Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Puisi oleh Aya Varagita

Hera Marylia Damayanti • Senin, 4 September 2023 | 05:35 WIB
Ilustrasi. (Dok JawaPos.com)
Ilustrasi. (Dok JawaPos.com)

Melukis Cinta Ayah

ayah mencintaiku laksana hujan memaksa aku tidur

dan ayah selalu berjanji untuk mengirimi

sebuah surat dari air yang haus di musim kemarau.

 

kadang ayah mencipta cinta dari rotan,

rotan yang menemaniku ketika aku tak ngaji

ternyata di kemudian hari begitu indah dipahami.

 

ayah, bagiku suara rotan

yang kilat menghilang

pada sebuah sore yang datang

dan tak ada sempurna kukenang

kecuali ayah yang hilang.

Sumenep, 2022

………………………………..

 

Di Sebuah Tatapan Cinta

Jika cinta adalah pagi di tubuhmu;

maka sudah kulukis jendela waktu

di bola mataku untuk memandangmu.

 

Sebab jalan pulang di mataku; semacam cahaya kelam berliku

dan jejaknya dipenuhi duri yang tajam ketika harus kunyalakan sumbu lilin

betapa malam menggigil padamu; tubuh yang dingin

seperti hamparan masa lain yang menggambar embus angin.

 

kemudian kau buka mataku

satu per satu diriku keluar dan menjelma hujan.

mimpiku yang semula bermesra dengan sunyi  

ternyata begitu membosankan; kesunyian yang sembunyi

di ladang-ladang padi begitu akrab berjalan di hari-hari yang sepi.

 

udara menghijau dalam cintaku

malam dan seribu kunang-kunang di kejauhan bersatu dalam rindu

cinta tersesat di tubuhku; membuka pintu-pintu kenangan

dan segala yang hilang bersama angan.

Sumenep, 2022

………………………………..

 

Di Kamar Ini

di kamar ini

ada cahaya yang buntu

redup menyamar bisu

sedang kita menulis mimpi

dari sekian jejak yang dirawat sunyi.

 

di antara tidur dan mati

angin berembus dalam keniscayaan

kekal, termasuk kenangan.

 

di kamar ini

kita seperti bayangan

yang bersetubuh dalam angan

terpeleset ke dimensi jauh

menampi yang pernah rapuh.

Sumenep, 2022

………………………………..

 

Cinta Musim Panas

dalam tarian angin itu

cinta diam-diam menggumpal

di wajah dedaunan

bernostalgia bersama sunyi

berbantal kata-kata perpisahan.

 

pada bayang musim gugur

gambar masa lalu mulai melayang

bergentayang ke masa depan

seperti para pemancing

cinta selalu menunggu umpan dimakan ikan.

 

kekasih, rabalah luka ini

tak perlu kau tangkap kata-kata cinta

sebab sebentar lagi debu akan terbang

dan segalanya cuma kenangan.

Sumenep, 2022

………………………………..

 

Di Padang Rumput

hijau rerumputan yang bermalam di matamu

telah kujadikan mimpi di hari ketujuh sejak kepergianmu

tak kutemukan bekas penyesalan

yang tertidur nyaman di ranjang

di sana hanya ada bantal

yang sepanjang malam

hanya menidurkan bekas aroma rambutmu.

Sumenep, 2022

………………………………..

 

Surat Rindu

terdapat setangkai rindu di pohon itu

seperti selembar kertas yang layu

diterpa angin

suara sajak menerobos batin

mengambang di antara nasib dan takdir.

 

kau tumpuk beban gerimis yang jatuh

di antara bimbang tak berkeruh

ada tangis yang jauh

 

bukalah pintu,

di luar ada ragu;

tetap terik tanpa mendung

melintang tak berujung.

Sumenep, 2022

………………………………..

*)Kelahiran Sumenep. Alumnus Pondok Pesantren Raudlah Najiyah. Aktif menulis di Komunitas Ruang Makna.

Editor : Berta SL Danafia
#Pondok Pesantren Raudlah Najiah #Aya Varagita #sumenep #Komunitas Ruang Makna #puisi #melukis cinta ayah