SAMPANG, RadarMadura.id – Cuaca ekstrem yang terjadi di Kabupaten Sampang membawa malapetaka.
Indikasinya, selama sepekan enam warga Kota Bahari tersambar petir yang terjadi saat hujan deras disertai angin kencang. Insiden tersebut memakan satu korban jiwa.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sampang Candra Romadhani Amin menyatakan, cuaca ekstrem diprediksi terjadi hingga akhir April.
Sementara puncak terjadinya cuaca ekstrem belum diketahui secara pasti.
Enam warga menjadi korban sambaran petir pada masa cuaca ekstrem seperti saat ini. Pertama, sambaran petir mengenai lima warga Desa Trapang, Kecamatan Banyuates, Senin (21/4).
Beruntung, hanya satu orang meninggal dunia. Kejadian kedua dialami Syamsul, warga Pulau Mandangin, Kamis (25/4).
Atas kejadian tersebut, Syamsul harus menjalani perawatan di Puskemas Pulau Mandangin.
”Alhamdulillah (Syamsul), tidak meninggal dunia, sudah dilakukan perawatan di Puskemas Pulau Mandangin,” ujarnya.
Enam warga menjadi sengatan petir. Semuanya terjadi saat korban berada di tanah lapang.
Lima korban sambaran petir yang terjadi di Desa Trapang, Kecamatan Banyuates terjadi saat korban pulang dari sawah.
”Sedangkan di Pulau Mandangin, saat korban hendak pulang melaut seusai menangkap ikan. Korban terkena sengatan listrik saat berada di atas perahunya hingga membuat penyanggah perahu rusak,” ujarnya.
Candra mengimbau agar masyarakat tetap waspada bencana di cuaca ekstrem seperti sekarang. Dengan begitu, risiko buruk dari bencana alam bisa diminimalkan.
”Saat beraktivitas di luar (rumah), hendanya berteduh ketika hujan. Terutama saat berada di tanah lapang yang terbuka,” terangnya. (bai/jup)
Editor : Fatmasari Margaretta