Di Tubuh Sajadah
Zikir-zikir tumpah
Menyapa tubuh-tubuh sajadah
Merayu hamba-hamba Tuhan
Yang masih gundah dengan keluarganya
Doa-doa merayap dari dinding ke jendela
Dari jendela ke plafon rumah
Dan di sanalah ia bertemu dan bertamu
Pada seorang kekasih yang sedang menyeduh rindu
Bandung, 2023
…………………………………
Wajah Sepertiga Malam
Tubuh terbangun dari segala keremukan waktu
Wajah yang dulunya temaram di luar jendela
Kini basah oleh sepertiga malam
Embun-embun suci jatuh ke pangkuannya
Dingin, memeluk sekujur tubuh waktu
Tuhan, terimalah wajah pendosa ini
Di sepertiga malam-Mu yang sunyi
Kata-kata yang menjelma kepompong doa
Telah retak di atas sajadah
Sujud ini begitu larut
Hanya kepada yang Wujud
Tiada malam yang kelam
Selain bermalam dengan-Mu
Bandung, 2023
…………………………………
Panggilan
Kaki-kaki mulai beranjak
Meninggalkan gubuk-gubuk retak
Mendatangi suara itu
Suara yang membuka dan menutup mata
”qad qaa matishalah
qad qaa matishalah”
Panggilan
Panggilan
Panggilan
Mari menghamba pada-Nya
Bandung, 2023
…………………………………
Pada Hening
Pada hening yang bising
Remang-remang cahaya
Berhasil membungkus wajahmu
Yang maha aduh yang maha pengubur pilu
Tak ada suara kecuali bunyi-bunyi puisi ini
Sesekali desir lembut angin mengecup kening
Entah sampai kapan sepi ini terus-terusan
Mengiris-iris sekujur tubuh waktu
Dengan tajamnya sebilah rindu
Luka-luka bernyanyi
Dan menari-nari
Di tengah-tengah puisi ini
Pada hening ini
Aku begitu nakal memujamu
Kepadamu
Untukmu
Memang kamu
Dan hanya kamu.
Bandung, 2022
…………………………………
Di Padang Rumput Itu
Di padang rumput itu, tepatnya di pundak batu-batu
Aku menitip doa-doa dan menutup segala yang resah
Di sanalah beberapa rubaiat kubuat
Dari keheningan sepi dari kedinginan kopi
Dan dari kebisingan obituari
Waktu terus memeluk tubuhku yang bersedih dari kepergiannya
Remuk segala kebahagiaan bersama harap yang sedang merayap di jendela
Sesal menggumpal dalam dada
Di padang rumput itu, burung-burung bercumbu-ria dengan para kekasihnya
Walau tak ada rumah sebagai tempat tuk mereka singgah
Melihatnya; aku cemburu buta, sebagai hamba dari Ia yang Pengasih
Namun mengapa sampai saat ini aku malah jadi benalu diri sendiri
Sedih betul hidup ini layaknya mawar yang diselingkuhi melati dengan kumbang
Layaknya sampah yang disampah-sampahkan oleh sampah peradaban
Layaknya seorang gila yang disuruh pura-pura gila di jalanan
Di padang rumput itu, adalah sebagai tempat pertama
Di mana aku melukis perjalanan tubuhmu dengan angin yang menyapa
Besama tenggelamnya sepotong senja milik Seno Gumira pada pacarnya
Di padang rumput itu, aku begitu nakal merindukanmu.
Bandung, 2023
…………………………………
Nelayan
Lihatlah,
Para orang-orang di sana
Mereka berselimut angin
Dan berbantal ombak
Hidup dengan layar
Yang membawanya
Ke dada samudra
Dengan jala
Yang membuatnya semringah
Ikan dan lokan-lokan lainnya
Adalah doa-doa yang berenang riang
Terkadang maut-maut itu menyambut
Meraba ke sekujur waktunya
Keluarga hanya bisa
Menggenggam sekepal harap
Antara pulang
Dan tak datang
Setidaknya Tuhan
Bersama di atas sampan-sampan
Di keningnya yang keriput
Sungguh terlihat kasih sayang laut;
”aku adalah sebagian dari hidupmu”
Bandung 2023
…………………………………
*) Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung kelahiran Sumenep. Alumnus Pondok Pesantren Annuqayah. Salah satu kontributor antologi puisi Dari Negeri Poci Khatulistiwa (KKK, Jakarta 2021).
Editor : Berta SL Danafia