SAMPANG, RadarMadura.id – Siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) Kabupaten Sampang sudah menjalani kegiatan pembelajaran. Namun, sejak diresmikan pada 31 Juli, jumlah siswa mengalami pasang surut. Utamanya, pada jenjang sekolah dasar (SD).
Kepala SRT Sampang Denok Setyowati mengatakan, jumlah siswa yang mengikuti open house pada 31 Juli, tercatat 313 orang. Di hari yang sama, terdapat delapan siswa yang tidak mau melanjutkan pendidikan di SRT. Meliputi, empat siswa SD dan empat siswa SMA.
”Siswa yang pulang delapan orang dari Sumenep. Mereka hanya mengikuti open house,” katanya.
Dia mengutarakan, jumlah siswa di setiap kabupaten yang masuk SRT tidak sama. Dari Sumenep, siswa SMP yang terdata 30 orang, SMA 17 siswa. Sementara, siswa SD asal Kota Keris saat ini kosong.
”Awalnya, siswa SMA dari Sumenep 10 orang. Tapi, ada tambahan 7 siswa setelah pelaksanaan open house,” tuturnya.
Siswa SRT asal Bangkalan mencapai 45 orang tanpa siswa SMA. Terdiri dari 15 siswa SD dan 30 siswa SMP. Sementara Kabupaten Pamekasan tahun ini hanya mendapatkan kuota 30 siswa SMP.
Denok mengungkapkan, kuota siswa SRT khusus Kabupaten Sampang sebanyak 270 orang. Setiap jenjang pendidikan, SD, SMP, dan SMA dialokasikan 90 siswa. Sayangnya, untuk jenjang SD hanya terisi 21 siswa. Karena itu, sisa kuota siswa SD dialihkan ke jenjang SMP dan SMA.
”Untuk jenjang SD, kuotanya dipenuhi sampai 30 siswa. Teman-teman (pendamping PKH) sedang melakukan penjangkauan untuk mengisi kekurangan kuota itu,” ungkapnya.
Selain itu, terdapat dua siswa SD asal Kota Bahari yang mengundurkan diri. Denok tidak mempermasalahkan hal itu. Sebab, SRT menerapkan sistem Multi-Entry Multi-Exit (MEME) atau siswa bisa masuk dan keluar tanpa menunggu tahun ajaran baru.
”Siswa yang mengikuti pembelajaran sampai saat ini (September) 299 orang dari empat kabupaten,” paparnya.
Ketua Tim SDM PKH Kabupaten Sampang Moh. Hakim menyatakan, pihaknya terus melakukan penjangkauan calon siswa (casis) SRT. Total ada 35 casis yang sudah dijangkau. Terdapat 15 orang yang akan ditetapkan sebagai siswa SRT.
”Kami bersama tim dari pusat turun ke Kecamatan Jrengik, Kadungdung, Sampang, dan Robatal pada 9 sampai 12 September,” ujarnya.
Hakim menyebut, terdapat beberapa kendala dalam proses penjangkauan casis SRT. Di antaranya, orang tua tidak tega pisah dengan anaknya karena faktor usia. Selain itu, sebagian masyarakat tidak mengizinkan anaknya sekolah di SRT karena tidak ada madrasahnya.
”Kami tetap menyisir anak-anak yang berada di desil 1-2. Termasuk juga siswa yang putus sekolah,” tukasnya. (bil)
Editor : Amin Bashiri