RadarMadura.id – Dunia kepenulisan di Madura sangat marak. Tidak hanya didominasi penulis lelaki. Namun, penulis perempuan juga ambil bagian di dalamnya. Berikut rangkuman RadarMadura.id tentang perempuan Madura yang berkiprah di dunia kepenulisan.
1. Muna Masyari
Muna Masyari asal Pamekasan. Dia konsisten menulis di tengah kesibukannya menjadi ibu rumah tangga dan menjahit. Menyukai baca-tulis sejak kecil. Dalam suatu kesempatan, cerpenis yang mengangkat nilai-nilai tradisi dan budaya lokal ini menceritakan pengalamannya dalam menulis.
Baginya, kesibukan bukanlah halangan dalam berkarya. Yang terpenting adalah kemauan serta kepekaan menangkap dan mengelola ide. Dia selalu membuka laptop saat bekerja (menjahit). Jadi, saat menjahit, saat itulah dia menulis.
Muna Masyari meraih banyak penghargaan. Salah satu cerpennya berjudul Kasur Tanah mendapat penghargaan Cerpen Terbaik Pilihan Kompas 2017. Kumcer Martabat Kematian diganjar Anugerah Sutasoma oleh Balai Bahasa Jawa Timur 2020.
Kemudian, kumcer Rokat Tase’ mendapat apresiasi dari Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Buku terbarunya Kembang Selir diterbitkan Diva Press pada Juni 2023.
2. Maftuhah Jakfar
Maftuhah Jakfar merupakan penulis asal Batuputih, Sumenep. Mulai menulis sejak usia SD/madrasah. Menekuni dunia literasi dan mengelola Komunitas Surat Jibril (KSJ) sejak 2021 hingga sekarang. Alumnus Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, ini mengajar di STIA Menarasiswa Pabuaran, Kecamatan Kemang, Bogor, Jawa Barat.
Pengalaman menulisnya banyak terinspirasi dari ayat Al-Qur’an. Terutama di juz 30. Persamaan bunyi, rima, dan iramanya sangat puitis.
Beberapa karyanya terhimpun dalam buku antologi bersama dan antologi tunggal. Buku kumpulan puisi karya tunggalnya berjudul Lubuk Laut terbit 1995. Buku terbarunya Surat Jibril yang diterbitkan Istana Agency 2023 dibedah dalam bincang sastra di Kancakona Kopi pada Juli 2023.
3. Lilik Rosida Irmawati
Lilik Rosida Irmawati yang dikenal dengan nama Lilik Soebari dan El Iemawati merupakan penulis asal Sumenep. Pendiri sekaligus ketua Rumah Literasi Sumenep (2016 hingga sekarang). Menulis artikel lepas/pendidikan, feature, budaya, serta reportase di sejumlah media serta kerap tampil sebagai pembicara, terutama di bidang pengembangan pendidikan dan kebudayaan.
Buku tunggalnya antara lain Berkenalan dengan Kesenian Tradisional Madura (Penerbit SIC Surabaya, 2004), Gai’ Bintang (Disparbud Sumenep, 2009), dan Tikaman Penuh Senyum (Rumah Literasi Sumenep, 2019)
Pada Oktober 2018, mendapat Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Jawa Timur di bidang bahasa dan sastra dalam Gerakan dan Pengembangan Literasi. Pada 2018, meraih penghargaan Sumenep Award 2018 sebagai Tokoh Literasi Sumenep. Tahun terakhir ini, puluhan cerpen dan puisinya banyak dimuat di Jawa Pos Radar Madura.
4. Juwairiyah Mawardy
Juwairiyah Mawardy atau dikenal dengan Joe Mawar merupakan penulis asal Sumenep. Saat ini menjadi pengurus komunitas literasi Kata Bintang sekaligus ketua DKK Ibu Rumah Tangga KPI Cabang Sumenep. Baginya, menulis membutuhkan komitmen seperti halnya cinta dan dengan adanya ruang publik yang luas akan menambah lahan inspirasi dalam berkarya.
Salah satu cerpennya berbahasa Madura termaktub dalam buku TORA yang diterbitkan Jawa Pos Radar Madura pada 2017. Buku tunggalnya antara lain kumpulan cerpen Mati Tua, novel Lelaki Suci, dan novel Bintang Jatuh di Hati Afnani.
Pada 2009, cerpennya berjudul Mati Tua mendapat penghargaan dari Kemendikbud dan diterbitkan pada 2010. Naskah skenario drama radio Buruk Sangka menjadi drama radio favorit yang disiarkan beberapa RRI se-Nusantara. Cerpen Mariah dipublikasikan di majalah sastra Horison dan dibukukan dalam antologi cerpen Perempuan Cerpenis Indonesia Angkatan 2000 dengan kurator sastrawan Korrie Layun Rampan.
5. Benazir Nafilah
Benazir Nafilah merupakan penulis asal Sumenep. Buku antologi puisi tunggalnya berjudul Benazir Nafilah, Memberi dan Hutan (2011) serta Madura; Aku dan Rindu (2015).
Karyanya-karya dimuat di Buletin Tera, Majalah sastra Horison, Majalah KidungDewan Kesenian jawa Timur, Surabaya Post, dan Majalah sastra Kalimas.
Hingga saat ini, Benazir merupakan satu-satunya penulis perempuan asal Madura yang diundang dalam salah satu festival terbesar di Indonesia sekaligus terpilih sebagai 15 penulis terbaik UWRF 2011.
6. Dwi Ratih Ramadhany
Dwi Ratih Ramadhany merupakan penulis asal Sampang. Berprofesi sebagai penulis (full time) dan editor (freelance). Ide kreatifnya dalam menulis banyak terinspirasi dari cerita sang nenek (alm). Tulisannya beragam, mulai cerita dongeng, mitos, sosial, dan gender.
Menulis buku Silsilah Duka (Basabasi, 2019), Pemilin Kematian (PSM, 2017), dan Badut Oyen (GPU, 2013). Pernah mengikuti akademi penulisan novel DKJ 2014, diundang sebagai emerging writer pada UWRF 2015 dan mengikuti Majelis Sastra Asia Tenggara pada 2016. Mendapat Beasiswa Peliputan Program Perempuan Berdaya di Media dari Project Multatuli dan We Lead 2022.
7. Novie Chamelia
Novie Chamelia merupakan penulis asal Pamekasan. Baginya, menulis adalah sebuah meditasi, 1) cara bagaimana mengenal kualitas diri lebih dalam, baik itu kemampuan maupun ketidakmampuan yang dimiliki. 2) cara bagaimana mengindentifikasi atau mengurai masalah yang sedang terjadi dalam kehidupan. Lebih tepatnya, menulis adalah proses awal mencari jalan keluar.
Buku-bukunya antara lain sehimpun puisi Fa, Semudah Bermain Catur, Tak Jalan Maka Tak Sayang, Menjadi Manusia Ka’bah, dan 365 Days. Jungkir Balik Kekuasaan Lalake' merupakan buku karya koaboratif yang ditulis bersama Juwairiyah Mawardy.
Lulusan S-3 Universitas Airlangga Surabaya ini juga merupakan pendiri komunitas literasi Sivitas Kotheka yang aktif menggerakkan literasi di Kota Gerbang Salam, terutama di bidang kesusastraan.
8. Elok Teja Suminar
Elok Teja Suminar lahir dan bermukim di Bangkalan. Menulis puisi, naskah teater, cerita pendek dan novel. Karya-karyanya pernah dimuat di Majalah Sastra Horison, Majalah Sastra Majas, Basabasi.co, lain-lain.
Sebuah novel Odyssey diterbitkan oleh Penerbit Delima (2019). Kumpulan Cerita Pendek Paraban Tuah diterbitkan oleh Penerbit Basabasi (2021). Nominasi Krakatau Award 2017. Sebuah Naskah Teater berjudul Suamiku Bukan Maling pernah disutradarai kemudian dipentaskan dalam ajang festival teater tingkat provinsi di Lampung (2017) dan menjadi juara I.
9. Nurul Ilmi Elbana
Nurul Ilmi Elbana merupakan penulis asal Sumenep. Saat ini menjadi admin di Lembaga Seni & Sastra Reboeng. Selain itu, mengajar di MTs Taufiqurrahman Banuaju Timur, Kecamatan Batang-Batang, Sumenep.
Pada 2015, alumnus UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta ini mendapat Anugerah Seni & Sastra dari Universitas Gadjah Mada sebagai Juara 2 Lomba Manulis Puisi. Buku cerita anak karya tunggalnya, Sigi & Kugi Pantang Menyerah, diterbitkan oleh Lembaga Seni & Sastra Reboeng dan diluncurkan dalam Ubud Writer & Reader Festival pada Oktober 2022. (in)
Editor : Ina Herdiyana