DALAM beberapa literatur disebutkan bahwa orang Madura sudah menjadi pelaut sejak zaman kuno. Abdurrachman dalam Sedjarah Madura Selajang Pandang (1971) menyebutkan, legenda tentang penduduk pertama Madura berasal dari laut yang bernama Raden Sagoro (Pangeran Laut), cucu Raja Medang Kamulan.
Sementara Hamka, yang pernah berkunjung ke Pulau Garam pada 1935 menggambarkan orang Madura sebagai pelaut yang gagah berani. Dalam bukunya yang berjudul Dari Perbendaharaan Lama (2017), Hamka menulis:
”Sudah sejak dari zaman dahulu penduduk Madura, pulau kecil yang berdinding lautan itu, mengarung ombak gelombang, menempuh lautan besar dengan perahu layarnya. Sudah sejak dahulu anak Madura dengan perahunya itu berlayar ke Malaka, Kerajaan Islam.”
Orang Madura bukan hanya dikenal sebagai pelaut andal, tapi juga ikut andil dalam mengembangkan aneka ragam teknologi dan alat transportasi laut.
Jopie Wangania dalam bukunya Jenis-Jenis Perahu di Pantai Utara Jawa-Madura (1980), menyatakan bahwa aneka ragam teknologi dan alat transportasi laut telah dikembangkan oleh orang-orang Jawa, Madura, Bugis, dan Makassar. Akal, pengetahuan, kemahiran, dan pengalaman mereka sudah mampu mengatasi kesukaran-kesukaran alam laut sekelilingnya.
Berbagai bentuk dan jenis perahu layar, baik perahu bercadik, perahu lesung, maupun rakit telah berhasil dibuat oleh orang Madura sebagai kendaraan untuk melaksanakan mata pencaharian hidup mereka.
Di sepanjang pantai utara Madura dan Jawa, tradisi pembuatan berbagai jenis perahu telah diturunkan kepada anak cucu mereka sejak berabad-abad lamanya. Pembuatan perahu-perahu oleh orang Jawa dan Madura didasarkan atas sistem pengetahuan tradisional dan pengalaman yang bersifat akumulatif.
Dan, sampai saat ini orang-orang Madura masih tetap memproduksi berbagai jenis perahu, baik perahu untuk menangkap ikan maupun keperluan niaga. Dengan demikian, bagi orang Madura, laut merupakan tempat mata pencaharian.
Gambaran mengenai kehidupan masyarakat Madura sebagai nelayan juga dapat dilihat dalam lagu daerah Pulau Garam, Tondu’ Majang (Nikmatnya Mencari Ikan): ”Ngapote, wa’ lajarra etangale/ Reng majang tantona la padha mole/ Mon tenggu dhari abit pajalanna/ Mase bannya’ onggu le-ollena/ O, mon ajeling odhi’na oreng majangan/ Abantal omba’ asapo’ angen salanjangnga” (Wahyudi, 2015).
Lagu tersebut menceritakan tentang keteguhan atau kerja keras nelayan Madura dalam menghadapi bahaya di lautan. Lautan diubah sebagai rumah dan sahabat sejati mereka, yang membentuk mereka menjadi sosok pelaut pemberani. Kehidupan nelayan Madura juga dapat dilihat dalam puisi-puisi D. Zawawi Imron, sastrawan dan budayawan Madura.
Dalam puisinya yang berjudul Senandung Nelayan (2010), misalnya, ia menulis: ”Angin yang kini letih/ Bersujud di pelupuk ibu/ Laut! Apakah pada debur ombakmu terangkum sunyi ajalku?/ Oi, buih-buih zaman saling memburu/ Kali ini doaku lumpuh/ Gagal mengusap tujuh penjuru/ Pada siapa ’kan kulepas napas cemburu?/ Jika sebutir air mata adalah permata/ Tolong simpan di jantung telukmu!/ Dari bisik ke bisik perahu beringsut maju/ Jika nanti bulan datang menyingkap teka-tekimu/ Tak sia-sia kujilat luka purba/ Tempat senyum menetes/ Jadi iman dan layar.”
Dalam puisi tersebut, D. Zawawi Imron menggambarkan kehidupan nelayan Madura, yang tidak pernah takut mengarungi lautan, melawan debur ombak demi mendapatkan ikan. Namun, di laut, manusia Madura bukan hanya mencari ikan, tapi juga melakukan aktivitas perdagangan dengan mengirim beberapa komoditas ke pulau-pulau di sekitar Madura, seperti Kangean, Masalembu, Sapudi (sekarang masuk kawasan Sumenep), Surabaya, Situbondo, bahkan ke Kalimantan.
Adapun jenis perahu niaga yang digunakan oleh orang Madura, terutama yang jarak jauh disebut Perahu Lete, terutama banyak berpangkalan di Pelabuhan Kalimas, Surabaya dan Pelabuhan Kali Baru, Jakarta.
Menurut catatan Wangania (1980), Perahu Lete dalam berbagai ukuran besar antara 30 sampai 80 ton merupakan perahu niaga yang khusus digunakan untuk mengangkut balok, papan kayu bahan-bahan bangunan dari Kalimantan ke Pulau Jawa, dan dari Pulau Jawa dan Madura diangkut jagung, beras, gula, dan garam ke pelabuhan-pelabuhan di Kalimantan.
Sejarah masuknya Islam ke Madura juga tidak dapat dilepaskan dari aktivitas pelayaran kemaritiman, meski menurut beberapa sejarawan bahwa proses islamisasi di Pulau Garam melalui Sunan Giri, Gresik, yang merupakan salah satu anggota Wali Sanga.
Namun, tidak kalah pentingnya untuk dikemukakan sebuah informasi yang berbeda di sini bahwa sebelumnya sudah banyak pedagang muslim dari Gujarat yang singgah di pelabuhan pantai Madura, terutama di Kalianget, Sumenep.
Sumenep merupakan kawasan perdagangan yang paling ramai di Madura, di mana para pedagang ini singgah di pelabuhan tersebut. Mereka berdagang keramik, baju, makanan, rempah-rempah, dan lain-lain. Hal tersebut dimanfaatkan para pedagang muslim untuk menyebarkan agama Islam ke daerah singgahan mereka.
Interaksi yang intens antara pedagang muslim tersebut dengan penduduk lokal juga telah membawa pengaruh terhadap kebudayaan dan kepercayaan mereka. Hal ini tampak, misalnya, dari sebuah kisah bahwa di suatu daerah dekat Desa Parsanga, Sumenep, datanglah seorang penyiar agama Islam keturunan Arab–yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Padusan.
Ia memberi pelajaran agama Islam kepada rakyat Sumenep. Apabila seorang santri dinilainya telah mampu mempraktikkan rukun Islam, maka Sang Sunan akan memandikan santri tersebut dengan air yang dicampur beraneka ragam bunga yang sangat wangi.
Cara memandikan demikian ini kemudian dikenal dengan istilah ”edudus”. Tak pelak, desa di mana upacara memandikan santri tersebut dilangsungkan selanjutnya disebut Desa ”Padusan” (sekarang termasuk wilayah Desa Pamolokan, Sumenep) (Abdurrachman, 1971).
Kisah tersebut menjadi bukti bahwa sejarah masuknya Islam ke Madura juga melalui jalur niaga laut. Hal ini juga dibenarkan oleh Azyumardi Azra (2013), yang menyatakan bahwa sejarah masuknya Islam ke Madura kurang lebih memperlihatkan skema yang melibatkan jaringan pelayaran dan niaga laut, pendakwah profesional, dan peran keraton.
Orang Madura, terutama yang ada di wilayah pesisir, terlibat dalam jaringan laut, baik sebagai nelayan maupun pebisnis antarpulau. Bagaimanapun juga, Madura termasuk wilayah pesisir, tempat orang-orang Madura sudah berlayar ke luar pulaunya dan bersentuhan dengan para penduduk luar dengan seluruh budaya dan pandangan hidupnya.
Keterlibatan orang Madura dalam lalu lintas perdagangan antarpulau memungkinkan mereka untuk bertemu dengan para pedagang pemeluk Islam yang jalur dagangnya terbentang mulai dari Malaka hingga laut utara Jawa.
Namun, selama ini historiografi Madura lebih banyak membahas tentang persoalan yang menyangkut daratan, baik masalah sosial, politik, ekonomi, budaya, maupun agama. Padahal, Madura merupakan daerah yang dikelilingi laut, bahkan Sumenep, daerah yang terletak di ujung timur Pulau Garam ini punya lebih seratus pulau.
Pentingnya laut sebagai suatu kajian maritim dapat dibaca, misalnya dari pengantar Lapian tentang teori Mahan (Alfred Thayer Mahan). Bercermin pada Mahan dan menimbang posisi Madura sendiri yang dikelilingi laut, Lapian berpendapat bahwa sejarah maritim tidak boleh diabaikan.
Wawasan bahari bukan hanya pengaruh kekuatan laut terhadap jalannya sejarah dan hanya dibutuhkan untuk zaman yang lampau (Leur & Verhoven, 1974), tapi juga sangat penting bagi keberadaan dan keberlangsungan hidup suatu daerah kepulauan seperti Madura, juga terhadap sejarah Pulau Garam adalah suatu dunia kenyataan yang tidak dapat disangkal hingga kini. (*)