Oleh UMAR FARUK*
INDONESIA dengan sejarah perjuangan yang amat panjang melahirkan ratusan, bahkan ribuan pahlawan. Saat Indonesia merdeka, dimulai sejak Orde Lama, menjadi satu kebiasaan setiap 10 November memberikan penganugerahan kepada orang-orang yang dianggap strategis dalam perjuangan kemerdekaan. Kebiasaan ini terus dilanjutkan hingga hari ini. Setiap tahun, daerah berlomba-lomba mengusulkan pahlawan masing-masing. Tidak terkecuali Madura yang sejak 2003 mengusulkan tokoh legend bernama Pangeran Trunojoyo. Hanya, tokoh tersebut belum disetujui karena dianggap ada catatan ia pernah berpihak ke Belanda, meskipun anggapan ini masih bisa diperdebatkan dengan perkembangan penemuan data terbaru.
Pada 2023, Madura mengusulkan dua nama. Pertama, Syaikhona Kholil Bangkalan. Melalui pegiat Nahdlatut Turats, jejak kiprah dan rekam karyanya semakin jelas, utamanya dalam bidang keilmuan. Jaringan keilmuannya begitu luas, tercatat hampir semua pengasuh pondok pesantren di Jawa sempat berguru padanya. Seperti KH Hasyim Asy’ari Jombang dan KH As’ad Syamsul Arifin Situbondo yang lebih dulu ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Sedangkan maha gurunya, dua kali pengajuan sejak 2022, tokoh ulama ternama dari Madura yang menjadi episentrum keilmuan Islam Nusantara itu belum disetujui sebagai pahlawan nasional karena ada beberapa data yang belum terpenuhi.
Kedua, Muhammad Tabrani, namanya masih kurang familier, bahkan di tanah kelahirannya sendiri, Madura. Proses penelitian dan upaya pengajuan dilakukan oleh Balai Bahasa Jawa Timur karena konteks perjuangan M. Tabrani berkaitan erat dengan pengusulan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Tokoh kedua ini baru muncul ke permukaan imbas dari upaya pengusulannya. Sebelumnya, nyaris tidak disinggung sedikit pun, baik dalam konteks nasional ataupun lokal.
Terkuburnya nama pahlawan asal Pamekasan ini tidak terlepas dari konteks sejarah yang ada. Sumpah Pemuda yang masyhur dan dijadikan sebagai peristiwa monumental persatuan adalah peristiwa Kongres Pemuda II tahun 1928. Padahal peristiwa tersebut diilhami oleh Kongers Pemuda I pada 1926. Pada tahun tersebut Tabrani muda (21 tahun) secara berani menjadi penanggung jawab utama dalam pelaksanaan kongres. Pada era tersebut tidak mudah menyelenggarakan acara, apalagi bertujuan dalam mengumpulkan gagasan soal persatuan dan kemerdekaan. Namun dengan kecerdikannya, Tabrani mampu mengelabui penjagaan polisi Belanda yang bertugas mengawasi pelaksanaan kongres.
Selain harus lolos dari pengawasan pihak Belanda, Tabrani beserta teman seperjuangannya berupaya keras untuk terselenggaranya kongres tersebut di tengah banyak keterbatasan, termasuk dalam hal logistik. Namun, Tabrani yang dikenal sebagai organisatoris ulung mampu mengatur hingga kongres berjalan dengan lancar tanpa menyisakan utang.
Urgensi peran Tabrani dalam kongres tersebut bukan hanya sukses dalam mengatur teknis acara. Tapi, ia juga turut terlibat menyumbangkan pemikiran. Dalam sambutan pertamanya sebagai ketua kongres, ia mengucapkan secara berani tanpa ragu bahwa ”Kita semua orang Jawa, Sumatera, Minahasa, Ambon, dan lain-lain oleh sejarah ditempa menjadi insan, yang bersatu padu, jika kita ingin mencapai tujuan kita bersama yaitu kemerdekaan Indonesia, Ibu Pertiwi tercinta”. Seandainya kalimat pembuka tersebut terdengar oleh pihak pengawas, sudah dapat dipastikan kongres akan diberhentikan. Namun, sebelumnya Tabrani telah menyiasati dengan mengutus panitia agar pengawas tidak fokus pada setiap penyampaian gagasan di dalam acara.
Selain Tabrani, banyak tokoh muda lain yang turut menyampaikan pidato. Ada Sumarto, Djohan Efendi, S. Adam, termasuk juga Muhammad Yamin dengan judul pidato ”Hari Depan Bahasa-Bahasa Indonesia dan Kesusastraannya”. Dalam pidato 22 halaman yang pada intinya ia menegaskan bahwa bahasa Melayu lambat laun akan menjadi bahasa persatuan dan pergaulan rakyat Indonesia. Dalam resolusi yang ditugaskan kepada Yamin ia mengeluarkan konsep dalam ejaan lama; 1. Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia, 2. Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa satoe, Bangsa Indonesia, 3. Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoengdjoeng bahasa persatoean bahasa Melayu. Pidato dan resolusi Yamin secara umum disetujui oleh Tabrani. Hanya, soal bahasa ditentang secara tegas. Tabrani berpendapat kalau tanah air dan bangsa adalah Indonesia, maka bahasa pun juga wajib Indonesia. Jika belum ada, maka harus kita lahirkan dari kongres ini, tutur Tabrani.
Perdebatan antara Yamin dan Tabrani yang cukup dramatis hingga Tabrani dicap sebagai” pelamun” oleh Yamin. Kemudian harus dilakukan voting, itu pun dengan hasil suara berimbang. Pada akhirnya, polemik tersebut ditangguhkan sampai diputuskan pada Kongres Pemuda kedua dan menghasilkan resolusi yang dikenal dengan istilah Sumpah Pemuda, dan poin ketiga disepakati bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sesuai dengan yang telah diperjuangkan Tabrani. Pada perkembangan sejarah berikutnya, setelah Indonesia masuk pada era kemerdekaan, gagasan Tabrani semakin mendapatkan titik terang dengan diputuskan UUD 1945 Pasal 36 berbunyi; Bahasa Negara ialah bahasa Indonesia. Perjuangan gagasan Tabrani sampai dengan hari ini bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia karena telah mampu mempersatukan dan merekatkan keragaman Indonesia dengan satu bahasa.
Cuplikan sejarah ini harusnya membikin takjub, terutama masyarakat Madura. Karena sampai detik ini, Pulau Garam dengan kondisi tertinggal dari berbagai sektor, ternyata mempunyai tokoh yang berhasil mencetak sejarah bagi bangsanya. M. Tabrani beserta teman seperjuangan berhasil memelopori gagasan penyatuan untuk cita kemerdekaan. Ia asli putra Madura, lahir di Pamekasan 1904. Sejak kecil ia terkenal dengan kenakalan dan kecerdikannya, hingga autobiografinya ia beri judul Anak Nakal Banyak Akal. Mental Maduranya betul-betul menjadi kepribadiannya, tapi sebagai kaum terdidik, keberaniannya tidak lagi pada ujung celuritnya, namun ada pada ketajaman pikirannya yang maju melampaui zamannya. 20 tahun sebelum Soekarno-Hatta membacakan teks proklamasi, M. Tabrani telah mengoordinasi angkatan muda untuk tujuan Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa.
Pada 10 November lalu secara resmi Presiden Jokowi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada M. Tabrani yang diterima langsung oleh putrinya, Amie Primarni. Harusnya hal ini menjadi berita heboh dan disambut meriah, utamanya oleh masyarakat Madura, karena pada faktanya Madura melalui M. Tabrani memberikan kontribusi penting atas kesadaran memulai persatuan dan cita kemerdekaan Indonesia. Sayangnya, sampai coretan kemarahan ini dibuat, nama besar pahlawan Madura 2023 hanya berseliweran di flyer-flyer organisasi dan pemda setempat. Tidak ada yang nampak istimewa dalam keberhasilan lolosnya M. Tabrani menjadi Pahlawan Nasional. Malah terkesan lebih meriah perayaan kelulusan sempro anak kuliahan.
Padahal, penambahan pahlawan nasional baru dari Madura menjadi momen penting dan kesempatan emas bagi setiap pemkab se-Madura untuk mengajak masyarakat, utamanya kalangan muda, untuk mengenal lebih dalam dan lebih utuh sosok pahlawan tersebut. Hal ini dipastikan akan menambah energi baru untuk generasi penerus, sehingga akan lahir pahlawan-pahlawan baru yang akan mengangkat Madura dari status ketertinggalannya.
Informasi sejarah menjadi hal yang sangat penting untuk disemarakkan dalam rangka membangun kepercayaan dan jati diri sebagai sebuah bangsa. Kalau sebelumnya pada saat mengheningkan cipta yang terlintas hanya pahlawan Ibu Kota, hari ini Madura sudah saatnya memberikan apresiasi besar pada pahlawan asalnya. Selain terus menyemarakkan perjuangannya, dirasa perlu juga untuk mengabadikan namanya di ruas jalan utama kota. Sebagai bentuk penegasan kebanggaan masyarakat Madura pada tokohnya. Sebagaimana yang telah kami usulkan pada Pemkab Sampang untuk mengabadikan nama Halim Perdanakusuma di ruas jalan terbarunya (JLS). Sebab, suatu masyarakat yang menelantarkan nama pahlawannya akan terkutuk oleh sejarah dan menjadi mesyarakat yang amnesia bahwa di era sebelumnya telah mencapai kemajuan besar, hingga akhirnya kebingungan mencari formulasi untuk kemajuan masa kini dan mendatang. Salam Jas Merah. (*)
Aktivis Madura Heritage
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti