SAMPANG, RadarMadura.id – Sarana dan prasarana pendidikan di Kabupaten Sampang masih banyak yang belum memadai.
Salah satu contohnya ada di SDN Margantoko 1 yang ada di pedalaman Desa Margantoko, Kecamatan Jrengik.
Sekolah enam kelas itu ambruk dan tidak ada satu pun ruangan yang layak ditempati.
Awan gelap menggantung di sepanjang jalan Desa Margantoko, Kecamatan Jrengik.
Saat itu, siswa SDN Margantoko 1 tetap belajar di kelas seperti biasanya.
Satu di antaranya Hafid Amirullah, siswa kelas VI yang masih setia mendengarkan gurunya menyampaikan materi pelajaran.
Bajunya usang, sama seperti tembok di sekelilingnya yang mulai terlihat dasar bata merahnya.
Semangatnya ada, seperti keyakinannya kali pertama memilih sekolah yang mungkin jauh dari kata layak.
Bagaimana tidak? SDN Margantoko 1 merupakan lembaga negeri di desanya yang fasilitas pendidikannya sudah sangat tidak aman untuk ditempati.
”Semenjak saya masuk di sekolah ini, sudah banyak yang rusak. Tapi, tidak serusak sekarang,” katanya Senin (9/2).
SDN Margantoko 1 memiliki enam ruangan. Lima ruang kelas untuk belajar siswa dan satu ruang guru yang sekaligus perpustakaan.
Beberapa tahun terakhir aktivitas belajar mengajar di kelas tersebut terhambat.
Sebab, tiga ruang kelas lainnya terpaksa tidak ditempati karena rusak parah dengan atap ambruk tak tertolong.
”Tiba-tiba rusak dan roboh terkena angin. Kerusakan makin parah saat saya kelas lima,” tambahnya.
Untuk sementara waktu, hanya siswa kelas V dan VI yang belajar di kelas.
Sedangkan kelas I sampai kelas IV digabung menjadi satu di ruang guru atau perpustakaan.
Jika turun hujan atau angin kencang, seluruh siswa terpaksa digabung menjadi satu di ruangan guru.
”Saya tidak malu sekolah di sini, cuma khawatir takut tiba-tiba roboh saja,” ucap siswa berusia 13 tahun itu.
Setiap hari, yang dipandang Hafid bersama teman-temannya hanyalah bangunan porak-poranda.
Genting berserakan di depan kelas dan dinding atap yang menembus awan. Hal itu dia rasakan selama enam tahun mengenyam pendidikan.
”Harapan saya, sekolah ini bisa dibangun kembali,” papar siswa yang pernah juara nyanyi tingkat kecamatan itu.
Kepala SDN Margantoko 1 Suranta menyampaikan, setiap hari dirinya selalu dilanda kekhawatiran.
Sebab, 34 siswanya belajar di kelas yang kondisinya rusak. Sementara, ruangan yang cukup layak hanya satu. Itu pun tidak memiliki sarana belajar yang mumpuni.
”Mereka cukup antusias belajar, meskipun meja yang digunakan di perpustakaan ini terbatas. Saya khawatir sistem belajar seperti ini tidak baik pada kesehatan siswa,” katanya sembari memperhatikan belasan siswa belajar.
Dirinya telah dua kali mengajukan. Namun, sampai saat ini permohonan yang dilayangkan tidak membuahkan hasil.
Sementara dana bantuan operasional sekolah (BOS) sekitar Rp 33,9 juta dalam satu tahun. Dana itu tidak cukup untuk melakukan perbaikan.
”Untuk rehab menggunakan dana BOS tidak cukup, hanya bisa pemeliharaan ringan. Namun, saya berkomitmen, apa pun keadaannya, pembelajaran tetap berlangsung,” pungkasnya. (ay/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti