TORJUN, RadarMadura.id – Pembangunan irigasi yang dikerjakan Hippa Ken Arok di Daerah Irigasi Pangongsean, Desa Pangongsean, Kecamatan Torjun, Sampang, terlihat sudah selesai. Namun, di lokasi tersebut belum terpasang prasasti.
Hal serupa terlihat pada pekerjaan irigasi yang digarap P3A Sahabat Rakyat. Lokasi pekerjaan kelompok tersebut juga berada di Daerah Irigasi Pangongsean.
Pantauan JPRM, bangunan irigasi di dua titik P3TGAI tersebut ditemukan mengalami sejumlah keretakan. Misalnya, pada titik 0 hingga 50 meter di lokasi P3A Sahabat Rakyat. Keretakan juga terlihat di sejumlah bagian bangunan lainnya.
Kondisi serupa ditemukan di lokasi irigasi yang dikerjakan Hippa Ken Arok. Selain mengalami keretakan, bangunan irigasi juga melewati pohon yang tidak ditebang. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi volume pekerjaan.
Tenaga Ahli (TA) P3TGAI Sampang Roif Fitrianto mengatakan, keretakan pada bangunan irigasi dapat disebabkan sejumlah faktor. Salah satunya kondisi tanah yang bergerak, terutama pada lahan persawahan.
”Kalau retaknya agak lebar, bisa saja pada waktu pengerjaan pekerjanya kurang berpengalaman sehingga pemasangan batu tidak saling mengunci,” katanya.
Menurut Roif, keretakan rambut juga dapat terjadi akibat faktor cuaca. Kondisi tersebut biasanya muncul ketika bangunan terkena panas setelah proses pengerjaan.
”Kalau retak rambut biasanya karena cuaca panas pada waktu plester. Meskipun dipertebal dengan acian semen, pasti bisa retak karena terkena cuaca,” jelasnya.
Roif menegaskan, pihaknya akan meminta Tenaga Pendamping Masyarakat (TPM) melakukan pengecekan kembali terhadap kondisi bangunan di lapangan. Jika ditemukan keretakan yang dinilai perlu diperbaiki, pekerjaan tersebut harus segera ditindaklanjuti.
”Saya akan menghubungi TPM untuk mengecek lagi. Apabila ada yang seperti itu, maka harus diperbaiki,” tegasnya. (bil)
Editor : Amin Basiri