Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Antologi 99 Puisi Korona Wartawan-Penyair, Madura Tak Ketinggalan

Abdul Basri • Rabu, 5 Agustus 2020 | 04:58 WIB
Antologi 99 Puisi Korona Wartawan-Penyair, Madura Tak Ketinggalan
Antologi 99 Puisi Korona Wartawan-Penyair, Madura Tak Ketinggalan

JAKARTA, Jawa Pos Radar Madura – Coronavirus disease 2019 (Covid-19) menjadi tema penerbitan buku puisi karta wartawan-penyair. Sebanyak 99 karya yang lolos kurasi diumumkan Selasa (4/8). Satu di antaranya merupakan karya penyair yang juga wartawan Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Lukman Hakim AG.


Puisi berjudul Tiba-Tiba Kita itu masuk dalam daftar karya wartawan-penyair yang segera terbit. Proses kurasi dilakukan oleh budayawan Remy Sylado.


Humas panitia buku puisi korona wartawan-penyair Dheni Kurnia bersyukur telah berhasil memilih 99 puisi karya. Penentuan karya yang lolos setelah melakukan kurasi dari sekian ratus puisi. Mengumpulkan puisi, riwayat hidup (yang cocok dengan wartawan-penyair) dan foto (yang tak melanggar hak cipta) secara lengkap.


Sembilan puluh sembilan puisi itu terdiri atas 97 karya wartawan-penyair hasil seleksi kurator tunggal budayawan Remy Sylado dan 2 penyair ”undangan khusus”. Yaitu, Sutardji Calzoum Bachri dan Kiai Haji Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus). ”Kami juga membuat prolog oleh Remy Sylado dan epilog oleh Prof. Abdul Hadi W. M,” terang Dheni Selasa (4/8).


Panitia mengucapkan terima kasih kepada Remy Sylado yang sudah bekerja keras menyeleksi puisi-puisi yang dikirim. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Prof. Abdul Hadi W. M yang terus memantau dan membuat epilog. Terima kasih juga kepada Prof. Muhadjir Effendy yang memberikan dorongan moril untuk mewujudkan penerbitan buku ini.


”Kami tegaskan, hasil kurasi ini bersifat final dan mengikat. Artinya, keputusan kurator dan panitia bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat,” tegas Dheni.


Panitia menyediakan honorarium Rp 500 ribu bagi wartawan-penyair yang puisinya lolos kurasi dan diterbitkan pada buku ini. Honor akan diberikan setelah buku terbit. Buku ini digarap oleh panitia yang terdiri atas Remy Sylado (ketua), Prof. Abdul Hadi W. M (wakil ketua), Wina Armada Sukardi (anggota), Dheni Kurnia (anggota), Benny Benke (anggota), Sihar Ramses (anggota), dan Agatha Tan (anggota).


Selain itu, mereka dibantu oleh panitia pelaksana. Yaitu, Remy Sylado (kurator), Wina Armada Sukardi (koordinator), Dheni Kurnia, Benny Benke (humas), Agatha Tan (editor), Yere Agusto (desain cover) serta Pramudya (layouter).


 


Berikut nama-nama wartawan yang lolos kurasi berdasarkan alpabetis.


 


PUISI TAMU


A


Sutardji Calzoum Bachri


Satu


B


Kiai Haji Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus)


Sabda Bumi


 


Puisi Wartawan Penyair


1. Acep Syahril: pandemi di luar akal sehat


2. Achiar M Permana: Pada Setiap Mata Kulihat Kilat Curiga


3. Adri Darmadji Woko: Dalam Perang dan Damai


4. Ahmad Istiqom: Sajak Pageblug


5. Ahmadun Yosi Herfanda: Kau Datang Tanpa Mengetuk Pintu


6. Akhlis Suryapati: Milenial Korona


7. Akhmad Sekhu: Pelajaran Untuk Selalu Cuci Tangan


8. Amir Machmud: Semesta Misteri yang Terbaca Samar


9. Anwar Putra Bayu: Sekejap Aku Berlalu


10. Arbi Tanjung: Jaga-Jaga


11. Asril Koto: Catatan Kecil


12. Asro Kamal Rokan: Dingin dalam Api


13. Ayu Cipta: Elegi Covid 19


14. Bambang Widiatmoko: Negeri yang Aneh


15. Benny Benke: Sajak Laten di Masa Corona


16. Beno Siang Pamungkas: Empat Penunggang Kuda


17. Berthold Sinaulan: Aba-Aba Adab


18. Chavchay Saefulloh: Virus Diri


19. Choking Susilo Sakeh: dongeng kemanusiaan: kepada pejuang kemanusiaan


20. Daru Maheldaswara: Energi Kata-Kata


21. Dheni Kurnia: Kami Sudah Berkhianat


22. Dimas Agoes Pelaz: Jerit Corona dan do'a


23. Diro Aritonang: Akulah Corona Itu


24. Doddi Ahmad Fauji: Racun Tembakau


25. Edi Romadhon: Kerja


26. Eka Budianta: Corona dan Bumi Datar


27. EM Yogiswara: Ruang Retak Membatu


28. Endang Werdiningsih: Catatan Ibu Seorang Garda Depan


29. Fakhrunnas MA Jabbar: Masih Ada Azan di Subuh Corona


30. Fatih Kudus Jaelani: Pasien Ke Enam Puluh Lima


31. Fikar W. Eda: Aquarium Wabah 2


32. Frans Ekodhanto Purba: Hikayat Virus Corona


33. Gol A Gong: Bianglala Tersenyum, Sayang


34. Gunoto Saparie: Asal Mula


35. Hasan Aspahani: Untuk Siapa Aku Menulis Puisi Hari Ini


36. Hasan Bisri BFC: Bilakah Engkau Pulang


37. Hendry Ch Bangun: Virus Corona


38. Heryus Saputro: Jumat yang Ganjil, Untung Kita Tak Sampai Pisah Ranjang


39. HM Nasruddin Anshoriy Ch (Gus Nas): Setangkai Corona di Tangan Izrail


40. Ibnu PS Megananda: Kalahkan Ia


41. Irvan Mulyadie: Doa Pengusir Corona


42. Isbedy Stiawan ZS: Sirkus di Jalan Pandemi


43. Iwan Jaconiah: Leningrad-Amsterdam


44. Kunni Masrohanti: Purnama Ungu Sya'ban


45. Kurnia Effendi: Menunggu


46. Kurniawan Junaedhie: Malam Corona di Bergamo


47. Linda Djalil: Was-Wasnya Perempuan Angkuh


48. Lukman A Sya: Karena Korona


49. Lukman Hakim AG: Tiba-Tiba Kita


50. M. Enthieh Mudakir: Puisi Mengedit Derita Pasca Pandemi


51. M. Johansyah (Gema Meratus): Jika Kebebasan Dipasung Wabah


52. Made Adnyana Ole: Ada Virus di Ludahmu


53. Mosthamir Thalib: Roman Tikam Anarko dan Corona


54. Muchid Albintani: Mimpi Corona


55. Muhammad Amir Jaya: Ramadhan Kali ini (1)


56. Muhammad Ibrahim Ilyas: Kekasih, Aku Tak Mau di Rumah Saja


57. Muhammad Subarkah: Tentang Tuhan Tsurayya Enam Puluh Hasta


58. Muhammad Subhan: Selamat Jalan, Duka--tribute to korban Covid-19


59. Murparsaulian: Menyidik Sunyi


60. Mustofa W Hasyim: Misteri yang Misteri


61. Nanang R. Supriyatin: Sketsa


62. Noorca M. Massardi: 4 Gambar


63. Norham Abdul Wahab: Isolasi Mandiri


64. Ons Untoro: Jam 10 Pagi


65. Parni Hadi: Corona, Kita Bersaudara


66. Pria Takari Utama: Menolak Bala


67. Putu Fajar Arcana: Nyanyian Cinta Orang-orang Pulang


68. Ramon Damora: Sawah Ladang Tarawih


69. Reiner Emyot Ointoe: Kamus Baru Epidemiologi


70. Rida K. Liamsi: Kami Tak Kehilangan Mu


71. Rismudji Raharjo: Prono Doger


72. Rita Sri Hastuti: Corona


73. Roso Titi Sarkoro: Jagat Terkesiap Senyap


74. Ryan Rachman: Melihat Tuhan Menyembuhkan Bumi


75. Salman Yoga S.: Bilangan Covid 19 Pada Ramadhan 1441


76. Samsudin Adlawi: Mengiba di Kaki Covid


77. Setiyo Bardono: Corona


78. Shafwan Hadi Umry: Bersama Allah aku menghadapimu


79. Sihar Simatupang: Laboratorium Doa (2)


80. Sri Iswati: Museum Corona


81. Sugiono MP: Sayap Ingatan


82. Susi Ivvaty: Korona di Angkutan Kota


83. Sutirman Eka Ardhana: Tamu Tak Diundang


84. Suyadi San: Diamdiam Bermain Mata Pedang


85. Syarifuddin Arifin: Di Kubur Sepi


86. Taufik Hidayat: Cuci Tangan


87. Taufik Ikram Jamil: tanpa covid-19


88. Triyanto Triwikromo: Harus Ditafsirkan sebagai Apakah Maut


89. Uten Sutendy: Bersujud di Rumah


90. Wannofri Samry: Corona, Kau Menebar Ketakutan


91. Warih Wisatsana: Ambang Petang


92. Widiyartono R.: Perdebatan Tak Pernah Usai


93. Wina Armada Sukardi: Sembilan Ujaran Ikhwal Virus Corona


94. Wyaz Ibn Sinentang (Wahyudi): Anak-Anak Kecil dan Corona


95. Yogira Yogaswara: Episode Napas Terakhir


96. Yudhistira Massardi: Kita pun Belajar Lagi


97. Yusrizal KW: Dalam Ruang C-19 (1)


 


Editor : Abdul Basri
#madura #covid-19