SAMPANG, RadarMadura.id – Kabar duka menyelimuti warga Kabupaten Sampang. Ulama sepuh dan karismatik, KH Abd. Muhaimin bin Abd. Bari, wafat di Rumah Sakit Qona’ah, Sampang, pada Kamis (4/9) pukul 23.20.
Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Salafiyah Syafi’iyah Darut Tauhid, Injelan, Sampang, itu sebelumnya sempat menjalani perawatan intensif. Beberapa hari terakhir, kondisi kesehatannya terus menurun hingga dikabarkan kritis sejak Kamis (4/9) sore.
Pihak keluarga bersama para santri terus mendampingi almarhum selama masa perawatan. Namun, takdir berkata lain. Kiai karismatik yang akrab dipanggil Abuya di kalangan santri dan alumni itu berpulang dengan tenang.
Kabar duka itu juga disampaikan melalui akun resmi Instagram Ponpes Darut Tauhid. Pesan belasungkawa pun segera mengalir dari berbagai kalangan, baik santri, alumni, maupun masyarakat umum.
”Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah dan mengampuni segala kekhilafan beliau dan husnulkhatimah. Semoga keluarga dan santri-santrinya yang ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan lahir batin, amin,” tulis akun @daruttauhidinjelan.
Semasa hidup, KH Abd. Muhaimin bin Abd. Bari dikenal sebagai sosok ulama yang tawaduk dan aktif dalam kegiatan sosial keagamaan. Kiprahnya tidak hanya di pesantren, tetapi juga di berbagai forum masyarakat.
Beliau pernah mengemban amanah sebagai Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sampang selama tiga periode. Kepemimpinannya memberi warna kuat dalam perkembangan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut.
Bendahara PCNU Sampang Mas’udi Kholili menegaskan bahwa almarhum adalah sosok ulama yang sangat berpengaruh dalam perjalanan NU di Sampang. ”Beliau sangat aktif di NU, bahkan tiga periode menjadi Ketua Tanfidziyah PCNU Sampang sejak masa khidmat 2001–2006, 2007–2012, dan 2013–2018,” ungkapnya.
Jawa Pos Radar Madura memantau langsung prosesi pemakaman KH Abd. Muhaimin bin Abd. Bari di area pemakaman keluarga pada Jumat (5/9) sekitar pukul 10.00. Ribuan orang mengantarkan kepergian santri Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki tersebut. Sejumlah tokoh hadir dalam pemakaman tersebut. Antara lain, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Sampang KH Moh. Itqan Bushiri.
Kepergian KH Abd. Muhaimin meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar NU, para santri, alumni, serta masyarakat Sampang. Doa dan penghormatan terus dipanjatkan agar almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.
Tanggal 12 Rabiulawal adalah hari istimewa bagi KH Abd. Muhaimin bin Abd. Bari. Apalagi, bertepatan dengan hari Jumat yang berdasarkan keyakinan umat Islam adalah hari paling utama. Sebab, selain mendapatkan kemuliaan hari lahirnya Rasulullah, juga mendapatkan keutamaan hari Jumat.
Ternyata, hari istimewa tersebut menjadi hari KH Abd. Muhaimin bin Abd. Bari dipanggil oleh Allah SWT. Dia wafat di malam Jumat sekitar pukul 23.20 yang berdasarkan catatan penanggalan Hijriah sudah masuk tanggal 12 Rabiulawal.
Putra almarhum, KH Muhammad Abd. Bari menceritakan, setiap tanggal 12 Rabiulawal, ayahandanya memiliki kegiatan rutin. Yakni, menggelar maulid sebelum salat Subuh dengan membaca salawat bersama masyarakat. Kegiatan itu sudah diadakan sejak 2007 hingga sekarang.
Bahkan, KH Abd. Muhaimin bin Abd. Bari pernah mengutarakan keinginannya untuk menggelar maulid yang besar di momentum tersebut dengan mendatangkan banyak orang. Dengan kuasa Allah, keinginan itu terkabul berbarengan dengan hari wafatnya. Ribuan orang melayat sekaligus melaksanakan Maulid Nabi sesuai keinginan almarhum.
”Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada masyarakat dan alumni serta mohon doanya semoga sayyidil walid mendapatkan rida Allah SWT,” kata KH Muhammad Abd. Bari di hadapan ribuan alumni dan masyarakat. (dry/han/yan)
Editor : Hera Marylia Damayanti