SAMPANG, RadarMadura.id – Capaian pendapatan asli daerah (PAD) dari retribusi laboratorium lingkungan tercatat sangat rendah. Hal itu disampaikan Kepala UPTD Laboratorium Lingkungan DLH Perkim Sampang Hendro Wibowo Prasetyo.
Dia mengutarakan, penyebab rendahnya PAD karena terbatasnya peralatan uji air yang bisa digunakan untuk mengetahui baku mutu air. ”Peralatan pengujian kami belum lengkap,” katanya Senin (24/8).
Dia mengutarakan target retribusi yang harus dikumpulkan tahun ini mencapai Rp 120 juta. Namun, capaiannya baru Rp 13 juta atau sekitar 10,8 persen. ”Kami sedang mengajukan reagen di perubahan anggaran keuangan (PAK),” tuturnya.
Hendro mengungkapkan, alat yang dibutuhkan dan belum dimiliki berupa parameter residual klorin. Selain itu, alat untuk menguji parameter minyak dan lemak juga diperlukan untuk mengetahui kualitas air limbah dapur SPPG.
”Jadi kami pakai alat seadanya dan tetap dimaksimalkan,” ungkapnya.
Menurutnya, dengan adanya pengadaan reagen untuk parameter tersebut, pelayanan uji air limbah bisa lebih maksimal. Hal itu juga berpotensi mendongkrak PAD. Sebab, SPPG memiliki kewajiban melakukan pengujian setiap tiga bulan.
”Masih diajukan dan sedang masuk tahap pembahasan,” pungkasnya. (ay/bil)
Editor : Amin Bashiri