Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Jangan Bilang Suka Puisi jika Belum Nonton Dead Poets Society

Ina Herdiyana • Selasa, 15 Agustus 2023 | 13:42 WIB

Dead Poets Society, film Amerika yang diadaptasi menjadi novel.
Dead Poets Society, film Amerika yang diadaptasi menjadi novel.
Judul: Dead Poets Society

Produksi: 1989

Sutradara: Peter Weir

Skenario: Tom Schulman

RadarMadura.id –  Halo penikmat film, masih ingatkah dengan Dead Poets Society yang diproduksi pada 1989? Film Amerika yang disutradarai Peter Weir ini sangat menggugah perhatian publik, terutama di jagat kesusastraan. Buktinya, pada tahun yang sama, film ini diadaptasi ke dalam novel oleh N. H. Kleinbaum dengan judul yang sama.

Film ini dimulai dengan cerita tujuh pemuda, yaitu Neil, Todd, Charlie, Richard, Knox, Steven, dan Gerrard. Mereka bersekolah di Akademi Welton. Sekolah tersebut menjunjung tinggi nilai kedisiplinan dan memegang teguh semboyan Tradisi, Kehormatan, Disiplin, dan Prestasi.

Kemudian, datanglah seorang guru nyentrik bernama John Keating (Mr Keating). Kehadiran alumnus Akademi Welton yang pernah mengenyam pendidikan di London itu menjadi gebrakan. Dia membawa perubahan besar di sekolah tersebut. Sistem tatanan kurikulum yang awalnya kaku menjadi sangat menyenangkan.

”Carpe diem, rebutlah hari ini, petiklah mawar selagi sempat, karena suatu hari kita akan mati.” Petikan kata Horatius itu menjadi perkenalan Mr Keating dengan pelajar Akademi Welton yang begitu mengesankan. Kata-kata itu mampu memantik semangat para pelajar sehingga berpemikiran luas.

Guru bahasa Inggris itu memperkenalkan pembelajaran kebebasan berpikir dan berekspresi melalui puisi. Cara-cara tidak biasa dia terapkan di dalam kelas.

Mulai menyuruh murid-muridnya merobek buku 20 halaman pertama analisis Doktor Evans Prichad tentang cara memahami puisi. Hingga cara pandang berbeda dalam melihat dunia.

Murid-murid terpesona dengan cerita-cerita Mr Keating. Mereka mengikuti jejak guru yang unik itu. Setiap malam mereka berlari di atas bukit menuju sebuah gua. Di gua itulah mereka berjumpa, mengenali diri, dan menemukan banyak pemikiran walaupun kadang kala menentang tradisi.

Mereka membaca puisi bukan sekadar untuk keindahan. Lebih dari itu, puisi telah menjelma tenaga gaib yang mengubah mereka menjadi anak-anak muda penuh gelora. Bait-bait puisi yang mereka bacakan menyuarakan kebebasan yang mampu membuka cakrawala kehidupan.

Pemeran

Film berdurasi 128 menit ini diperankan oleh  Robin Williams sebagai guru (Mr Keating), Ethan Hawke sebagai Todd Anderson, Robert Sean Leonard sebagai Neil Perry, Josh Charles sebagai Knox Overstreet, dan Gale Hansen sebagai Charlie Dalton.

Kemudian, Dylan Kussman sebagai Richard Cameron, Allelon Ruggiero sebagai Steven Meeks, James Watterston sebagai Gerrard Pitts, Kurtwood Smith sebagai Mr. Perry (ayah Neil Perry), Norman Lloyd sebagai Mr Nolan (kepala sekolah), dan Alexandra Powers sebagai Chris Noel (perempuan pujaan hati Knox Overstreet).

Penghargaan

Film ini meraih beberapa penghargaan. Antara lain, nominasi Academy Award 1990 kategori Sutradara Terbaik, Film Terbaik, dan Aktor Terbaik untuk Robin Williams.

Pesan Moral

Cinta dan keberadaan diri menjadi modal penting dalam menjalani hidup. Untuk mengejar impian, kenalilah diri sendiri. Lakukan apa pun yang menjadi kehendak hati. Sebab, hanya dengan cintalah kita bisa menikmati kehidupan ini.

Berani mengambil jalan berbeda dengan segala risiko dan penuh tanggung jawab. Seperti dikatakan penyair Frost, ”Ada dua jalan, dan aku mengambil jalan yang tak dipilih orang.”

Carpe diem, dalam bahasa Inggris seize the day, yang artinya petiklah hari menjadi pelecut semangat untuk memanfaatkan kesempatan kebaik-baiknya (tidak menunda-nunda waktu).

Film ini berkaitan erat dengan kesusastraan, terutama puisi. Selain itu, film ini bisa menjadi rujukan sistem pendidikan yang dapat meningkatkan kreativitas siswa. Guru-guru disarankan menonton film ini agar memberikan pembelajaran yang kreatif, terbuka, sekaligus menginspirasi. (in)

 

 

 

Editor : Ina Herdiyana
#film #sastra #puisi #pendidikan #resensi #budaya #dead poets society