JUDUL BUKU
Perempuan Sejuta Kepahitan; Perjalanan Hidup yang Tak Pernah Ringan
PENULIS
Iwan Kuswandi
PENERBIT
Mata Kata Inspirasi
Edisi Pertama, November 2025
Tebal : XVIII + 226 halaman
ISBN : 978-634-7382-24-5
PRESENSI
Lukman Hakim AG, Wartawan Jawa Pos Radar Madura
Seperti tergambar dalam judulnya, novel Perempuan Sejuta Kepahitan mengisahkan perjalanan hidup tokoh yang tak pernah ringan. Sejak usia sekolah dasar (SD), tokoh utama bernama May itu sudah dihadapkan pada kenyataan pahit keluarga.
Iwan Kuswandi menggambarkan May lahir dari keluarga sederhana yang tidak bergelimang harta. Namun, keluarganya kaya akan kasih dan sayang.
Sebagai keluarga petani, May kasihan kepada ayah dan ibu yang bekerja di sawah. Dia kemudian turut membantu pekerjaan kedua orang tuanya itu.
Selain bertani, Dahlawi, ayah May, dulu bekerja sebagai nelayan.
Namun, aktivitas melaut itu dia tinggalkan saat proyek reklamasi tambak dimulai. Selain itu, Dahlawi mengabdi sebagai guru honorer dengan upah yang tidak seberapa.
Utang mengubah perjalanan hidup keluarga Dahlawi dan Siti Maimunah.
Pasangan suami istri (pasutri) itu mengambil keputusan untuk meninggalkan kampung halaman. Mereka merantau ke luar negeri dengan meninggalkan putrinya untuk hidup bersama sang nenek, Rohani Binti Abdullah.
Hidup tanpa pelukan orang tua dirasakan May sejak dia kelas lima. Termasuk dalam membimbing dan mengontrol pendidikannya.
Sejak ditinggal pergi kedua orang tuanya, tidak ada lagi yang bertanya tentang pelajaran sekolah dan tugas dari guru.
Selepas sekolah dasar, dia melanjutkan ke pondok pesantren bersama Nabila, temannya.
Saat masa pendidikan menengah pertama ini, dia dijodohkan melalui hubungan pertunangan dengan Habibi, keponakan bibinya.
Pertunangan ini menghantui pikiran May. Dia selalu khawatir jika sewaktu-waktu tiba-tiba dinikahkan. Kepahitan baru menyusul sebelum kelulusan SMP.
Neneknya meninggal dunia saat May ujian akhir. Namun, oleh pamannya baru diberi tahu saat May selesai rekreasi.
May memang sudah ditunangkan dengan Habibi. Namun, di pesantren, May mengagumi seorang santri putra bernama Raihan.
May mulai ”belajar mencintai dengan cara paling sunyi”. Diarinya pun penuh dengan nama Raihan.
Curahan hati May dalam buku itulah yang kemudian sempat dibaca oleh Nisa. Belakangan sahabatnya itu yang justru menikah dengan Raihan. May bertemu mereka saat mengantarkan Dr Allcia, seorang peneliti dari luar negeri.
Selama proses penelitian itu, May dan Allcia menginap di rumah Nisa. Di rumah itu ada Nisa, Raihan, Nana, dan Azril.
Suatu ketika Nisa meninggal dunia. Nana, menuduh May sebagai pelaku. Namun, anehnya, meski dituduh sebagai pembunuh, May masih dibiarkan tinggal di rumah korban.
Bahkan, setelah hari keenam kematian Nisa, Nana masih tersenyum pada tamunya. Dia juga masih membuat teh tiap pagi.
Suatu sore setelah hari keenam Suparman datang dari kota. Baru saat itu Nana minta kepada suaminya itu agar May dan Allcia disuruh pergi.
Pagi hari kedelapan Allcia membongkar pelaku dan motif pembunuhan itu. Nisa tewas di tangan Nana yang ternyata bukan ibu kandungnya.
May merupakan putri Suparman hasil pernikahan dengan Akuidah. Setelah Akuidah meninggal, Suparman menikah dengan Nana.
Sebelum menikah dengan Suparman, ternyata Nana punya hubungan spesial dengan Azril.
Saat May dan Allcia tinggal di rumah Nisa, Nana cemburu pada Allcia yang terlihat sering duduk bareng Azril.
Akhirnya, Nana dijemput polisi setelah perbuatannya terbongkar. Sementara Suparman hanya berdiri mematung.
Masalah demi masalah belum selesai dalam hidup May. May akhirnya menikah dengan Habibi. May menyesal tidak pernah belajar mencintai Habibi sejak awal.
Dia sadar ”cinta tanpa kejujuran hanyalah luka yang menyamar”. Karena itu, perasaan pada Raihan disimpan dalam-dalam.
Masalah kembali muncul di lingkungan kerja May. Sebab, hanya dia satu-satunya karyawan berpendidikan paling rendah dibanding yang lain.
Segala aktivitas May di perusahaan menjadi sorotan. Dia seperti ditunggu kejatuhannya.
Pada saat bersamaan, dia jadi buah bibir warga karena tak kunjung punya anak sejak menikah dengan Habibi hingga suaminya itu meninggal dunia.
Menyandang status sebagai janda kembali menjadi sorotan. Segala gerak dan geriknya menjadi ciciran orang. Bahkan oleh sesama perempuan.
Setelah masa idah, May melaksanakan umrah melalau travel pondok pesantren dulu dia mondok. Tak dinyana, ternyata yang menjadi mutawifnya adalah Raihan.
”Di kaki Jabal Rahmah, di bawah langit Makkah yang mulia, dua hati itu bertemu bukan karena cinta masa lalu, melainkan karena cinta yang tumbuh dalam doa, kesungguhan, dan ketawaduan di hadapan Sang Maha Mengatur,” tulis Iwan.
Dengan novel ini, Iwan berhasil mengaduk-aduk emosi. Pembaca tidak hanya diajak masuk ke ruang cinta dan rindu yang dibangun dalam diri May.
Pada saat yang sama, kita disodori arti kesabaran, persahabatan, perjuangan, dan ketulusan. Di balik itu, juga ada pengkhianatan cinta.
Iwan juga mengajak memahami problem ekonomi, sosial, pendidikan, budaya, wisata, dan lain-lain.
Namun, banyaknya nama tempat menuntut pembaca lebih cermat untuk mengingat. Termasuk penyebutan dua bandara dalam cerita penyambutan Dr Alicia Vermeer.
Yakni, Bandara Jayasakti Lemanja dan Bandara Arsena Lemanja (hlm. 148). Apakah Lemanja memang punya dua bandara? Atau, apa urgensinya menyebut Bandara Jayasakti Lemanja, sementara May menyambut turis dari Belanda itu di Bandara Arsena Lemanja.
Ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan dalam novel ini. Seperti sudut pandang penulisan. Secara umum, novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga.
Namun, paragraf kedua halaman 12 hingga dua baris pertama halaman 13 penulis menggunakan kata ”aku”.
Hal yang sama juga bisa kita baca di halaman 40 dan 123–124. Selain itu, penulis menggunakan kata ”kami” dalam narasi halaman 69.
Penulisan nama tempat dan nama orang serta kata sapaan juga perlu lebih teliti. Contoh, panggilan May untuk memanggil Nabila tidak sama: Bil (hlm. 32) dan Nab (hlm. 75) serta Sa’ (hlm. 45–46) dan Nis (hlm. 70) untuk memanggil Nisa. Selain itu, penulisan Arief (hlm. 71–75) dan Arif (hlm. 76).
Novelis juga perlu lebih cermat dan konsisten dalam menulis nama tempat. Seperti nama pulau tempat tinggal Nisa di halaman 130 dan 132 ditulis Pulau Sabira.
Namun, halaman 134, 139, 166, dan 168 ditulis Pulau Lentera. Begitu pula rumah Qiqi di halaman 130 ditulis dari Pulau Sadera, tapi di halaman 132 disebut dari Pulau Pageruna Besar.
Selain itu, selulus SMP, May disebut melanjutkan ke SMK Negeri Lemanja di halaman 146. Namun, di halaman 184 dinyatakan lulus SMK Pariwisata Aruna.
Kecermatan waktu, huruf besar dan kecil, dan font juga diperlu diperhatikan. Dalam buku ini disebutkan bahwa May lulus SMP pada 2024. Lalu melanjutkan SMK yang umumnya tiga tahun, berarti lulus 2027.
Setelah itu, menikah hingga usia pernikahan empat tahun, berarti 2031. Sementara buku ini baru terbit November 2025.
Kita nantikan lanjutan kisah May dan Raihan di novel berikutnya. Semoga pertanyaan-pertawaan di buku ini terjawab di seri selanjutnya.
Selain beberapa catatan di atas, semoga kertas sampul dan penjilidan juga lebih bagus. Semoga. (*)
Editor : Amin Basiri