AFIFAH Nadhirah biasa disapa Ifa, lahir di Berau, Kalimantan Timur, pada 3 Mei 2002. Selama kuliah di Universitas Al-Amien Prenduan, dia aktif dalam organisasi AJMI (Aliansi Jurnalis Muda Islam).
Dia bercita-cita menjadi seorang pengusaha sekaligus penulis. Organisasi AJMI dapat menjadi wadah sebagai pendukung dan melatih bakatnya dalam menulis. Jejak Penaku di Bumi Djauhari merupakan tulisan yang dikumpulkannya dari buku saku khusus kulsub, istirham, kajian, dan lain-lain selama menjadi mahasantri. Buku ini merupakan karya ketiganya. Buku ini lahir sebagai upaya mengabdikan dan menyebarkan kearifan yang didapatkan di Pondok Pesantren Al-Amien.
Buku berjudul Jejak Penaku di Bumi Djauhari adalah sebuah nasihat dan perjalanan dalam menuntut ilmu sehingga menjadi tuntunan atau solusi yang sedang dihadapi. Setiap halaman buku ini mencerminkan cahaya ilmu dan kebijaksanaan yang diberikan pendidik kepada setiap muridnya.
Islam adalah agama yang sempurna, Al-Qur’an sebagai tuntunan, Rasulullah SAW sebagai panutan hingga pada akhirnya mencapai pada tingkat keimanan. Sejatinya, setiap masalah kehidupan yang terjadi sudah ada petunjuk dan tuntunannya. Hanya bagaimana orang yang menyikapi masalah tersebut. Buku ini menghadirkan berbagai solusi permasalahan kehidupan hingga menghadirkan inspirasi bagi pembacanya. Mengajarkan bagaimana kita sebagai seorang muslim untuk menghadapi berbagai masalah dengan sebaik-baiknya. Sesuai dengan tuntunan syariat Islam, yaitu Al-Qur’an dan sunah.
Percaya pada Allah SWT adalah hal yang patut dilakukan oleh kita sebagai hamba yang selalu membutuhkan-Nya. Salah satu yang harus kita lakukan adalah selalu berbuat baik pada sesama dan taat pada Sang Khalik dan jangan sampai menzalimi diri sendiri, apalagi orang lain. Sebab, kesuksesan tidak akan dirasakan oleh orang-orang yang zalim. ”Yang memberikan kesuksesan itu bukanlah orang lain, lembaga, atau semacamnya. Namun, itu semua bergantung pada diri kita sendiri”. Salah satu kutipan dari penulis yang menyadarkan bahwa keberhasilan itu bergantung sepenuhnya pada upaya dan ketekunan kita sendiri. Bukan karena suatu lembaga atau orang lain. Diri kita adalah peran utama, sedangkan yang menjadi sutradaranya Allah SWT selayaknya sebuah film, menjadi perantara kesuksesan tersebut. Ketika takdir sudah ditetapkan kepada seseorang, tetapi Allah SWT juga Mahakuasa yang mampu membolak-balikkan hati, bahkan takdir sekalipun.
Buku ini juga menghadirkan kisah perjalanan bagi seorang penuntut ilmu. Sejatinya, setiap orang pasti melalui berbagai ujian dan cobaan, khususnya bagi seorang penuntut ilmu. Tak jarang seorang penuntut ilmu gagal dalam prosesnya karena berbolak-balik niatnya. Bermula dari niatnya menuntut ilmu, di tengah perjalanan niat itu berubah karena dunia. Maka, perbaiki niat dalam menuntut ilmu dan mensyukuri setiap nikmat sehatmu. Jaga niatmu karena niat berasal dari hati dan hati tempat masuknya bisikan setan.
Selain tuntunan dan pengalaman, buku ini juga menghadirkan berbagai nasihat yang sangat bermakna dari para kiai, nyai, ustad, dan penulis. Salah satu tujuan dan faedah orang menghadiri majelis ilmu adalah untuk mengecas hati serta memberikan haknya kepada hati dan jiwa untuk mendengarkan nasihat. Karena jika seseorang jarang menghadiri majelis ilmu, kelak hatinya akan keras dan sulit menerima nasihat kebaikan. Maka, dengan menghadirkan kutipan-kutipan nasihat pada buku ini dapat mengecas hatinya. Kutipan-kutipan ini dicantumkan pada bagian Kilau Inspirasi di Bumi Djauhari.
”Di antara banyaknya kekurangan yang paling menyiksa adalah hati yang tidak lapang” (Afifah Nadhirah).
”Manfaatkan waktu untuk mencerdaskan otak dan mencerdaskan hati” (Kiai Mujammie Abdul Musyfie).
”Kita adalah pribadi yang jahat bagi mereka yang iri” (Nyai Nurjalilah).
Itulah sebagian kutipan nasihat dan inspirasi dari banyaknya kutipan inspirasi lain yang menyadarkan diri dan melembutkan hati. Secara keseluruhan, buku ini sangat mudah dipahami bagi semua kalangan dan diterima dengan baik. Kekurangannya hanya dari beberapa penulisan kalimat atau kata yang salah atau tipo, kemungkinan dari proses percetakannya. (*)
NUR RIZKA APRILIANI
Mahasiswi STIU DI Al Hikmah Jakarta Selatan program Pendidikan Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir.
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti