Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Kesulitan Dapat Solar, Kapal Angkutan Nakes Mogok di Tengah Laut

Hera Marylia Damayanti • Rabu, 31 Desember 2025 | 14:18 WIB
DISERET: Sejumlah nakes berada di atas kapal, dengan kondisi mesin mati, di tengah laut saat menyeberang ke Pulau Mandangin, Sampang, Selasa (30/12). (RINA DEWIYANTI UNTUK JPRM)
DISERET: Sejumlah nakes berada di atas kapal, dengan kondisi mesin mati, di tengah laut saat menyeberang ke Pulau Mandangin, Sampang, Selasa (30/12). (RINA DEWIYANTI UNTUK JPRM)

SAMPANG, RadarMadura.id – Kapal angkutan penyeberangan Sampang–Pulau Mandangin terganggu beberapa hari terakhir. Pemicunya, mereka kesulitan untuk mendapatkan solar.

Selasa (30/12), kapal yang membawa sejumlah tenaga kesehatan (nakes) mogok di tengah laut karena kehabisan solar.

Kepala Puskesmas Mandangin Rina Dewiyanti mengatakan, hapir setiap hari pihaknya menyeberang dari Pelabuhan Tanglok menuju Pulau Mandangin. Yakni, untuk bertugas melayani masyarakat.

Pada Senin (22/12) dan Selasa (23/12), semestinya dirinya berangkat bertugas ke Puskesmas Mandangin.

Tapi, dirinya gagal berangkat karena kapal yang biasa ditumpangi tidak mendapatkan solar. Kemarin, kapal kembali beroperasi, tapi mesin kapal mendadak mati di tengah laut.

”Kapal berangkat dari Pelabuhan Tanglok pukul 06.00. Tapi, pada pukul 07.30 kapal kehabisan solar saat di tengah laut. Padahal, masih jauh dari Pulau Mandangin,” katanya.

Rina mengutarakan, pihaknya mencoba meminta bantuan petugas Puskesmas Mandangin untuk mencari solar, tapi nihil.

”Beruntung, ada nelayan yang mau membantu untuk menarik perahu kami menggunakan tali. Alhamdulillah, kami sampai dengan selamat hingga Pulau Mandangin,” tuturnya.

Dia mengungkapkan, sejumlah nakes dan penumpang lainnya cukup lama terombang-ambing di tengah laut karena kehabisan solar.

Biasanya, perjalanan dari Pelabuhan Tanglok ke Pulau Mandangin ditempuh sekitar satu jam setengah. Tapi, membutuhkan waktu dua jam setengah karena kehabisan solar.

”Jadi, akibat solar langka, pelayanan kepada masyarakat jadi terganggu,” ungkapnya kepada JPRM.

Pihaknya berharap, pemerintah maupun pihak terkait (Pertamina) memberikan perhatian khusus terhadap BBM kapal yang mengantarkan nakes ke Pulau Mandangin.

Sebab, jika transportasi terganggu, akan berdampak pada pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

”Kami bertugas di Pulau Mandangin untuk melayani masyarakat. Mudah-mudahan bisa diperhatikan kesejahteraan kami yang mengabdi di Pulau Mandangin,” harapnya.

Area Manager Comrel dan CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus Ahad Rahedi menyampaikan, penyaluran biosolar bersubsidi dibatasi. Yakni, disesuaikan dengan penugasan dari pemerintah melalui Pertamina.

”Biosolar tidak langka. Produknya ada, namun jumlah yang boleh disalurkan oleh Pertamina mendekati batas kuota jelang akhir tahun,” ujarnya.

Menurutnya, penyaluran BBM bersubsidi seperti biosolar harus mendapatkan persetujuan pemerintah.

Pihaknya tidak memilik kewenangan untuk menambah kuota apalagi mengurangi kuota yang sudah ditugaskan.

Sepanjang 2025, masyarakat menyerap biosolar bersubsidi sesuai usulan yang diajukan setiap kabupaten/kota. Hingga akhir Desember, kuota sejumlah wilayah sudah mencapai target.

”Penyaluran biosolar di Kabupaten Sampang melebihi kuota, yakni sebesar 101,8 persen dari kuota 28.831 kiloliter,” tandasnya. (bai/bil)

Editor : Hera Marylia Damayanti
#tengah laut #Mogok #mesin kapal #pulau mandangin #mati #nakes #kapal angkutan #solar #langka