SAMPANG, RadarMadura.id – Tingginya anggaran belanja makanan dan minuman (mamin) pegawai RSUD Mohammad Zyn (RSMZ) yang mencapai Rp 3,7 miliar menuai sorotan.
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sampang menilai, alokasi anggaran tersebut perlu dikaji kembali agar sesuai dengan kebutuhan.
Koordinator BEM Sampang Iftitahul Elmy menyampaikan, alokasi anggaran mamin RSMZ bukan hanya persoalan besaran nilai.
Lebih dari itu, penggunaan anggaran harus tepat sasaran dan memiliki korelasi yang jelas dengan kebutuhan.
"Penggunaannya harus memiliki korelasi yang jelas dengan kebutuhannya. Apalagi, temuannya banyak pegawai yang mengambil lebih dan tidak sesuai peruntukan," katanya kemarin (8/8).
Menurut dia, anggaran yang bersumber dari Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) tersebut berpotensi menimbulkan pemborosan.
Semestinya, penggunaan anggaran dapat dikelola secara bijak, terlebih di tengah efisiensi anggaran saat ini.
"Ada miss dalam pemanfaatan anggaran ini, antara kebutuhan dan kewajaran dalam berbelanja," tambahnya.
Pria yang akrab disapa Elmy itu menekankan, pengelolaan anggaran harus berprinsip pada efisiensi dan efektivitas dengan mengedepankan transparansi serta akuntabilitas.
Selain itu, penggunaan anggaran juga harus dibarengi dengan peningkatan kinerja pegawai dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
"Tentu kami meminta manajemen RSMZ bisa mengkaji kembali anggaran mamin tersebut," ungkapnya.
Menurutnya, RSMZ saat ini juga tengah menjadi sorotan setelah salah seorang oknum pegawai didapati mengonsumsi sabu.
Menurut dia, persoalan tersebut semestinya menjadi bahan evaluasi bagi manajemen agar tidak mencoreng nama baik rumah sakit milik pemerintah tersebut.
"RSMZ saat ini memiliki banyak koreksi. Hal ini mestinya diperhatikan," pungkasnya.
Meski demikian, hingga saat ini Direktur RSMZ Andy Andrian Hasan belum memberikan tanggapan mengenai pengelolaan anggaran tersebut. (ay/han)
Editor : Amin Basiri