SAMPANG, RadarMadura.id – Penyaluran bantuan program keluarga harapan (PKH) di Desa Marparan, Kecamatan Sreseh, Sampang, bermasalah. Pemicunya, agen BRILink di desa tersebut diduga menyunat dana bantuan yang seharusnya diserahkan kepada keluarga penerima manfaat (KPM). Bahkan, ATM KPM juga ditahan.
Ketua Forum Aktivis Madura (FAM) Syamsul Arifin mengatakan, pihaknya melakukan observasi terkait penyaluran PKH di Desa Marparan kepada KPM. Ternyata ada kejanggalan dalam penyaluran bantuan.
”Kami menemukan ada beberapa KPM yang bantuannya disunat oleh agen BRILink mulai tahun 2024 sampai sekarang,” katanya.
KPM PKH Desa Marparan sebanyak 195 orang. Sebanyak 112 kartu ditahan oleh agen BRILink sejak 2024. Saat ditelusuri, kartu tersebut dipegang oleh agen BRILink berinisial R. ”Saat pencairan, diduga dananya disunat,” ujarnya.
Syamsul mengungkapkan modus yang dilakukan R, jika bantuan PKH tidak ditarik di BRILink milik R, tidak bisa dicairkan. Karena itu, KPM menyerahkan kartunya kepada R. Bulan lalu, beberapa kartu PKH KPM sudah dikembalikan. Sejak itulah, mencuat dugaan bantuan diduga dipotong.
Dana bantuan yang dipotong bervariasi, mulai Rp 300 ribu, Rp 600 ribu hingga Rp 1.200.000. ”Biasanya bantuan PKH itu dicairkan empat semester,” ungkapnya.
Syamsul menjelaskan, KPM tidak tahu kapan dana bantuan tersebut cair. Dia menduga agen BRILink sengaja merahasiakan hal itu kepada KPM. Perbuatan R terbongkar setelah ada KPM yang meminta kartu PKH.
”Saat dicek ke bank, ternyata sudah ada transaksi pencairan bantuan PKH. Padahal KPM berinisial S itu selama ini tidak pernah melakukan pencairan sama sekali,” terangnya.
Syamsul mengaku sudah mengantongi semua bukti penyelewengan dana bantuan tersebut. Termasuk data KPM PKH yang diduga disunat. Pihaknya tidak akan segan untuk melaporkan kasus ini kepada aparat penegak hukum (APH). ”Kami berencana akan melaporkan ke APH,” tegasnya.
Koran ini berupaya mengonfirmasi R, agen BRILink Desa Marparan terkait dugaan pemotongan dana PKH tersebut. Tapi, belum membuahkan hasil. Sebab, saat dihubungi melalui sambungan telepon yang biasa digunakan tidak direspons.
Pendamping PKH Kabupaten Sampang Khotibul Umam membenarkan adanya dugaan pemotongan bantuan PKH di Dusun/Desa Marparan tersebut. Kasus ini diketahui setelah dirinya melakukan survei, monitoring, dan evaluasi bantuan sembako di Desa Marparan.
”Di Desa Marparan ada tiga dusun. Yakni Dusun Marparan, Dusun Anyer, dan Dusun Soroan. Kebetulan, saya kebagian di Dusun Marparan,” paparnya.
Dia mengungkapkan, jumlah KPM PKH Dusun Marparan sebanyak 113 orang. KPM yang pegang ATM sendiri hanya 20 orang. Sisanya, dipegang oleh oknum agen BRILink.
Pihaknya sudah meminta agar ATM dikembalikan meski ada KPM yang meninggal. Bahkan, dirinya sudah memberikan peringatan kepada R.
”Tapi, oknum ini tetap nakal meski sudah diingatkan berkali-kali. Kami dukung terserah masyarakat mau bagaimana, termasuk jika mau melapor ke APH,” tandasnya. (bai/bil)
Editor : Hera Marylia Damayanti