SAMPANG, RadarMadura.id – Suasana Desa Plakaran, Kecamatan Jrengik, Sampang, padat penduduk. Rumah warga terlihat saling berdempetan. Soibah, 47, tinggal di tengah-tengah padatnya area tersebut. Hal itu terungkap saat forkopimcam dan warga mendatangi Soibah, Selasa (7/11).
Forkopimcam Jrengik terlihat berdiri di halaman melihat kondisi rumah Soibah. Kondisinya memprihatinkan. Hampir separo atapnya rusak parah.
Ada dua ruangan di dalam rumah tersebut. Satu ruangan sudah lama tidak ditempati karena gentingnya berjatuhan. Satu ruangan yang tersisa dijadikan tempat untuk menyimpan barang pribadi Soibah meski kondisinya sudah tidak layak.
Di sisi timur, terdapat ruangan berukuran sekitar dua meter. Ruangan tersebut dijadikan dapur sekaligus tempat Soibah tidur. Hanya ruangan itu yang dianggap masih aman untuk sekadar berteduh.
Soibah mengaku sudah tidak ingat sejak kapan rumahnya rusak parah. Yang jelas, dia sudah bertahun-tahun tinggal di rumah warisan orang tuanya tersebut meski tidak layak huni. Sebab, sudah tidak punya rumah lagi.
”Saya awalnya tinggal sama nenek, tapi sudah lama meninggal. Sekarang tinggal di sini bersama anak,” ujarnya.
Soibah menceritakan, sejak kecil tinggal bersama orang tua dan neneknya di rumah tersebut. Ketika menginjak remaja, Soibah ditinggal orang tuanya.
Orang tuanya, Sawemah dan Mat Juri, lebih dulu menghadap Tuhan. Sejak saat itu, perempuan satu anak itu tinggal bersama neneknya, Jumi, yang sudah meninggal.
Kesedihan Soibah belum usai. Setelah melahirkan buah hatinya, dia bercerai dengan sang suami. Soibah terasa berat untuk menyebut nama mantan suaminya.
Dia pun berusaha sekuat tenaga membesarkan anak satu-satunya, Fandi. Meski hidup dalam serba keterbatasan, atas kehendak Tuhan, anaknya kini sudah berumur sekitar 25 tahun.
”Anak saya tidak tuntas mengenyam pendidikan sekolah dasar (SD). Putus sekolah saat SD karena tidak punya biaya,” tuturnya.
Meski rumahnya rusak, Soibah mengaku tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah daerah. Namun, dia tidak pernah mengeluh. Perempuan kelahiran 1976 itu terpaksa menumpang di rumah tetangga untuk beristirahat ketika senja sudah tenggelam.
Sehari-hari Soibah menjadi petani. Dia memiliki satu petak sawah kecil warisan orang tuanya. Hasil bercocok tanam tidak cukup untuk biaya hidup sehari-hari. Karena itu, dia jadi kuli tani.
Soibah sempat berpikir menjual sawah untuk memperbaiki rumahnya. Tapi, dia berpikir panjang. Kalau sawah itu dijual, otomatis sumber kehidupannya akan hilang. Karena itu, rumahnya tidak kunjung diperbaiki karena tidak punya uang.
”Saya tidak mungkin menjual sawah untuk memperbaiki rumah,” paparnya.
Karena itu, Soibah berharap uluran tangan dari Pemkab Sampang. Dia sangat ingin memiliki rumah yang layak huni. Tidak bocor saat musim hujan. ”Penginnya diperbaiki. Saya ingin tidur nyenyak,” harapnya.
Sekcam Jrengik Khoirul Anam prihatin melihat kondisi rumah Soibah. Sebab, terkategori tidak layak huni. Dia mengeklaim, pemerintah desa sudah mengusulkan bantuan untuk program RTLH. Namun, hingga sekarang belum ada tindak lanjut.
”Karena kondisinya sudah seperti ini, kami akan memberikan atensi khusus. Salah satu tujuannya, agar pemkab memberikan perhatian dan memprioritaskan Soibah sebagai penerima bantuan program RTLH,” tandasnya. (bil/yan)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti