SAMPANG, RadarMadura.id – Komitmen Pj Bupati Sampang Rudi Arifiyanto dalam menunjang kemandirian ekonomi masyarakat mulai diwujudkan satu persatu. Delapan bulan sejak dilantik, dia telah banyak melakukan inisiatif program terobosan.
Salah satunya, pengembangan tembakau semi organik dan semi moderen. Pola penanaman tembakau dengan proses penyiraman menggunakan sistem irigasi tetes yang lebih efisien dan menghemat biaya. Sistem irigasi tetes dan mulsa akan menjaga gulma tidak tumbuh dan kelembaban tanah.
Dari sistem ini memiliki keunggulan dapat membentuk ketinggian tembakau mencapai dua meter atau lebih. Selain itu, produktivitas tembakau bisa dua kali lipat dibanding tembakau biasa. Sebab menggunakan pupuk semi organik dengan biaya yang lebih murah.
”Metode ini mempercepat pertumbuhan tembakau sehingga tinggi tanaman bisa mencapai dua meter atau lebih dan masa panen dapat dilakukan dalam waktu 70 hari, bukan tiga bulan, dengan manajemen yang baik, tembakau bisa dipanen dua kali dalam setahun,“ terangnya.
Baca Juga: Ketua Tanfidziyah PCNU Pamekasan Doakan Khofifah Menang di Pilgub Jatim
Mantan Sekretaris Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan (BRIN) itu berharap hilir dari budidaya tembakau semi organik tersebut dapat memunculkan peningkatan kegiatan industri rokok.
"Selain rokok, tembakau juga bisa untuk vape, minyak atsiri, dan bahan-bahan kosmetik, ini merupakan hasil penelitian ilmiah yang pernah dilakukan oleh kalangan ilmuwan dan saintis," tambahnya.
Dirinya menginginkan hasil tembakau yang berkualitas juga berdampak pada bergeraknya angka kemiskinan Kabupaten Sampang. “Sembilan bulan lalu angka kemiskinan di Sampang berada di angka 21,76 persen, saat ini mengalami penurunan menjadi 20,83 persen, ini merupakan angka penurunan paling besar se-Madura,” terang dia.
Selain dari sektor tembakau, komoditas yang bisa dikembangkan di wilayah Sampang adalah perikanan dan rumput laut. Saat ini pihaknya tengah menggandeng investor untuk melakukan pilot project budidaya rumput laut di beberapa tambak bandeng masyarakat Sampang.
Tujuannya, lanjut dia, para pemilik tambak dapat memiliki penghasilan dari dua komoditas. Mengingat, bandeng dan rumput laut yang juga dikembangkan pemerintah dengan sistem yang dipraktekkan tumpang sari. Dirinya juga menyinggung data kebutuhan nasional garam sebesar 500.000 ton. Sementara produksi garam Sampang mencapai 300.000 ton.
Hal inilah yang menurutnya menyebabkan harga garam konsumsi turun. Namun, pemerintah saat ini tengah berupaya menjaga stabilitas harga dengan mengubah hasil produksi garam konsumsi menjadi garam industri.
"Kita memiliki inovasi dengan BRIN untuk meningkatkan kualitas garam industri, dengan kadar NaCl di atas 97 persen dan kadar magnesium serta kalsium di bawah 600 ppm," jelas Rudi.
Baca Juga: Jumlah Pemilih di Sampang Berkurang 20 Ribu Lebih
Menurutnya, garam Sampang saat ini memenuhi standar NaCl namun kadar magnesium dan kalsium masih tinggi. Sehingga harganya tetap murah, dia berusaha menambah nilai tambah itu dengan teknologi.
"Sudah seyogyanya APBD Sampang tidak hanya digunakan untuk bansos. Melainkan dapat mendukung untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat agar dapat mandiri dan berkelanjutan. Sehingga pengembangan ekonomi dan peningkatan taraf hidup masyarakat dapat terwujud,” terangnya. (jun/dry)
Editor : Hendriyanto