Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Penyair Asal Madura Sofyan RH. Zaid Luncurkan Dua Buku Sastra Sekaligus

Ina Herdiyana • Sabtu, 20 April 2024 | 01:56 WIB

 

SASTRA SUFISTIK: Buku Khalwat dan Goethe karya Sofyan RH. Zaid, penyair asal Sumenep.
SASTRA SUFISTIK: Buku Khalwat dan Goethe karya Sofyan RH. Zaid, penyair asal Sumenep.

SUMENEP, RadarMadura.idBertepatan dengan bulan Ramadan yang baru saja berlalu, penyair asal Sumenep Sofyan RH. Zaid meluncurkan dua buku sastra sekaligus. Saat dihubungi Jawa Pos Radar Madura perihal alasan meluncurkan dua buku sekaligus, Sofyan menjawab santai.

”Tidak ada niat apa-apa, kebetulan kedua naskah buku tersebut sama-sama rampung. Namun, setidaknya bisa memudahkan orang untuk memesan agar bisa dikirim dua sekaligus,” ucapnya lantas tertawa.

Sofyan lahir di Sumenep, 8 Januari 1986. Tercatat sebagai alumnus Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Guluk-Guluk, Sumenep, dan Falsafah Agama, Universitas Paramadina Jakarta.

Puisi-puisinya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa asing. Salah satunya dimuat dalam buku Oikos Poeti Per Il Futuro (Mimesis Classici Contro, Milano, Italia, 2020). Dia menjadi salah seorang reviewer Penilaian Karya Sastra Unggulan untuk SMA sederajat yang digelar oleh BSNP Kemdibud 2019.

Puisi dan esainya terbit di puluhan buku bersama dan media massa, baik daring maupun luring. Dia beberapa kali memenangkan sayembara kepenulisan sastra seperti Juara II Lomba Cipta Esai Tingkat Nasional Piala H.B. Jassin (PDS HB. Jassin, 2023). Bukunya yang telah terbit adalah Pagar Kenabian (Puisi, 2015) masuk 15 Nominasi Buku Puisi Anugerah Haripuisi Indopos (2015), Khalwat (Puisi, 2024), Kaidah Puisi dan Akidah Kepenyairan (Esai, 2022), Buku Pintar Menulis Puisi (Esai, 2023), dan Goethe: Kajian Sastra Sufistik (Kajian, 2024). 

Buku Puisi

Buku pertama yang diluncurkan adalah Khalwat, Sepilihan Sajak. Buku ini merupakan buku puisi tunggal keduanya setelah Pagar Kenabian (2015). Buku yang berisi sepilihan puisi yang mewakili perjalanan hidupnya sejak awal terkait persentuhannya dengan tasawuf, filsafat, dan puisi itu sendiri. Puisi dalam rentang tahun 2002 hingga 2024. Puisi-puisi yang sebagian besar telah dimuat media dan mengalami revisi untuk keperluan buku ini. Buku yang isinya tersusun ke dalam tiga bagian: Khalwat Pertama, Khalwat Kedua, dan Khalwat Ketiga, yang masing-masing bagian berisi 11 puisi.

 

Salah satu puisinya bertema tentang Sumenep secara umum, yakni:

BULAN BATANG-BATANG

biarkan malaikat kecil itu, perempuanku
terus meliput peristiwa dari reruntuhan waktu
ketika sepatah kata dari wasiat yang kita puja
tiba-tiba moksa dimangsa malam

dan terbitlah

:bulan batang-batang!

putih perak kemerahan cahayanya

seperti bibirmu berkilau

memaksa orang-orang bersaman

meneguknya bercawan-cawan

lalu mereka lupa menusuk matanya sendiri
dengan peniti emas putri jenang
setelah seribu satu kali ayat kesayangan

ditembangkan bersama

sambil mengintip tanpa kedip 
dari lubang jarum paling lancip
menyerupai damar atau jenar

bertumpu pada kaki tunggal

darah mengalir mewarnai riak lombang
membercaki desa-desa, gunung serta gua

tempat para raja dulu bertapa mencari ajisaka 

sementara bulan kian liar melacuri sumekar

anak-anak jadah lahir

isaknya mencubit kesadaran:

inikah peristiwa yang kita abai?

aku menulis jawab pada lembar pasir
dengan ranting takdir jadi syair bersihir

yang dilarang kau baca berulang
takut semua akan pingsan

cukup sekali saja dan mengalirlah

ke tujuh latifah laut atau taman sari

:karena hanya air mengalir

yang bisa jernih

dan malaikat kecil itu, perempuanku
pulang ke jangtungku

bertiwikrama menjadi rindu

gemuruh!

Batang-Batang, 2002/2024

 

Buku Kajian

Buku kedua adalah Goethe: Kajian Sastra Sufistik yang diberi endorsement, salah satunya oleh Berthold Damshäuser, seorang pemerhati Goethe, budayawan serta pengajar di Universitas Bonn, Jerman. Buku ini menunjukkan bahwa sastra sufistik nyatanya tidak hanya dihasilkan oleh seorang muslim, tetapi juga oleh orang nonmuslim yang tertarik pada Islam dan khazanah kesufiannya seperti Goethe, tokoh besar Jerman.

Perjumpaan Goethe dengan Islam melalui jalur sufisme dan sastra sufi. Ketertarikan dan kedekatan Goethe dengan Islam melahirkan spekulasi kemuslimannya yang terus diperdebatkan. Sementara itu, keintiman Goethe dengan Islam, dia abadikan dalam buku puisinya West-Oestlicher Divan (Diwan Barat Timur, 1819).

Dalam buku tersebut, Goethe –baik secara tersurat maupun tersirat– menampilkan puisi-puisi bercorak sufistik meski tidak secara keseluruhan. Aspek sufistik dalam puisi-puisi Goethe terlihat dari tiga sumber utama; Al-Qur’an, Nabi Muhammad SAW, dan Hafiz (sufi penyair dari Persia yang sangat dikagumi oleh Goethe), serta simbol-simbol yang digunakan di dalam puisi-puisinya sebagaimana banyak dijumpai dalam karya sastra kaum sufi. Ada tiga model pendekatan yang dipakai untuk melihat aspek sufistik puisi-puisi Goethe, yakni simbol, doktrin, dan alirannya.

Kedua buku tersebut telah diluncurkan secara simbolis di restoran Sate Senayan, Salemba, Jakarta Pusat, pada pertengahan Ramadan, 31 Maret 2024. Sofyan kini bermukim di Bekasi sebagai editor, founder, dan CEO Taretan Sedaya International Group, pemimpin redaksi Sastramedia.com, dan aktif di komunitas Jagat Sastra Milenia. (*)

 

 

Editor : Ina Herdiyana
#penyair #sumenep #sastra #buku #madura #peluncuran