SAMPANG – Nasib petani garam di wilayah Sampang kian terpuruk. Pasalnya, harga kristal putih itu tak berpihak pada petani. Satu sak garam rakyat hanya laku Rp 8 ribu.
Seorang petani garam di Kelurahan Polagan, Kecamatan Sampang, Misdin mengatakan, garam yang dihargai Rp 8 ribu per sak merupakan produksi yang tidak pakai geomembran. Dari sisi kualitas memang tidak terlalu bagus. Warnanya juga kecokelatan. ”Itu oleh gudang dikategorikan kualitas tiga (K-3),” kata Misdin di sela-sela mengangkut garam di Kelurahan Polagan kemarin (15/10).
Jika dalam satu sak berisi 50 kilogram (kg), berarti rata-rata per kg hanya setara Rp 160. Padahal, dalam satu sak terkadang berisi hingga 70 kg. Dengan demikian, satu kilogram hanya setara Rp 114. Harga ini tidak menguntungkan bagi petani. ”Padahal, biaya untuk produksi garam ini cukup tinggi,” imbuhnya.
Harga garam yang lebih bagus, menggunakan geomembran. Saat ini, satu sak dipatok Rp 25 ribu. Jika dijual per ton sebesar Rp 400 ribu. Padahal, garam yang diproduksi menggunakan geomembran kualitasnya sangat bagus. ”Ini biasanya masuk kategori K1. Tapi karena sekarang garam melimpah, oleh pembeli dikategorikan K-2,” keluhnya.
Dia berharap, ke depan harga garam bisa lebih baik lagi. Sebab, ada ribuan orang yang menggantungkan hidup pada hasil garam. Baik itu petani, buruh angkut, dan lain sebagainya. ”Kami sebenarnya sedih saat garam murah seperti sekarang ini. Tapi mau bagaimana lagi, tetap harus kami garap walau harga murah,” tegasnya.
Keluhan senada disampaikan Rudi. Petani garam di Desa Aeng Sareh, Kecamatan Sampang ini juga berharap agar pemerintah mengintervensi harga garam. Sebab tanpa campur tangan pemerintah, petani akan terus menjadi korban.
Wakil Ketua Komisi II DPRD Sampang Alan Kaisan menilai ada yang perlu dibenahi dari tata niaga garam. Selama ini tata niaga garam diserahkan penuh pada mekanisme pasar. Ke depan, pemerintah daerah harus ambil bagian. Salah satunya dengan mendirikan badan usaha milik daerah (BUMD) garam.
”Kami di komisi sedang menginisiasi raperda tentang pembentukan BUMD garam,” jelas politikus Partai Gerindra itu.
Editor : Abdul Basri