Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Dispendik Tak Pernah Turun Meninjau, Saat Kelas Ambruk Hanya Pengawas yang Datang

Hera Marylia Damayanti • Rabu, 11 Februari 2026 | 06:37 WIB
BERBAGI TEMPAT: Siswa kelas I hingga IV saat belajar di ruang guru di SDN Margantoko 1, Kecamatan Jrengik, Sampang, Senin (9/2). (AYU LATIFAH/JPRM)
BERBAGI TEMPAT: Siswa kelas I hingga IV saat belajar di ruang guru di SDN Margantoko 1, Kecamatan Jrengik, Sampang, Senin (9/2). (AYU LATIFAH/JPRM)

SAMPANG, RadarMadura.id – Kondisi SDN Margantoko 1, Kecamatan Jrengik, kian memprihatinkan.

Ironisnya, sekolah dasar negeri itu nyaris tanpa sentuhan perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang, khususnya dinas pendidikan (dispendik).

Tidak pernah ada peninjauan langsung dari instansi teknis tersebut.

Kepala SDN Margantoko 1 Suranta mengungkapkan, kali pertama ditugaskan pada 2022, kondisi sekolah sudah tidak layak.

Fasilitas belajar mengajar sangat minim, mulai dari kursi, papan tulis hingga sarana pendukung lainnya.

Sejak itu, Suranta berinisiatif membenahi sekolah dengan memanfaatkan dana bantuan operasional sekolah (BOS) yang terbatas.

Beberapa fasilitas seperti kamar mandi sempat diperbaiki. Namun, kembali rusak setelah diterjang angin kencang.

”Semua kami lakukan dengan kemampuan yang ada. Tapi, jelas tidak cukup,” ujarnya Senin (9/2).

Kondisi paling mengkhawatirkan terjadi pada 2024 lalu ketika salah satu ruang kelas ambruk.

Saat itu, yang datang meninjau hanya Babinsa Kodim dan pengawas sekolah. Dari pihak Dispendik Sampang, tidak ada satu pun pejabat yang turun langsung.

TIDAK LAYAK: Kepsek Suranta saat menunjuk kelas yang mulai ambruk di SDN Margantoko 1, Kecamatan Jrengik, Sampang, Senin (9/2). (AYU LATIFAH/JPRM)
TIDAK LAYAK: Kepsek Suranta saat menunjuk kelas yang mulai ambruk di SDN Margantoko 1, Kecamatan Jrengik, Sampang, Senin (9/2). (AYU LATIFAH/JPRM)

”Tidak pernah ada dari dinas. Yang datang hanya operator untuk sinkronisasi data,” keluhnya.

Suranta berharap Pemkab Sampang segera memberi perhatian serius. Sebab, ruang belajar yang ada kini tidak lagi mampu menampung 34 siswa.

Bahkan, sebagian terpaksa mengikuti pelajaran di teras masjid.

”Kasihan anak-anak. Jangan sampai hak mereka untuk belajar terabaikan,” pintanya.

Sementara itu, Kepala Dispendik Sampang Nor Alam mengaku sudah mengetahui kondisi SDN Margantoko 1.

Pihaknya juga mengeklaim telah mengusulkan revitalisasi ke pemerintah pusat. Namun, hingga kini belum ada kepastian.

”Kami sudah mengusulkan ke pusat. Soal dapat atau tidaknya, kami masih menunggu,” katanya.

MEMPRIHATINKAN: Siswa kelas V saat belajar di ruang kelas yang bocor di SDN Margantoko 1, Kecamatan Jrengik, Sampang, Senin (9/2). (AYU LATIFAH/JPRM)
MEMPRIHATINKAN: Siswa kelas V saat belajar di ruang kelas yang bocor di SDN Margantoko 1, Kecamatan Jrengik, Sampang, Senin (9/2). (AYU LATIFAH/JPRM)

Nor Alam menyebutkan, Pemkab Sampang sangat bergantung pada dana alokasi khusus (DAK) dari APBN untuk merevitalisasi sekolah tersebut.

Sebab, kemampuan APBD terbatas akibat kebijakan transfer ke daerah (TKD).

”Kalau dari DAU tidak memungkinkan. Harapan kami sementara ini dari APBN,” pungkasnya. (ay/han)

Editor : Hera Marylia Damayanti
#APBD terbatas #memprihatinkan #dispendik #SDN Margantoko 1 #pemkab sampang #dispendik sampang #tidak pernah #apbn #tkd #Tidak Ada #turun langsung