Sedikitnya ada 43 anak yang ikut memamerkan karyanya. Total ada 83 karya seni yang dipamerkan. Peserta adalah siswa dari tingkat PAUD, TK, SD, dan SMP. Bahkan, ada juga yang dari luar kota. Mereka merupakan binaan Sanggar Mbah Kung Art Gallery.
Menurut pemilik sanggar Mbah Kung, Chairul Alwan, karya tersebut dipajang di galeri mulai Sabtu (25/2) hingga Sabtu (4/3) depan. Pengunjung bisa melihat langsung beragam jenis karya yang bercerita tentang pribadi, keluarga, dan banyak hal.
Kata Alwan, apresiasi juga diperuntukkan kepada orang tua anak didik. Sebab, tidak semua orang tua mendukung aktivitas anak. Terutama dalam hal kegiatan seni. Maka, diharapkan ke depan semakin berkembang. Sehingga, anak-anak tersebut menjadi calon seniman di Kabupaten Sampang.
”Pada usia 4–14 tahun, mereka sudah bisa berkarya. Bahkan, di antara mereka sudah ada yang bisa menghasilkan ratusan karya,” ungkap guru yang mengajar di MAN Sampang itu.
Sebagai ketua galeri seni Mbah Kung, Chairul Alwan merasa tertantang. Yaitu, mengadakan pameran tunggal dari hasil karya anak-anak tersebut.
Untuk latihan biasanya tiap Minggu. Kadang ada yang selesai dua kali pertemuan, ada yang tiga kali. Ke depan, tidak ada batasan usia, siapa saja bisa bergabung.
”Harapan saya, supaya bisa meningkat lagi kreativitasnya. Kemudian, tidak berorientasi untuk juara. Tetapi, berkarya sebanyak-banyaknya,” harapnya.
Sementara Kepala JPRM Biro Sampang Hendriyanto menyampaikan, kegiatan tersebut penting untuk di-support semua pihak. Tujuannya, untuk menumbuhkembangkan kreativitas dan imaji anak.
”Biarkan anak mengeksplorasi kemampuannya, kita selaku orang tua wajib mewadahi apa yang diinginkan,” terangnya.
Dia juga berharap Sanggar Mbah Kung juga mendapat dukungan dari berbagai pihak. Adanya sanggar tersebut bisa dijadikan tempat edukasi kreatif bagi anak usia dini dan para siswa. Apalagi, satu-satunya di Kabupaten Sampang dan lokasinya cukup strategis.
”Semoga seni rupa dan kegiatan kesenian lainnya tumbuh subur di Sampang. Selamat HUT Sanggar Mbah Kung yang kelima,” tutupnya. (dil/dry) Editor : Abdul Basri