SAMPANG, RadarMadura.id – Pengembangan budi daya rumput laut gracilaria yang diinisiasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sampang menarik perhatian.
Apalagi, pemerintah berhasil mengekspor hasil panen ke luar negeri. Namun, pengembangan budi daya rumput laut itu belum merata di 13 kecamatan.
Kepala Dinas Perikanan Wahyu Prihartono menyampaikan, pengembangan budi daya rumput laut jenis gracilaria dilakukan dengan sistem tumpang sari.
Artinya, dalam satu tambak bisa dimanfaatkan untuk budi daya rumput laut, bandeng, dan udang vaname. Hal ini dapat meringankan biaya pemeliharaan.
Kegiatan budi daya ini dilakukan dengan menggandeng perusahaan yang menyediakan bibit hingga pemasarannya.
Kerja sama tersebut berhasil mengekspor hasil budi daya ke luar negeri.
”Dari kajian pemerintah, petambak kesulitan dalam proses pemasaran hasil budi daya,” katanya.
Namun, pengembangan budi daya tersebut hanya terpusat di Desa Asam Nunggal, Kecamatan Jrengik.
Wahyu mengutarakan, pihaknya belum berencana mengembangkan ke wilayah lain.
Pihaknya menargetkan kegiatan budi daya di tambak seluas 200 hektare.
”Sementara ini masih tetap terpusat di Kecamatan Jrengik. Nanti akan dilakukan pengembangan ke wilayah lain kalau target budi daya 200 hektare sudah tercapai,” jelasnya.
Baca Juga: DPRD Sampang Sahkan Raperda APBD 2025
Menurutnya, pengembangan budi daya seperti ini dapat menunjang kemandirian ekonomi masyarakat.
Secara bertahap juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Sampang.
”Secara bertahap nanti akan diperluas ke petambak lain di Kabupaten Sampang,” tukasnya. (jun/bil)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti