Musleh, warga Desa Baruh, mengatakan, di desanya saat ini mulai mengalami kekeringan. Warga kesulitan mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sejak kekeringan melanda, warga mengandalkan layanan air PDAM Trunojoyo. Namun, sejak empat bulan terakhir, pasokan air tidak sampai ke rumah warga.
Baca Juga: Pembinaan Pelaku Ekonomi Kreatif di Sampang Masih Terbatas
”Sejak empat bulan lalu, air dari PDAM sudah tidak mengalir. Padahal, kami sangat butuh air itu untuk kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya.
Ironisnya, meski air tidak mengalir, warga tetap menerima tagihan dari PDAM Trunojoyo.
Besaran tagihan setiap bulan bervariasi, tetapi warga tetap diminta melakukan pembayaran.
”Per bulan tagihan tetap diminta Rp 60 ribu, kadang Rp 80 ribu, meski airnya tidak mengalir. Sempat diviralkan oleh warga. Empat hari lalu kami diberi tandon, tetapi sampai sekarang belum ada pengiriman airnya,” keluhnya.
Karena aliran PDAM tidak kunjung mengalir meski masih berstatus pelanggan, Musleh dan warga lainnya terpaksa menumpang ke tetangga yang memiliki sumur bor.
Untuk mendapatkan air, mereka juga harus membayar Rp 50 ribu setiap bulan.
”Bagi kami, air merupakan kebutuhan utama, untuk keperluan mandi, minum, dan sebagainya,” ujarnya.
Baca Juga: Di Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Nelayan Masih Berperang dengan Harga BBM
Dia berharap keluhan warga mendapat perhatian pemerintah. Sebab, kebutuhan air bersih sangat penting untuk menunjang kehidupan masyarakat.
”Kami berharap ada pengeboran sumur agar masyarakat tidak kesulitan saat membutuhkan air,” harapnya.
Keluhan serupa disampaikan Adi Rosadi, warga Pulau Mandangin. Dia mengatakan, masyarakat di wilayah kepulauan juga mulai mengalami kesulitan air bersih.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sebagian warga mengandalkan air yang ditampung dalam tandon.
”Tandon ini berisi air hasil menadah air hujan yang disimpan di dalam tandon,” ujarnya.
Adi menerangkan, Pulau Mandangin sejak dulu kesulitan mendapatkan air tawar. Upaya pengeboran maupun penggalian sumur belum menghasilkan sumber air yang bisa dikonsumsi masyarakat.
”Biasanya airnya asin atau air payau. Tidak pernah mendapat air tawar,” bebernya.
Menurutnya, tandon penampungan air hujan umumnya hanya dimiliki warga yang memiliki kemampuan ekonomi lebih.
Sementara itu, warga yang tidak memiliki tandon harus membeli air kepada warga yang memiliki persediaan.
”Harga air dari tandon itu bervariasi. Yang paling murah Rp 2 ribu hingga Rp 3 ribu per jeriken,” tandasnya. (bai/bil)
Editor : Hera Marylia Damayanti