SAMPANG, RadarMadura.id – Tahun ini, jumlah kios di Kabupaten Sampang menyusut. Sebab, ada dua kios di Kecamatan Banyuates yang mengundurkan diri sehingga gerainya ditutup. Disperta KP Sampang mengusulkan sejumlah poktan agar diangkat PPTS.
Account Executive (AE) PT Pupuk Indonesia Wilayah Madura Sigit Cahyono menyampaikan, jumlah kios atau penerima pada titik serah (PPTS) yang berkomitmen menyalurkan pupuk subsidi tersebar di 79 titik. Namun, kini berkurang menjadi 77 PPTS. Sebab, dua kios lain menutup gerainya.
”Jumlah kios berkurang dua. Mereka memilih mengundurkan diri,” ujarnya kepada JPRM Minggu (14/12).
Dia mengungkapkan, kios yang mundur beralamat di Kecamatan Banyuates. Alasannya, tidak mampu membuat laporan administrasi dengan sistem digitalisasi.
”Mereka tidak sanggup dalam pelaporannya yang berbeda dengan yang manual. Bukan karena bermasalah,” ungkapnya.
Pria asal Bangkalan itu menyampaikan, semua PPTS harus berkomitmen dalam melaporkan penyaluran pupuk. Jika administrasi bermasalah, maka PPTS wajib menganti.
”Jika hasil audit PPTS tidak sesuai, maka harus mengganti besaran pupuk subsidi. Sebab, dalam penyalurannya petani harus difoto beserta jumlah pupuk yang diterima,” tuturnya.
Sigit menegaskan, distribusi pupuk tetap maksimal meski jumlah kios berkurang. Sebab, penyaluran pupuk dialihkan ke kios terdekat sesuai wilayah PPTS. ”Jika mengangkat (kios baru), tidak mudah, harus lengkap persyaratannya,” terangnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Disperta KP) Sampang Suyono menyampaikan, hampir setiap tahun jumlah PPTS berkurang. Namun, pihaknya belum mengetahui jika tahun ini ada kios yang mundur.
”Ketika ada pemberhentian atau pengurangan kios, biasanya kami hanya koordinasi dengan distributor. Tahun ini kami belum dapat informasi mengenai pencopotan (kios),” tuturnya.
Dia berharap, ada PPTS baru untuk memaksimalkan penyaluran dan serapan pupuk subsidi. Menurutnya, sejumlah kelompok tani (poktan) sudah mengajukan menjadi PPTS.
”Ada sekitar empat hingga lima poktan yang mendaftar PPTS, mungkin bisa diakomodasi. Sehingga, penyaluran ke petani bisa maksimal,” tandasnya. (ay/bil)
Editor : Hera Marylia Damayanti