SAMPANG, RadarMadura.id – Sorotan lampu panggung memantulkan beragam warna kepada ribuan pasang mata. Deretan kursi kayu berukir satu per satu terisi jajaran pimpinan daerah dan tamu undangan, pertanda festival malam Panggung Budaya Madura ke-3 segera dimulai.
Jumat (12/12) malam, jantung Kota Sampang di Alun-Alun Trunojoyo dipadati masyarakat. Mereka larut dalam antusiasme, menanti suguhan seni dari empat kabupaten di Madura. Tak hanya kesenian tradisional, sejumlah pertunjukan kontemporer turut mewarnai panggung utama.
Di atas karpet biru, tarian Malate Sato’or yang dibawakan tiga penari berselendang kuning membuka rangkaian acara. Gerak tubuh yang luwes dan ritmis membuat Bupati Sampang Slamet Junaidi beserta jajaran terpukau. Mereka khidmat menyaksikan penampilan paguyuban Kacong Cebbing Sampang tersebut.
“Saya sangat mengapresiasi kegiatan luar biasa ini. Panggung Budaya Madura merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Sampang yang ke-402,” ujar Slamet Junaidi.
Pria yang akrab disapa Aba Idi itu menjelaskan, event tahunan tersebut menjadi ruang ekspresi dan kreasi seni budaya masyarakat Madura. Di dalamnya tersimpan histori tentang budaya yang lahir dan berkembang di Madura—kultur dan kearifan lokal yang tak dimiliki daerah lain.
”Salah satunya karapan sapi dan kuliner khas Madura. Karena itu, kami berinisiatif menjadikan Alun-Alun Trunojoyo sebagai ruang publik untuk melestarikan budaya yang kini menjadi ikon Sampang,” imbuhnya.
Dengan balutan kaus putih sederhana, mantan anggota DPR RI itu berharap Sampang ke depan tidak hanya dikenal sebagai sentra budaya Madura, tetapi juga sebagai pusat kuliner yang diburu wisatawan dari luar daerah. Harapannya, geliat tersebut mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan pemberdayaan UMKM lokal.
”Saya ingin Sampang menjadi sentral budaya Madura sekaligus sentral kuliner Madura. Inilah cita-cita kami bersama wakil bupati, bagaimana mem-branding Sampang agar semakin menarik,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Disporapar Sampang Abdul Basith menyampaikan bahwa Panggung Budaya Madura digelar untuk memadukan ekspresi seni tradisional dengan inovasi teknologi publik.
Kegiatan ini juga berfungsi sebagai platform sinergis antara pelestarian warisan budaya lokal dan pengenalan inisiatif pembangunan infrastruktur digital.
”Semoga melalui pelestarian dan pemanfaatan seni budaya Madura ini, Sampang semakin hebat dan bermartabat,” ujarnya.
Panggung Budaya Madura tahun ini pun dikemas lebih meriah. Dekorasi panggung yang menampilkan ragam alat kesenian tradisional dari Kabupaten Sampang menjadi daya tarik tersendiri. Penampilan kesenian Semut Ireng dan Semut Merah menjadi penutup yang menyempurnakan festival spektakuler malam itu. (ay/han)
Editor : Hera Marylia Damayanti