Oleh IKROM F*
TEMPO hari, saya sempat diajak teman untuk mengobrol tentang buku. Komunikasi di antara kami tidak begitu baik, tapi juga tidak dapat dikatakan terlalu buruk. Kebetulan saat itu saya harus menjaga kegiatan lomba esai di kampus. Satu-satunya yang menarik dari percakapan kami adalah ketika ia bilang tidak tahu dengan nama saya.
Justru wajar, sebagai orang yang baru kenal, perkenalan semacam itu mengalir apa adanya. Bermula dari sinilah, saya teringat akan salah satu cerpen milik Massimo Bontempelli yang berjudul Maharatu. Ceritanya begitu sederhana; tentang seorang anak yang menjadi gila dan melupakan ibunya.
Cerpen itu dimuat dalam sebuah antologi berjudul Sirkus Kuda Tante Rosa. Buku itu hasil dari penyusunan sekaligus penerjemahan oleh Anton Kurnia. Berkat itu, saya yang belum mengenal Massimo Bontempelli sebagai penulis terkenal di Italia, beruntung dapat menyapanya meski melalui sebuah teks.
Di samping itu, berkenalan dengan cerpen Eropa, kita bisa menikmati permainan sisi psikologi dan sains yang sulit diprediksi di bagian cerita. Misalnya pada saat Ibu Cecilia yang dapat bercakap-cakap dengan si buah hati di kamar rumah sakit:
”Kaukah itu, Mama? Terima kasih sudah bersedia melakukan perjalanan panjang. Kuharap mereka memperlakukan mama dengan baik. Itulah keuntungan menjadi ibunda seorang maharatu.”
Pertemuan itu sungguh menyakitkan bagi seorang ibu, yang baru pertama kali menjenguk anaknya dan mendapatinya sedang mengalami gangguan mental paling akut. Perjumpaan ini setidaknya menggambarkan orang gila ternyata memiliki daya ingat kuat sekalipun sedikit. Cecilia masih mengingat ibundanya, tapi ia tidak bisa sadar, bahwa sang ibu tiba di rumah sakit menggunakan mobil bukan kendaraan milik kerajaan. Kita tak perlu tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Cecilia si majenun sejak kecil ini.
Terpenting konsep majenun gubahan Massimo Bontempelli adalah si peracau yang berkhayal. Cecilia hanyalah contoh. Ia bagian dari suatu perumpamaan laku lingkungan di rumah sedari kecil, sehingga membentuk pribadinya menjadi pengkhayal terbaik. Ia punya khayalan bahwa dirinya seorang Maharatu di sebuah kerajaan Theodora. Negeri antah berantah bentukannya sendiri. Khayalan ini tidak bisa kita temukan berasal dari mana; apakah sejak kecil Cecilia sering menonton film atau tidak. Massimo tak menulis tentang itu.
Padahal asal mula Cecilia yang gila ini merupakan bagian dari titik benang merah paling banyak ditunggu oleh pembaca. Mungkin bagian itu menjadi misteri yang sulit dipecahkan. Tentu saja, misteri dalam sebuah cerita, tak hanya merangsang bagi pikiran untuk segera tahu, tapi ia berlaku di hati setiap manusia.
Italo Calvino dalam Maslahat Sastra pernah berujar, penulis Italia punya tiga dimensi yang terbagi wilayah, salah satunya wilayah fantasi. Dalam segmen ini, pembaca tidak akan dilibatkan secara langsung emosinya kepada sebuah teks. Tapi, ia bakal tersangkut pada suatu penerimaan logika yang berbeda, ”berdasarkan objek dan hubungan selain dari kehidupan sehari-hari…”
Serupa terapi Duchenne smile, salah satu tokoh yang pernah diajarkan oleh ciptaan AS. Laksana. Ia punya senyuman tulus dan muncul sebagai bukti fisik kebahagiaan. Agaknya Duchenne memiliki banyak ingatan bahagia. Momen-momen kegembiraan juga bisa dilatih. Dan itu terjadi pada diri Cecilia. Ia punya ingatan bagus tentang rasa bahagia. Setiap kali ia berkhayal, mungkin yang tampak adalah potret dirinya menjadi ratu, punya istana megah dan prajurit setia.
Dengan pikiran itu, Cecilia terlahir dari emosi yang sangat stabil—atau sudah mencapai puncak. Itu sebabnya ingatan kebahagiaannya menjadi salah satu teknik standar dalam meyakinkan ibunya bahwa ia tidak sedang berkhayal atau bermimpi, tapi situasi ini memang benar-benar terjadi. Hanya sang ibu berpura-pura tidak menyadari. Kesibukannya memikirkan Cecilia, yang pada saat kecil sudah dianggap tak bakal mempunyai suami, bisa jadi cenderung membuatnya sedikit depresi dan menjalani hidup terlalu murung.
Dan Sang ”Maharatu” tidak kunjung sadar. Ia terperangkap pada apa yang ia lihat, tidak pada apa yang ia sadari. Kelinglungan itu harus dibayar tuntas oleh si ibu: ia dirawat ke rumah sakit atas saran para tetangga.
Syahdan, beberapa bulan belakangan, si Ibu menjenguknya dan berkonsultasi pada dokter apa gerangan penyakit yang menimpa anaknya. Dokter menjawab semau hati: Cecilia menderita waham. Ia bakal sembuh total setelah dilalui suntikan obat secara coba-coba. Cara kerja dokter seperti itu, uji coba obat baru pada pasien yang baru pula.
Tapi, waham bukanlah penyakit. Barangkali ia bisa dikategorikan sebagai cacat pikiran. Kelainan dalam berpikir yang akan melahirkan keyakinan purba.
Waham ini juga dialami oleh sang Ibu. Ia surut pada kenyataan bahwa anaknya sudah menjadi gila. Khayalan atau mimpi putri sulungnya adalah keniscayaan yang semu. Prasangka Cecilia akan sembuh dari cacat itu—seperti dikatakan dokter—ia hapus.
”Ibunda Cecilia mendapati dirinya di lorong rumah sakit dengan punggung menempel dinding dan tak menyadari bagaimana dia bisa sampai di tempat itu. Seseorang menemukannya dan membawanya menemui dokter yang telah menunggunya. Begitu perempuan tua itu melihat sosok sang dokter, dia bangkit dan berdiri tegak. Sebelum sang dokter bisa mengucapkan sepatah kata, perempuan tua itu berseru dengan suara serak tercekat, ’Dokter, jangan sembuhkan putriku!’”
Sikap seorang ibu yang tega pada putrinya itu menggambarkan kepiluan. Ternyata orang tua—terutama ibu punya batas kesabaran menghadapi sikap penyintas si buah hati. Bagi kita, sikap itu sudah terjadi di masa lalu dan tetap dipraktikkan hingga kini. Tak hanya bunda Cecilia, masih banyak kasus kejahatan yang sudah melampaui akal manusia.
Kata teman, kejahatan-kejahatan itu bukan berawal dari orang tua, tapi juga faktor lingkungan. Argumen teman saya—yang entah ia mengambil teori dari mana—bisa menyimpulkan jika lingkungan sangat berpengaruh pada mindset seorang anak.
Beruntung Cecilia hanya cerita dan kita patut menghargainya sebagai pelajaran berharga. Sama seperti perkenalan saya dengan teman wanita pada waktu itu: ”Kebetulan tidak turun hujan, ya?” Pertanyaannya mula-mula. Hari itu langit terlihat cerah. Saya hanya bergumam, ”Hujan memang tak akan turun, dan mungkin hujan tak pernah datang lagi, sayang.” (*)
*)Aktif di Komunitas Penulis Kreatif
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia