SAMPANG, RadarMadura.id – Masyarakat yang tergabung dalam Forum Masyarakat Camplong (FMC) melakukan audiensi bersama PT Garam di ruang Komisi Besar DPRD Sampang kemarin (18/5). Pertemuan ini difasilitasi Komisi II DPRD Sampang.
Ada dua poin utama yang dibahas dalam pertemuan tersebut. Yakni, penyaluran corporate social responsibility (CSR) PT Garam dan rekrutmen tenaga kerja. Dewan menuding, penyaluran CSR badan usaha milik negara (BUMN) tersebut tidak transparan.
Anggota Komisi II DPRD Sampang Moh. Anwar menyampaikan, PT Garam mengaku telah menyalurkan CSR.
Namun, CSR yang disalurkan tidak terkesan tidak transparan. Sebab, dalam penyaluranya tidak terlaporkan dan tidak melibatkan pemerintah daerah.
”Semestinya dikomunikasikan dengan pemerintah daerah melalui forum sehingga bisa diintegrasikan dengan program daerah. Tetapi untuk tuntutan FMC akan diakomodir dan menjadi bahan evaluasi kedepan,” ujarnya.
Peserta Audiensi Samsudin menyampaikan, pihaknya melakukan audensi atas keresahan warga sekitar gudang milik PT Garam yang berlokasi di Desa Sejati, Camplong. Warga sekitar merasa tidak pernah mendapatkan bantuan dari PT Garam.
”Sejak ada PT Garam 1995 sampai sekarang, belum ada yang namanya CSR,” kata pria asal Desa Dharma Tanjung, Camplong itu
Selain itu, dia mempertanyakan rekrutmen tenaga kerja yang dilakukan PT Garam. Menurutnya, BUMN tersebut belum sepenuhnya menyerap tenaga kerja dari warga sekitar gudang. ”Ada yang bekerja (di PT Garam) tapi sebagian saja,” tuturnya.
Manajer Hubungan Korporasi PT Garam Wawan Wahyudi Yanto menyatakan, ada miskomunikasi yang diterima masyarakat sekitar.
Selama ini, PT Garam telah menyalurkan CSR. Yakni berupa bantuan pendidikan dan penyaluran modal kerja. Penyaluran CSR menyasar masyarakat Desa Sejati dan Kecamatan Pangarengan.
Berkaitan dengan serapan tenaga kerja, Wawan mengungkapkan, 80 persen pekerjanya merupakan warga sekitar.
”Ke depan kami akan membuat forum yang melibatkan masyarakat sekitar sehingga proses penyaluran CSR dan rekrutmen bisa merata dan transparan,” janjinya. (ay/bil)
Editor : Amin Basiri