Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Lupus yang Nakal dan Berkelakuan Baik

Hera Marylia Damayanti • Minggu, 27 April 2025 | 22:08 WIB

Resensi buku Lupus Tangkaplah Daku, karya Hilman.
Resensi buku Lupus Tangkaplah Daku, karya Hilman.
 

SEBAGIAN besar anak remaja, terutama yang ada di buku fiksi, cenderung memiliki karakter yang egois dan temperamen. Seolah semua anak remaja di dunia ini adalah ancaman bagi orang lain jika tidak bisa menanganinya secara tepat. Itulah yang kemudian melahirkan karakter kuat dalam tokoh-tokoh novel.

As Laksana, misalnya, menyebut karakter sebagai elemen yang menjadi jantung dari setiap cerita. Dengan membuat karakter yang menarik, tokoh dalam cerita itu akan terlihat luar biasa atau penting untuk ditampilkan. Artinya, menggunakan karakter yang memikat hati pembaca berarti masuk ke dalam esensi dari cerita.

Beberapa penulis cerita, seperti E.M. Forster, Lajos Egri, dan Ernest Hemingway, serta Kafka juga punya pandangan yang kurang lebih sama. Menurut mereka, alih-alih fokus pada alur cerita, karakter yang ”hidup” justru menjadi salah satu alat penting agar membuat fiksi lebih kuat. Karenanya, sebagian pencerita tak henti-hentinya menunjukkan karakter itu.

Budi Darma, salah seorang tokoh sastrawan besar di Indonesia juga menjadi bagian dari barisan para pencerita yang riang nan berbinar-binar melihat karakter dalam karya fiksi, terutama sastra. Dalam berbagai ulasan dan wawancara di sejumlah media, ia memandang bahwa karakter bukan hanya tokoh dalam cerita, melainkan oretan gambar dari segala hal rumit antara manusia dan dunia.

Tentu semua pencerita memiliki pandangan serupa semacam itu. Beberapa pencerita malah cenderung bersikap positif terhadap perkembangan karakter atau tokoh dalam ceritanya. Salah satunya adalah Hilman Hariwijaya, novelis asal Indonesia yang bisa membawa karakter fiksinya ke dunia nyata dengan mengubah sikap remaja di Jakarta tempo dulu.

Sejak awal kariernya sebagai penulis, Hilman membuat satu cerita pendek yang cukup mengagetkan semua kalangan remaja berjudul Lupus pada Desember 1986. Cerita ini lalu dikembangkan jadi serial novel. Serial ini pun sangat populer di kalangan remaja pada 1980-an sampai 1990-an. Hilman menulis apa yang ia sebut ”karakter hidup”: seorang anak remaja yang memiliki kepribadian nakal tapi sebenarnya dalam beretika pada orang lain.

Sama dengan tokoh cerita, Lupus itu juga berusaha menjawab masalah-masalah remaja, seperti soal mereka terpinggirkan dari pandangan keluarganya serta bagaimana hidup dalam stereotipe yang keliru. Namun, bedanya, selain berusaha hidup dalam masa remaja, Lupus juga berusaha menggambarkan sosok yang selama ini bagi orang-orang salah menilai sikap remaja yang nakal.

Itulah kenapa buku yang berjumlah 157 halaman ini membahas karakter Lupus dengan sepuluh bagian. Bagian 1, misalnya, membahas tentang karakter Lupus: bagaimana penampilan dan sikap Lupus di era itu? Tidak seperti pandangan orang kebanyakan, Hilman membuat karakter yang cukup ikonik dengan mengubah penampilan karakternya dengan rambut gondrong, doyan memakan permen karet, bermain tebak-tebakan, dan ketertarikannya pada gadis. Artinya, Lupus sudah menjadi karakter yang tak diprediksi sebelumnya (hlm. 22).

Bagian 2 mulai membahas tentang kisah cintanya dengan Poppi, salah satu temannya yang tidak begitu diceritakan secara panjang lebar. Bagian ini justru dilanjutkan dengan bagian 3 yang membahas tentang pekerjaan Lupus di suatu majalah bernama Hai untuk membuat berita seputar musik jazz. Dua bagian yang berbeda ini sebetulnya sudah tidak biasa di kalangan novel, sebab apa yang ingin diceritakan Hilman, bukan tentang kencan pertama dengan Poppi atau meliput berita soal musik jazz, tapi soal kepribadian Lupus di setiap fragmennya.

Seperti dijelaskan oleh Eka Kurniawan, Hilman identik dengan remaja Jakarta karena ceritanya selalu menempatkan pada tokoh Lupus. Dengan menempatkan pada Lupus, orang-orang yang membacanya akan mencintai karakternya daripada mengikuti alur cerita. Fokus semacam ini merupakan bentuk pengembangan karakter di novel-novel populer barat.

Selain fokus pada karakter, Hilman membuat seri cerita ini dengan menggunakan bahasa Indonesia khas remaja. Penggunaan ini mungkin dilakukan karena sosok Lupus yang kocak dan manis. Kita akan menemukan bahasa nggak, whoaaa, nongol, dan sejumlah bahasa serupa. Kita jusru kesulitan untuk berjumpa dengan bahasa yang kaku.

Kita bisa menjumpai bahasa seperti itu di beberapa ceritanya. Memang tak banyak, namun dengan menggunakan bahasa gaul, kita bisa tertarik untuk membacanya. Misalnya, ”Sudah ketemu alasan yang pas untuk membela diri? Belum. Saya justu lagi nyari. Kamu ada ide? Soalnya saya nggak bakat berbohong…, sahut Lupus sedih. Dengan dongkol Poppi mendorong tubuh Lupus yang menghalangi pintu mobilnya, lalu segera membuka pintu tanpa menoleh.” (hlm. 33).

Percakapan Lupus dengan Poppi, kekasihnya, adalah awal karakter pemuda gondrong ini memberi kesan bahwa kisah cinta mereka biasa-biasa saja. Kita tak bisa menemukan percakapan puitis nan indah. Uniknya, Hilman tidak menyuguhkan kata-kata semacam itu sepanjang novel.

Sekalipun tak ada percakapan puitis, bukan berarti karakter Lupus tidak menunjukkan gaya pecinta seorang remaja SMA. Lupus yang bekerja sebagai wartawan di majalah Hai justru memberi trik yang jarang dipakai oleh orang-orang kebanyakan.

Contohnya, saat Lupus bertemu wanita yang punya senyum manis di angkot. Mulanya ia ingin berangkat ke sekolah. Karena menemukan wanita itu, ia tidak memasang muka agar tak terdeteksi sebagai ingin bicaranya dengannya. Apa yang ia lakukan? Ia berlagak menginjak kaki wanita itu.

Dengan wajah memelas ia berkata”Eh, maaf, ya. Nggak sengaja. Abis didorong-dorong sih. Sakit, ya? Ekspresi Lupus benar-benar sempurna menunjukkan rasa penyesalannya. Wah, ada bakat jadi aktor watak dia. Nggak. Nggak sakit. Injek aja terus! Sahut cewek itu dingin. Lupus kaget. Berkat sandiwaranya yang kurang sempurna, dia sampai lupa mengangkat kakinya yang menginjak kaki cewek itu. Eh kamu marah, ya? Wajah Lupus penuh penyesalan. Kali ini serius. Gadis itu tersenyum. Oh, God, ini kesempatan baik.” (hlm 29).

Begitulah karakter Lupus. Ia kadang-kadang menjelma sebagai pemuda jail yang banyak tingkah, tapi ia juga memiliki kepribadian yang baik. Karena karakter inilah, Lupus begitu dicintai pembacanya. Mengambil kata-kata Hilman, Sebandel-bandelnya Lupus, dia tetap anak yang berbakti pada ibunya. (*)

IKROM F.

Santri Annuqayah asal Jember

Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News

Editor : Hera Marylia Damayanti
#berbakti #pemuda #buku fiksi #karakter #novel #karya fiksi #nakal #lupus #remaja Jakarta #hilman