SAMPANG, RadarMadura.id – Desa tangguh bencana (destana) di Kabupaten Sampang belum merata.
Saat ini baru 19 dari 180 desa yang terbentuk destana. Alasannya, pembentukan destana diprioritaskan untuk daerah rawan bencana.
Kepala BPBD Sampang Candra Romadhani Amin mengatakan, institusinya berupaya maksimal menanggulangi kebencanaan.
Di antaranya dengan membentuk destana. Tahun ini ada empat destana yang sudah dibentuk.
Disebutkan, jumlah destana secara keseluruhan 19 desa. Sasaran pembentukan destana diprioritaskan di wilayah rawan bencana, khususnya banjir.
”Untuk tahun ini pembentukan destana sudah terealisasi semua,” katanya.
Dia mengungkapkan, pembentukan destana tidak semuanya dibentuk Pemkab Sampang.
Dua destana dibentuk BPBD Provinsi Jawa Timur (Jatim) yakni di Desa Panyepen dan Desa Margantoko.
Dua desa lain dibentuk BPBD Sampang yakni Desa Pangelen dan Desa Kamoning, Kecamatan Sampang.
Menurutnya, pembentukan destana dibutuhkan, utamanya di wilayah yang rentan terjadi bencana. Baik bencana longsor, banjir, dan sebagainya.
Terbentuknya destana akan membantu masyarakat lebih mandiri dalam menangani kebencanaan.
”Jadi, masyarakat tidak harus menunggu tim penolong untuk menyelamatkan diri saat terjadi bencana,” ungkap Candra.
Anggota Komisi IV DPRD Sampang Dedi Dores mendorong agar pembentukan destana terus diperluas.
Sebab, masyarakat harus terus diberikan penyadaran dalam mencegah terjadinya bencana.
”Kami harap OPD terkait terus berupaya semaksimal mungkin untuk memperluas cakupan pembentukan destana,” harapnya. (bai/bil)
Editor : Fatmasari Margaretta