelanggan.
Tiap kali mengamati antusiasme para santri berburu sebuah buku, agaknya lebih mengesankan daripada sekadar war takjil untuk kebutuhan perut seperti kehebohan para non-Islam di bulan puasa beberapa waktu kemarin. Uang saku pas-pasan dari orang tua untuk kebutuhan beberapa waktu ke depan selama di pesantren, rela mereka sisihkan puluhan hingga ratusan ribu rupiah demi suatu kegiatan mulia yaitu membaca.
Menggelar bazar buku merupakan rutinitas yang kami lakukan sesama pencinta buku tiap ada perayaan spesial di pesantren, seperti Festival Hari Santri Nasional (FHSN), HUT Kemerdekaan RI, hingga tahun ini saat perayaan akhir tahun pelajaran Madrasah Diniyah atau Haflatul Imtihan Madrasah Diniyah Annuqayah Latee (Hamdala), kami konsisten dengan kegiatan serupa.
Karena bazar yang kami gelar berada di lingkungan pesantren, sudah pasti pelanggan setianya adalah santri dan mau tak mau harga yang kami patok haruslah sesuai jangkauan isi dompet mereka. Upaya kami ternyata tidak sia-sia, 50–100 eksemplar buku dengan berbagai judul, ludes setiap malam dari total 2.000 lebih eksemplar buku dengan 400 judul yang tersedia. Buku yang kami jajakan datang dari beberapa distributor buku di Kecamatan Batang-Batang, Sumenep dan Surabaya. Merekalah yang menyediakan buku berkualitas dengan harga terjangkau. Pilihan genrenya pun bermacan-macam. Ada Sastra, psikologi, keagamaan, politik, ekonomi, hingga filsafat berjejer rapi dengan berbagai buku lain.
Pribadi santri yang dikenal sebagian khalayak adalah golongan yang saklek dengan pengetahuan agama—seakan mereka dicap konservatif dan kurang menerima berbagai produk keilmuan nonagama. Kenyataannya tidak, penilaian saya mengamati antusiasme mereka memilih bermacam judul buku filsafat, sastra, politik, dan psikologi mematahkan stigma yang beredar dan mengukuhkan orang-orang pesantren sebagai pribadi yang welcome terhadap berbagai macam pemikiran, selama itu tidak menerobos rambu-rambu agama dan etika sebagai pegangan hidup.
Tidak menutup kemungkinan ketika mereka nanti melebur di tengah masyarakat, persoalan yang muncul tak melulu tentang praktik ibadah semata. Perihal tata kelola masyarakat, sistem perekonomian di pasar, dan persoalan rumit lainnya tak akan didapat secara kompleks pada pelajaran agama. Sudah bukan masanya orang-orang pesantren ”dikotomis” terhadap segala produk keilmuan yang dilahirkan. Semua cabang ilmu pengetahuan sama-sama penting dipelajari—hakikat tujuannya pun sama, yaitu untuk menjawab segala dinamika yang terjadi.
Lebih jauh, kala saya memperhatikan antusiasme santri dengan memilah buku-buku yang berjejer, lantas terngiang di kepala ujaran Khaled Abou El-Fadl dalam bukunya Conference of the Books bahwa belanja buku berarti terus menyemai ilmu pengetahuan agar tak pupus oleh waktu hingga usia si penulis terus mengekal bersama aksara-aksara yang ditulisnya.
Tak dapat dipungkiri, begitu cepatnya arus digitalisasi membuat keberadaan buku cetak kian terancam lewat masifnya sumber informasi berbasis digital. Publik tak perlu lagi menggali informasi dalam halaman per halaman buku, cukup sekali klik, dalam sekejap akan muncul di layar beranda gawai. Tak heran, Tom Nichols dalam bukunya The Death of Expertise mengkhawatirkan banjir informasi di internet membuat sekelompok besar orang di Amerika kurang percaya lagi pada produk keilmuan para pakar. Semua sudah tersaji lengkap di internet hingga pertanyaan seputar kesehatan jantung semisal, tak perlu lagi konsultasi pada dokter ahli atau membaca buku-buku medis. Cukup tanya ke internet, sepersekian detik akan terjawab.
Kegelisahan juga terjadi di pasaran. Maraknya buku-buku digital atau E-Book yang dikomersialkan mengancam keberadaan perusahaan cetak atau penerbit buku. Publik sudah semakin dimanjakan dengan tak perlu lagi menenteng buku ke sana kemari, karena bacaan sudah tersimpan rapi di gawai dan laptop yang mudah dibawa ke mana pun. Dampaknya, percetakan pun beberapa ada yang tetap bertahan atau terpaksa gulung tikar sebab keberadaan mereka kian tersisihkan. Padahal buku versi cetak lebih nyaman dibaca ketimbang E-Book. Entah apakah cuma saya yang merasakan, ketika membaca buku cetak sensasi yang saya rasakan adalah santai dan asyik ketimbang menatap lama-lama ribuan bahkan jutaan kata dalam layar gawai yang ujung-ujungnya membuat mata sakit.
Baca Juga: Menelaah Ulang Slogan Guru Penggerak
Belum lagi dengan persoalan buku-buku yang diterbitkan secara ”haram” atau buku bajakan—hasil jarahan dari penerbit asal dan diterbitkan percetakan atau penerbit yang tidak memenuhi izin. Buku-buku yang diterbitkan secara ilegal itu akan dijual dengan harga tak wajar; jauh lebih murah dari harga normal ditambah kualitas cetak yang di bawah standar. Setuju tak setuju perkara tersebut adalah ”pembegalan intelektual”. Bagaimana tidak, keringat penulis yang diperas dalam menghasilkan suatu karya, dikomersialkan secara tidak terhormat oleh penerbit maupun oknum yang tidak bertanggung jawab demi meraup keuntungan.
Ilmu pengetahuan sangat mulia, seharusnya digali dengan cara yang juga mulia, yaitu membeli buku asli dari penerbit yang tepercaya atau meminjam kepada orang terdekat bila ekonomi tak mencukupi untuk membeli. Saya mengiyakan ujaran seorang teman, ”buku tak hanya mengangkat martabat penulisnya, tapi pembacanya pun demikian.” (*)
*)Santri PP Annuqayah Latee, bertugas di stan bazar buku Hamdala 2024.
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti