Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Sèḍâ Dibaca Sèdhâ Berarti Kamu Menjadi Mati

Abdul Basri • Senin, 2 Januari 2023 | 12:27 WIB
YAKIN: Siswa SD membacakan sajak dalam lomba baca puisi berbahasa Madura tingkat SD/MI di Pamekasan. (MUHAMMAD TAUHED SUPRATMAN UNTUK Radarmadura.id)
YAKIN: Siswa SD membacakan sajak dalam lomba baca puisi berbahasa Madura tingkat SD/MI di Pamekasan. (MUHAMMAD TAUHED SUPRATMAN UNTUK Radarmadura.id)
Oleh MUHAMMAD TAUHED SUPRATMAN*

DALAM rangka hari ulang tahun ke-4, Ghâlimpok Dhu’remmek menyelenggarakan lomba baca puisi berbahasa Madura tingkat SD/MI dan SMP/NTs se-Pamekasan pada Jumat–Minggu, 23–25 Desember 2022. Kegiatan itu diikuti 164 siswa SD/MI dan 44 peserta tingkat SMP/MTs.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pamekasan Akhmad Zaini menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan lomba yang sangat luar biasa dan perlu mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak. Di era digital seperti sekarang ini, bahasa Madura cenderung ditinggalkan oleh penuturnya. Hal ini disebabkan bahasa Madura dianggap tidak memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

Di sisi lain, alumnus Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Madura tersebut menyampaikan rasa terima kasih kepada Ghâlimpok Dhu’remmek sebagai organisasi nirlaba yang sudi memperhatikan dan mungkin sebagai salah satu penyelamat keberlangsungan hidup bahasa Madura dengan cara mengadakan lomba ini. Zaini juga bangga dan berterima kasih kepada guru-guru SD/MI dan SMP/MTs yang berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Bagi dewan juri acara tersebut menyisakan kenangan tersendiri. Untuk keberlangsungan penggunaan hidup bahasa Madura, khususnya keterampilan dalam membaca puisi berbahasa Madura, ada sejumlah catatan yang perlu mendapatkan perhatian dari berbagai pihak, untuk mendukung anak didik dalam belajar membaca puisi, khususnya puisi berbahasa Madura.

 

Pahami Makna Suasana dalam Puisi

Kita tentu saja mengetahui bahwa puisi biasanya tidak mengungkapkan sesuatu dengan terang-terangan atau secara gamblang. Puisi tidak memiliki alur cerita yang jelas seperti prosa. Puisi juga sering menggunakan kata-kata puitis. Puisi tentunya memiliki makna yang berlapis, dan sifatnya subjektif.

Atas dasar itulah, anak melalui bimbingan guru atau orang tua perlu memahami terlebih dahulu makna puisi yang akan dibacakannya. Jika dalam membacakannya tanpa memahami makna dari puisi tersebut, terlebih puisi berbahasa Madura, anak akan kesulitan menyalurkan perasaan yang terkandung dalam puisi tersebut dengat tepat. Puisi yang dibacakan akan terasa hambar dan pesannya tidak tersampaikan kepada pendengar.

Pembaca puisi perlu memahami makna dan suasana dalam puisi yang akan dibacakan terlebih dahulu. Memahami makna dan suasana dalam puisi, terutama puisi berbahasa Madura, akan membantu anak dalam menentukan intonasi, tekanan, penjedaan, mimik, dan gerak tubuh atau gestur.

 

Pelafalan yang Baik

Dalam membaca puisi, kita perlu juga memperhatikan pelafalan dengan baik. Pengucapan huruf ”a, i, u, e, o” harus jelas. Pelafalan yang baik dihasilkan dari bentuk bibir yang tepat ketika mengucapkannya. Pembaca puisi harus rajin berlatih untuk mendapatkan pelafalan yang baik. Guru-guru bisa membantunya berlatih posisi lidah dan gigi serta bentuk bibir yang tepat ketika mengucapkan huruf per huruf sampai pelafalannya jelas dan tepat.

Pengucapan kata secara jelas akan menghasilkan bunyi bahasa yang bisa didengar oleh penonton. Mengucap kata yang jelas pastinya dengan cara membuka mulut dan mengeluarkan suara agar suara terdengar jelas. Misalnya ketika mengucapkan huruf-huruf vokal, ketika Anda mengucap huruf ”A” maka bukaan mulut melebar, sedangkan mengucap huruf ”U” bukaan mulut sedikit dan bibir agak monyong ke depan, terutama vokal dalam bahasa Madura. Dalam puisi Madura berjudul Syuhâdâ’ karya Zainollah, pada baris ke-17 berbunyi ”Mon cengkal sèḍâ èsoddhu’â ma’lè ajhâlpang”, tersebut, kata sèḍâ (bâ’na-kamu) dibaca sèd (adhingghâl omor-meninggal/wafat) oleh sebagian besar peserta.

 

Intonasi yang Tepat

Intonasi merupakan perubahan nada ketika berbicara. Lebih detailnya, intonasi adalah penyajian tinggi-rendahnya nada atau irama dalam kalimat, yang sering dikenal dengan istilah lagu kalimat. Dalam pembacaan puisi, tinggi-rendahnya nada atau irama itu penting. Intonasi yang tepat, berperan dalam penyampaian perasaan dan maksud yang terdapat dalam puisi kepada pendengar. Intonasi yang tepat akan menghasilkan keindahan yang didengar oleh penonton.

 

Tentukan Penjedaan

Sebelum membacakan puisi, sebaiknya kita memberikan tanda jeda terlebih dahulu pada naskah puisi yang akan dibacakan. Tujuannya, agar lebih indah dan tepat. Tanda jeda dalam kegiatan membaca puisi ada tiga 3 macam, yaitu: (1) / (garis miring satu) merupakan tanda untuk berhenti sejenak. Biasanya tanda ini diberikan di tengah baris atau ada tanda koma, (2) // (garis miring dua) merupakan tanda untuk berhenti agak lama. Biasanya tanda ini diberikan ketika ada tanda koma di akhir baris atau ganti baris, dan (3) /// (garis miring tiga) merupakan tanda untuk berhenti lama. Tanda ini biasanya diberikan di baris terakhir atau akhir dari puisi.

 

Ekspresi atau Mimik

Ekspresi ini merupakan salah satu bagian dari penjiwaan perasaan ketika kita membacakan puisi. Ekspresi atau mimik adalah raut wajah yang menggambarkan isi dalam puisi beserta penjiwaannya. Kedua hal ini sangat penting bagi keindahan puisi ketika membacanya karena merupakan peran pendukung, agar puisi jadi makin matang ketika dibaca.

Pembaca puisi harus dapat mengekspresikan dan menyesuaikan mimik wajah dengan teks-teks puisi yang dibacakannya. Ketika puisi yang dibawakan memiliki ekspresi yang semangat, maka harus dibaca demikian. Begitu juga dengan puisi sedih, maka harus dibaca sedih agar penonton mendapatkan pesan yang pembaca sampaikan.

Mimik menjadi salah satu tolok ukur apakah sang pembaca puisi menghayati puisinya atau tidak. Misalnya, puisi yang berisi perjuangan dapat diekspresikan dengan mimik yang tegas. Sedangkan puisi yang berisi kehilangan dapat diekspresikan dengan mimik sedih.

 

Percaya Diri

Latihan yang cukup akan meningkatkan rasa percaya diri. Rasa percaya diri dibutuhkan saat tampil untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan usaha yang telah dikerahkan. Yakinkan bahwa ia bisa melakukannya dengan baik karena ia sudah berusaha keras. Katakan juga bahwa untuk seluruh usaha yang telah ia lakukan akan membuahkan hasil yang baik.

Itulah enam catatan dari lomba baca puisi berbahasa Madura. Semoga bermanfaat bagi pembaca. Selamat merayakan Hari Jadi Ke-4 Ghâlimpok Dhu’remmek. Semoga sukses selalu! (*)

*)Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP, Universitas Madura Editor : Abdul Basri
#baca puisi #bahasa madura #lomba