SAMPANG, RadarMadura.id – Pengasuh Ponpes Miftahul Ulum Karangdurin KH Ahmad Fauzan Zaini akhirnya bertemu dengan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sampang, Jumat (21/8).
Pertemuan yang berlangsung di Pendopo Wabup Sampang itu berlangsung guyub.
Pertemuan tersebut dihadiri Wabup Sampang Ahmad Mahfudz, KH Ahmad Fauzan Zaini, Rektor IAI Az-Zain Sampang Cholis Waidi, Sekjen Himpunan Alumni Karangdurin (Himaka) Ahyak, Ketua PDM Sampang Ustad Mugni, serta aktivis Muhammadiyah Ustad Ikrom.
Kedua pihak sepakat membangun komunikasi dan tidak memperbesar persoalan yang terjadi di Kantor PCM Karang Penang, pada akhir Juli lalu.
Baca Juga: Honda EV Outlier Concept Menang Red Dot Award 2026, Andalkan Motor di Kedua Roda dan Gaya Radikal
Rektor IAI Az-Zain Sampang Cholis Waidi mengatakan, pertemuan tersebut merupakan inisiatif kedua belah pihak, yakni Kiai Fauzan dan PDM Sampang.
Sebab, saat konflik terjadi, Kiai Fauzan sedang menjalankan ibadah umrah.
”Awalnya rencana bertemu di kantor Muhammadiyah. Kemudian kami sepakat meminjam tempat di pendopo Wabup,” katanya.
Cholis menyatakan, pertemuan tersebut tidak membahas persoalan yang terjadi pada akhir Juli lalu.
Pertemuan ini berlangsung sebagai ajang silaturahmi untuk menghilangkan kesalahpahaman sekaligus menjaga kondusivitas masyarakat Sampang.
Dia menyebut suasana pertemuan berlangsung natural. Tidak terlihat sekat maupun ketegangan antara kedua pihak.
Baca Juga: Menimbang 'Kemerdekaan' NU di Muktamar Tambakberas: Antara Kemandirian Ekonomi dan Godaan Kekuasaan
Mereka sepakat menjaga komunikasi, terutama untuk memastikan kondusivitas di wilayah Karang Penang.
”Intinya, permasalahan itu diselesaikan demi persatuan dan kondusivitas Sampang,” ujarnya.
Cholis mengungkapkan, kedua pihak menyadari bahwa persoalan tersebut cukup rentan ditarik ke ranah politik.
Terlebih, Kabupaten Sampang akan menghadapi momentum politik seperti pilkades serentak pada 2027.
Komunikasi antartokoh dinilai penting untuk mencegah persoalan sosial dan keormasan berkembang menjadi konflik yang lebih luas.
”Kita sama-sama komitmen menjaga kondusivitas, khususnya di wilayah Karang Penang. Kalau ada hal-hal lain, nanti akan dimusyawarahkan,” ungkapnya.
Aktivis Muhammadiyah Ustad Ikrom membenarkan bahwa pertemuan tersebut merupakan bagian dari upaya meredam ketegangan pascakonflik.
Menurut dia, pertemuan tersebut menjadi ruang silaturahmi antara dua tokoh, yakni KH Fauzan Zaini dan Ketua Muhammadiyah Sampang Ustad Mugni.
”Kiai Fauzan menghendaki agar ke depan kondisinya lebih teduh,” tuturnya.
Ikrom menjelaskan, gagasan awal pertemuan berasal dari kedua belah pihak.
Baca Juga: Soundcore Nebula P1i Masuk Indonesia, Bawa Layar Full HD, Google TV dan Speaker Fleksibel untuk Sens
Salah satu poin yang disepakati ialah setiap persoalan yang muncul ke depan akan diselesaikan melalui musyawarah.
Wabup Sampang Ahmad Mahfudz, lanjut dia, juga memberikan ruang seluas-luasnya kepada kedua pihak untuk berdiskusi dan membangun komunikasi.
Dia mengutarakan, keterbukaan kedua pihak menjadi modal penting untuk menciptakan suasana yang lebih teduh.
Muhammadiyah sangat terbuka terhadap dialog dan menganggap persoalan yang telah terjadi sebagai sebuah kesalahpahaman yang tidak perlu diperpanjang.
”Ustad Mugni merasa dihormati sebagai tokoh Muhammadiyah. Mudah-mudahan yang di bawah juga ikut teduh,” tuturnya.
Ikrom menyampaikan, komunikasi antartokoh juga mulai dibangun. KH Fauzan disebut telah bertukar nomor telepon dengan Ustad Mugni dan Wabup Ahmad Mahfudz.
”Ini bagian dari edukasi kepada masyarakat bahwa berbeda adalah keniscayaan. Cuma bagaimana kita hidup guyub dan tidak membesar-besarkan perbedaan,” pungkasnya.
Wabup Sampang Ahmad Mahfudz menegaskan, pertemuan Kiai Fauzan dengan PDM Sampang merupakan inisiatif kedua belah pihak. Pihaknya hanya memfasilitasi tempat pertemuan saja.
”Alhamdulillah kedua belah pihak mempunyai semangat yang sama. Kami sangat bersyukur kepada Allah akan hal itu,” tuturnya.
Pria yang akrab disapa Lora Wabup itu berharap tidak ada konflik yang serupa di wilayah Kota Bahari.
Dia mengajak semua organisasi masyarakat (ormas) dan tokoh masyarakat bergandengan tangan untuk menjaga kondusivitas daerah sehingga Indonesia berdaulat adil dan makmur.
”Semoga Sampang terus aman dan damai,” harapnya. (bil)
Editor : Hera Marylia Damayanti