Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Islam Identitas dan Militansi Kader NU

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 4 Februari 2024 | 16:35 WIB
Suhairi
Suhairi

Oleh SUHAIRI

 

MASIH ingat sinetron Islam KTP yang dibintangi oleh Idrus Madani, Ramdhani Qubil AJ, Lionil Hendrik, dan Martina Aisyah?

Sinetron yang tayang perdana pada 12 Juli 2010 ini masuk kategori Drama Seri Terfavorit pada Panasonic Gobel Awards 2012.

Salah satu tokoh yang menggambarkan isi judul tersebut adalah Bang Madit (Ramdhani Qubil AJ).

Ia merupakan sosok lelaki kaya yang hidup serba berkecukupan. Namun, kekayaan Bang Madit tidak diimbangi dengan nilai Islam terhadap perilaku kesehariannya, walaupun ia adalah seorang muslim.

Ia merupakan sosok lelaki kikir dan suka mencela orang lain. Salah satu karakternya yang sangat kental adalah setiap kali bersedekah kepada siapa pun, ia akan mencatatnya pada sebuah buku besar yang selalu dibawa ke mana pun ia pergi.

Karakter Bang Madit bisa jadi mewakili salah satu karakter manusia pada dunia nyata. Ia sangat kalkulatif terkait amal baik yang ia lakukan.

Ia telah ”mengambil alih” tugas Malaikat Rokib dan Malaikat Atid sebagai pencatat dan pelapor amal perbuatan manusia.

Karakter Bang Madit ini cukup mewakili tema mayor pada sinetron Islam KTP. Sebuah perilaku keislaman tetapi tidak sesuai dengan nilai-nilai keislaman yang sesungguhnya.

Saat memberi sedekah, perilaku Bang Madit bisa menyakiti atau menyinggung perasaan orang yang menerima sedekah. Tak jarang, ia menjadi bahan gunjingan di antara tokoh yang lain.

Kondisi serupa bisa jadi terjadi pada masyarakat modern. Dalam konteks pemilu, sejumlah tokoh memberikan sesuatu kepada orang lain agar orang lain tersebut menentukan pilihannya pada orang yang bersedekah tadi.

Ironisnya, terkadang ia akan meminta sedekahnya itu dikembalikan jika gagal memenangi kontestasi pemilu. Kondisi seperti ini jamak kita temukan utamanya pada saat pemilu tiba.

Islam KTP tidak hanya terjadi pada dunia sinetron. Contoh kisah di atas merupakan bukti nyata bahwa kualitas keimanan seseorang tidak hanya ditentukan pada kartu identitas yang menyatakan bahwa ia adalah seorang muslim.

Islam harus hadir pada perilaku keseharian sesuai konsep yang diminta oleh agama Islam.

Pada era 1920-an, sejumlah tokoh juga memanfaatkan Islam untuk memenuhi kepentingan politik atau pun kepentingan pribadi.

Kondisi ini lebih dikenal dengan Islam lamisan (hanya di bibir saja).

Istilah Islam lamisan muncul sebagai pembeda antara kondisi keislaman yang hanya dijadikan sebagai lipstik dan Islam sejati yang mau memperjuangkan penderitaan rakyat yang sedang dijajah oleh Belanda (Muhammad Rifai, 2009; 95).

Menyiapkan Kader NU Masa Depan

Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi keislaman terbesar di Indonesia. Organisasi ini memiliki andil besar dalam pembangunan bangsa dan negara.

Bahkan, organisasi ini juga ikut memerangi penjajah yang menindas bangsa ini.

Contoh konkret perlawanan KH Hasyim Asy’ari –pendiri NU– terhadap penjajah adalah mengadakan reaksi atas pemaksaan Jepang kepada rakyat Indonesia saat diminta melakukan tradisi seikerei.

Yaitu, tradisi membungkukkan badan setiap pagi sebagai simbol kekuasaan-kekaisaran Jepang.

Beliau menolak tradisi tersebut karena umat Islam memiliki Tuhan yang lebih pantas untuk disembah.

Konsekuensinya, beliau dipenjara selama 4 bulan dan disiksa (Muhammad Rifai, 2009; 71).

KH Hasyim Asy’ari juga melakukan reaksi keras saat Belanda kembali ingin menjajah bangsa ini.

Beliau mendengungkan fatwa Resolusi Jihad yang dikeluarkan Oktober 1945 (Muhammad Rifai, 2009; 71).

Perlawanan beliau terhadap penjajah membutuhkan iktikad yang baik dan niat yang kuat.

Tentu, ini bukan sekadar perlawanan biasa, tetapi perjuangan yang membutuhkan mental kuat.

Militansi dan perjuangan KH Hasyim Asy’ari tersebut bisa dijadikan ibrah untuk mencetak militansi kader NU masa depan.

Kondisi politik tanah air memerlukan perjuangan yang besar agar umat Islam tetap bersatu untuk membangun bangsa dan negara agar tidak muncul istilah Islam KTP atau Islam lamisan.

Atau, jika mau lebih spesifik lagi, agar tidak muncul istilah NU KTP atau NU lamisan.

Terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencetak militansi kader NU masa depan.

Pertama, kader NU perlu membangun kembali semangat jihad pendiri organisasi NU, yaitu KH Hasyim Asy’ari.

Beliau telah berhasil menghadapi dan melawan penindasan Pemerintah Jepang dan Belanda dengan segala konsekuensinya.

Penjajahan tersebut tidak lagi kita temukan pada saat ini. Akan tetapi, peristiwa serupa bisa jadi akan berlangsung sampai pada waktu yang tidak ditentukan.

Maka, kader NU harus mampu mengembalikan roh dan semangat juang untuk melawan penindasan dan ketidakadilan yang dilakukan oleh siapa pun, termasuk oleh bangsa sendiri.

Kedua, kader NU perlu menghargai perbedaan. Bangsa ini merupakan bangsa yang heterogen, baik dari segi agama, sosial budaya, ekonomi, politik, dan yang lainnya.

Perbedaan tersebut cenderung menjadi sumber konflik yang bisa mengakibatkan disintegrasi bangsa.

Sikap tasamuh atau sikap menonjolkan toleransi terhadap perbedaan akan sering sekali muncul di antara keberagaman masyarakat Indonesia (Muhammad Arief Albani, 2021; 41).

Perbedaan yang didasarkan pada rahmatan lil ’alamin akan menjadi khazanah berharga bagi bangsa ini.

Ironisnya, perbedaan yang dimiliki bangsa ini selalu menjadi penyebab terjadinya konflik antarsesama.

Istilah rahmatan lil ’alamin yang kita hafal dan kita pahami maknanya dengan baik tidak sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan.

Memunculkan kembali Islam KTP atau Islam lamisan, sama halnya kita telah kembali pada masa satu abad yang lampau.

Ketiga, kader NU harus menghidupkan NU. Kader NU harus senantiasa menghidupkan organisasi ini agar menjadi organisasi yang disegani oleh siapa pun.

Kader NU harus merepresentasikan visi-misi NU dan dijadikan sebagai bagian dari kehidupan.

Kesamaan antara perkataan dan perbuatan untuk merepresentasikan pola hidup ahlusunah waljamaah akan menjadi sebuah kekuatan untuk menghidupkan NU.

Sebaliknya, penyalahgunaan wewenang ”mencari hidup di NU” akan menjadi bumerang bagi NU itu sendiri.

Keempat, kader NU harus menguasai informasi dan teknologi. Setiap masa memiliki permasalahan tersendiri.

Permasalahan kader NU generasi Z berbeda dengan kader NU pada masa KH Hasyim Asy’ari merintis organisasi NU.

Dari segi media, kader NU generasi Z memiliki peluang yang sangat efektif dalam menyebarkan nilai-nilai keislaman dan nilai-nilai ke-NU-an.

Layanan internet menjadi salah satu penyebab tersebarnya nilai-nilai keislaman dan nilai-nilai ke-NU-an dengan cepat, bahkan laksana kilat yang melesat sangat cepat.

Dengan catatan, kader NU harus bisa memanfaatkan perkembangan teknologi tersebut dengan sangat bijak.

Munculnya anak zaman yang satu ini telah melahirkan dua sisi mata uang; positif dan negatif, sehingga perlu adanya kebijakan dalam memanfaatkannya.

Setidaknya, empat hal tersebut bisa dijadikan renungan bagi kader NU dalam menghadapi masa depan yang sarat dengan tantangan.

Istilah Islam KTP atau Islam lamisan tidak boleh menjelma menjadi istilah baru seperti NU KTP atau NU lamisan.

Islam tidak hanya sebatas simbol, sebagaimana NU juga tidak hanya simbol. Islam KTP cukup terjadi pada tayangan sinetron, Islam lamisan cukup terjadi pada masa lalu.

Untuk membangkitkan kembali semangat Islam dan semangat ber-NU, kader NU perlu membangun kembali semangat jihad pendiri organisasi NU.

Menghargai perbedaan pada bangsa yang heterogen ini, menghidupkan NU dengan merepresentasikan pola hidup ahlusunah waljamaah dan menguasai informasi dan teknologi untuk menyebarkan nilai-nilai keislaman dan nilai-nilai ke-NU-an.

Dengan harapan, kader NU akan menjadi kader militan untuk meneruskan perjuangan pendiri NU dan perjuangan para ulama demi tegaknya agama Islam dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Amin. Wallahu a’lam bisshowab. (*)

*) Dosen IAIN Madura

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#pemilu #NU KTP #Islam KTP #nu #sedekah #Nilai Islam #NU lamisan #kader nu #bersedekah #KH Hasyim Asy’ari #nahdlatul ulama