SAMPANG, RadarMadura.id – Keretakan pada bangunan irigasi di Dusun Tonguh Barat, Desa Pangongsean, Kecamatan Torjun, Sampang, mengungkap fakta baru.
Terungkap bahwa bangunan yang retak itu terjadi dalam beberapa hari setelah pekerjaan selesai.
Pelaksana pekerjaan memperbaiki bangunan irigasi yang retak pada Jumat (14/8). Bangunan yang retak diperbaiki dengan cara dilem.
Namun, akademisi menyarankan agar bangunan yang retak dibongkar.
Asisten Tenaga Ahli (Asta) P3TGAI Kecamatan Torjun Dwi Ario menyebut jika kegiatan konstruksi yang dikerjakan P3A Sahabat Rakyat itu baru selesai seratus persen minggu ini.
Menurutnya, sepekan yang lalu pekerja masih melakukan pekerjaan plester.
”Seminggu yang lalu belum diplester. Pekerjaan baru selesai semua minggu ini,” ujarnya saat dihubungi JPRM Jumat (14/8).
Ario tidak menjelaskan secara detail terkait penyebab retak di sejumlah titik pada bangunan irigasi tersebut.
Dia juga tidak menjawab saat ditanya apakah keretakan terjadi karena campuran semen dan pasir tak sesuai spesifikasi.
Dia hanya menyebut jika kerusakan bangunan dipicu kontur tanah.
”Sebenarnya keretakan bisa jadi dari tanah bergerak. Di sini saya lihat di sawahnya ada keretakan juga,” katanya.
Dia mengungkapkan, keretakan yang terjadi pada bangunan bervariasi.
Ada retak rambut, biasanya dipicu cuaca yang panas.
Lalu, retak ringan yang bisa dipengaruhi kondisi tanah yang bergerak.
Ario menyebut, meski bangunan irigasi tidak ada beban di atasnya, bisa rusak dalam hitungan hari jika tanahnya bergerak.
”Bisa aja (retak) karena kondisi tanah bergerak,” ungkapnya.
Menurutnya, kerusakan bangunan irigasi di lokasi P3A Sahabat Rakyat tergolong ringan.
Meski pekerjaan sudah selesai seratus persen, pihaknya belum melakukan serah terima dengan kelompok.
”Kalau ada retak-retak meskipun kecil, saya minta diperbaiki,” tegasnya.
Dekan Fakultas Teknik Unira Pamekasan Taurina Jemmy Irwanto menjelaskan, berdasarkan teori, bangunan saluran irigasi terdiri dari komponen pasangan batu yang diikat dengan campuran semen dan pasir atau spesi.
Baca Juga: HKTI Pamekasan Dorong Harga Tembakau 20 Persen di Atas BPP
Pada bangunan saluran memang ada risiko keretakan.
Menurutnya, penyebab retak pada bangunan saluran bisa diidentifikasi dengan melihat kondisi bangunan.
Jika retak vertikal, biasanya disebabkan kompenen material yang dipakai tidak sempurna.
”Jadi, bisa saja dalam pasangan batu ada rongga lalu diplester dan diaci itu bisa memicu retakan. Bisa juga dari spesi atau kandungan semen dan pasir,” terangnya.
Selain itu, jika keretakan terjadi memanjang atau horizontal, itu bisa dipicu perilaku tanah.
Menurut Irwan, tidak mungkin tanah bergerak hanya pada satu titik saja. Jika dipicu tanah bergerak, pada bangunan bisa terbelah.
”Kalau melihat visual gambar yang saya terima, itu bisa terjadi karena campuran atau spesi yang kurang baik atau ada rongga pada pasangan batu,” ungkapnya.
Karena itu, Irwan menyarankan agar perbaikan bangunan saluran yang retak tidak hanya dilem, tapi dibongkar.
Jika retaknya lebar menunjukkan bahwa pasangan batu tidak terikat oleh spesi.
”Kalau retakannya terlalu lebar dan dalam, artinya batu tidak terikat oleh spesi, harus dibongkar. Sebab, antara batu satu dengan batu yang lain harus ada spesi,” sarannya. (bil)
Editor : Hera Marylia Damayanti