Melukis Cinta Ayah
ayah mencintaiku laksana hujan memaksa aku tidur
dan ayah selalu berjanji untuk mengirimi
sebuah surat dari air yang haus di musim kemarau.
kadang ayah mencipta cinta dari rotan,
rotan yang menemaniku ketika aku tak ngaji
ternyata di kemudian hari begitu indah dipahami.
ayah, bagiku suara rotan
yang kilat menghilang
pada sebuah sore yang datang
dan tak ada sempurna kukenang
kecuali ayah yang hilang.
Sumenep, 2022
………………………………..
Di Sebuah Tatapan Cinta
Jika cinta adalah pagi di tubuhmu;
maka sudah kulukis jendela waktu
di bola mataku untuk memandangmu.
Sebab jalan pulang di mataku; semacam cahaya kelam berliku
dan jejaknya dipenuhi duri yang tajam ketika harus kunyalakan sumbu lilin
betapa malam menggigil padamu; tubuh yang dingin
seperti hamparan masa lain yang menggambar embus angin.
kemudian kau buka mataku
satu per satu diriku keluar dan menjelma hujan.
mimpiku yang semula bermesra dengan sunyi
ternyata begitu membosankan; kesunyian yang sembunyi
di ladang-ladang padi begitu akrab berjalan di hari-hari yang sepi.
udara menghijau dalam cintaku
malam dan seribu kunang-kunang di kejauhan bersatu dalam rindu
cinta tersesat di tubuhku; membuka pintu-pintu kenangan
dan segala yang hilang bersama angan.
Sumenep, 2022
………………………………..
Di Kamar Ini
di kamar ini
ada cahaya yang buntu
redup menyamar bisu
sedang kita menulis mimpi
dari sekian jejak yang dirawat sunyi.
di antara tidur dan mati
angin berembus dalam keniscayaan
kekal, termasuk kenangan.
di kamar ini
kita seperti bayangan
yang bersetubuh dalam angan
terpeleset ke dimensi jauh
menampi yang pernah rapuh.
Sumenep, 2022
………………………………..
Cinta Musim Panas
dalam tarian angin itu
cinta diam-diam menggumpal
di wajah dedaunan
bernostalgia bersama sunyi
berbantal kata-kata perpisahan.
pada bayang musim gugur
gambar masa lalu mulai melayang
bergentayang ke masa depan
seperti para pemancing
cinta selalu menunggu umpan dimakan ikan.
kekasih, rabalah luka ini
tak perlu kau tangkap kata-kata cinta
sebab sebentar lagi debu akan terbang
dan segalanya cuma kenangan.
Sumenep, 2022
………………………………..
Di Padang Rumput
hijau rerumputan yang bermalam di matamu
telah kujadikan mimpi di hari ketujuh sejak kepergianmu
tak kutemukan bekas penyesalan
yang tertidur nyaman di ranjang
di sana hanya ada bantal
yang sepanjang malam
hanya menidurkan bekas aroma rambutmu.
Sumenep, 2022
………………………………..
Surat Rindu
terdapat setangkai rindu di pohon itu
seperti selembar kertas yang layu
diterpa angin
suara sajak menerobos batin
mengambang di antara nasib dan takdir.
kau tumpuk beban gerimis yang jatuh
di antara bimbang tak berkeruh
ada tangis yang jauh
bukalah pintu,
di luar ada ragu;
tetap terik tanpa mendung
melintang tak berujung.
Sumenep, 2022
………………………………..
*)Kelahiran Sumenep. Alumnus Pondok Pesantren Raudlah Najiyah. Aktif menulis di Komunitas Ruang Makna.
Editor : Berta SL Danafia