SAMPANG, RadarMadura.id – Kondisi payung mekatronik di Alun-Alun Trunojoyo, Sampang, sering tidak beroperasi. Pemicunya, aset yang dikelola Dinas Lingkungan Hidup Perumahan Permukiman (DLH Perkim) Sampang tersebut sering rusak. Anggaran pemeliharaan menyedot dana yang tidak sedikit.
Kabid Konservasi dan Pertamanan DLH Perkim Sampang Prima Adi Wirawan menyampaikan, pemeliharaan payung hampir dilakukan tiap tahun. Sebab, kondisi payung sering rusak dan membutuhkan perbaikan.
”Besaran anggarannya sesuai dana dan mengutamakan yang paling urgent diperbaiki,” katanya kemarin (9/6).
Dia mengutarakan, pemeliharaan payung mekatronik tahun ini dianggarkan Rp 61 juta. Anggaran yang bersumber dari APBD itu hanya untuk satu kali pemeliharaan. Yakni mengganti sparepad pada komponen payung yang rusak.
”Ada pergantian electro valve, pergantian regulator, selang dan banyak yang lainnya,” tuturnya.
Baca Juga: Pemkab Sampang Berencana Ajukan Dana Pinjaman Lagi pada PT SMI, Dengan Dalih Percepatan Pembangunan
Pria yang akrab di sapa Dedi itu tidak menampik bahwa payung yang mirip di Masjid Nabawi itu sering rusak. Tahun lalu, payung tersebut rusak dan sudah diperbaiki. Pada momentum Hari Raya Idul Fitri 2026 kembali rusak.
”Kerusakannya tidak sama. Jika satu payung ada yang rusak, supaya tidak merembet ke yang lain, kami tidak mengoperasikan semua,” terangnya.
Dia mengungkapkan, perbaikan dilakukan setiap tahun karena pemeliharaan yang dilakukan tidak menyuluruh. Pemeliharaan bergantung kekuatan anggaran. ”Payung sengaja sering ditutup karena agar hemat energi. Apalagi tahun ini anggaranya untuk listrik diefisiensi,” ungkapnya.
Ketua Komisi III DPRD Sampang Baihaqi menilai, keberadaan payung mekantronik belum memiliki manfaat yang jelas. Bahkan sering tidak beroperasi. Dirinya meminta DLH Perkim mengkaji anggaran pemeliharaan Alun-Alun Trunojoyo.
”Jadi anggarannya perlu ditingkatkan, tidak hanya payung saja. Informasinya air mancurnya juga rusak,” tandasnya. (ay/bil)
Editor : Anis Billah