Fairus Solehah, Mahasiswi FISIP UINSA Surabaya Bawa Nama Madura ke Forum Internasional

Hera Marylia Damayanti • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 10:06 WIB
ANTUSIAS: Fairus Solehah menerima sertifikat sebagai peserta International Conference Santri Mendunia (ICSM) Batch 6 tahun 2026. (FAIRUS SOLEHAH UNTUK JPRM)
ANTUSIAS: Fairus Solehah menerima sertifikat sebagai peserta International Conference Santri Mendunia (ICSM) Batch 6 tahun 2026. (FAIRUS SOLEHAH UNTUK JPRM)

SAMPANG, RadarMadura.id Fairus Solehah mendapat kesempatan membawa nama daerahnya ke forum internasional.

Mahasiswi Program Studi Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Islam Negeri Sunan Ampel  (UINSA) Surabaya itu menjadi salah satu peserta International Conference Santri Mendunia (ICSM) Batch 6.

Kegiatan tersebut berlangsung selama enam hari, yakni sejak Kamis hingga Selasa (611/8).

Fairus bersama peserta lainnya mengikuti berbagai agenda di tiga negara, yakni Malaysia, Singapura, dan Thailand.

Bagi Fairus, perjalanan tersebut bukan sekadar kesempatan menginjakkan kaki di luar negeri.

Ada pengalaman, pengetahuan, serta wawasan baru yang didapat selama mengikuti rangkaian kegiatan di tiga negara tersebut.

Perempuan asal Sampang itu berkesempatan berinteraksi dengan peserta dari berbagai daerah dan latar belakang.

Kondisi tersebut membuatnya dapat bertukar perspektif sekaligus belajar beradaptasi dengan lingkungan dan budaya yang berbeda.

Pengalaman itu juga membuat berbagai materi yang selama ini dipelajari di bangku kuliah terasa lebih nyata.

Sebagai mahasiswa Hubungan Internasional, Fairus bisa melihat secara langsung keberagaman budaya dan kehidupan masyarakat di negara lain.

Fairus menjelaskan, kesempatan mengikuti ICSM menjadi ruang untuk belajar, menambah pengalaman, memperluas relasi, sekaligus membawa nama keluarga dan daerah ke lingkungan yang lebih luas.

Dukungan dari kedua orang tuanya sangat penting dalam mengikuti program tersebut.

”Alhamdulillah, kedua orang tua memberikan restu sekaligus membantu membiayai keberangkatan saya,” tuturnya.

Bagi Fairus, menjadi santri dan berasal dari Madura bukanlah batas untuk melihat dunia.

Sebaliknya, latar belakang tersebut menjadi bekal untuk terus belajar dan berani mengambil kesempatan.

”Enam hari berada di tiga negara memberikan perspektif baru tentang dunia internasional. Saya semakin menyadari bahwa kesempatan besar tidak selalu harus dimulai dari tempat yang besar,” ujar alumnus Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata Putri, Pamekasan itu.  (bil)

Editor : Hera Marylia
Fairus Solehah International Conference Santri Mendunia (ICSM) mahasiswa Hubungan Internasional forum internasional UINSA Surabaya