SAMPANG, Radar Madura – Beragam cara dilakukan seorang penulis dalam mengekspresikan ide dan gagasan.
Bagi penulis, ide dan gagasan itu kerap dituangkan dalam wujud karya. Seperti Fadil Shufina, menuangkan gagasannya melalui karya puisi.
Bakat seni yang dimiliki Fadil Shufina tidak diperoleh secara instan. Bakat itu berhasil dikembangkan sejak masa kuliah, meskipun tidak lahir dari keluarga seniman.
Mahasiswa lulusan Universitas Kanjuruhan Malang itu gigih belajar seni seperti teater, membaca, dan mengarang puisi.
Dia aktif dalam kegiatan seni teater kampus, bahkan pernah mendirikan kelompok teater sendiri.
Bagi Fadil, seni mengasyikkan. Itu yang mendorong pria kelahiran 10 Juli 1989 tersebut menekuni sastra dan mengarang puisi.
Dia kerap diminta tampil membacakan puisi dalam beberapa kali kegiatan kesenian. Tak jarang dia menjuarai lomba membaca dan mengarang puisi di beberapa event.
Hingga akhirnya, putra kelima pasangan suami istri Saniwi dan Supina itu menerbitkan buku antologi puisi berjudul Debu Trotoar.
Buku berisi 134 halaman ini diterbitkan pada 2017. Puisi dalam buku ini banyak terinspirasi dari pengalaman penulis sendiri.
”Semua puisi yang ditulis dalam buku itu saya karang saat masih kuliah di Kota Malang,” ujar pria yang berdomisili di Desa Dulang, Kecamatan Torjun, itu.
Menurut dia, puisi yang dia tulis dalam buku itu menggambarkan banyak hal.
Seperti kehidupan anak desa, tentang petani, hingga kesenjangan sosial dan politik. Sebagian berisi puisi tentang romantisme cinta.
Fadil mengutarakan, kata trotoar pada judul buku itu karena puisi banyak dikarang di atas trotoar.
Tempat itu dijadikan tempat bersantai dan mencari inspirasi sambil minum kopi. ”Lokasinya berada di kampus saya,” kenang alumnus SMA Negeri 1 Torjun itu.
Pria berusia 35 tahun itu menyampaikan, menjadi seorang seniman harus bisa menebar karya.
Kumpulan puisi yang dijadikan buku merupakan cara Fadil mengabadikan karya. Buku ini juga bisa menjadi tambahan referensi bagi pencinta puisi.
”Bagi saya, puisi itu sesuatu yang asyik. Saya bisa belajar sastra juga banyak didukung oleh lingkungan saat masih kuliah. Apalagi, saya juga mengambil jurusan Sastra dan Bahasa Indonesia,” terangnya. (jun/bil)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Berta SL Danafia