BUKU ini ditulis oleh mantan jurnalis yang jatuh cinta pada negara dengan budaya dan arsitektur yang menakjubkan. Penulis ini sebelumnya pernah mengunjungi 27 provinsi di Indonesia dan 41 negara di dunia. Buku ini adalah buku travel kedua yang telah ia terbitkan. Sebelumnya, penulis pernah menerbitkan buku dengan judul Rp 3 juta keliling China Utara di 2013. Penulis ini menulis karya sesuai dengan seleranya, hal ini bisa dilihat dari buku terbitannya yang banyak mengandung atau memaparkan bangunan-bangunan yang memiliki desain arsitektur yang tinggi.
Kali ini kita akan mengulas buku terbitan keduanya dengan judul Discovering Uzbekistan. Buku ini berisi tentang pengalaman penulis selama ia menjadi solo female traveler. Di buku ini si penulis menulis rentetan perjalanannya selama berada di Uzbekistan yang dijuluki sebagai negeri 1001 malam karena sejarahnya.
Dimulai dari kali pertama si penulis landing dan sampai di bandara negeri 1001 malam tersebut. Pada bagian prolog, penulis memaparkan singkat tentang alasan dan latar belakang ia ingin mengunjungi negeri 1001 malam tersebut. Lalu, dilanjut dengan bagian satu yang langsung menjelaskan rentetan cerita saat pertama menginjakkan kaki di negeri asing tersebut.
Buku ini dikemas sedemikian rupa menarik sebagai media sang penulis untuk menyampaikan kisahnya yang mungkin akan menjadi sumber informasi untuk para traveler yang akan mengunjungi negara tersebut kemudian. Buku ini cocok digunakan sebagai pengetahuan dasar bagi para traveler dunia yang mungkin berminat mengunjungi negeri 1001 malam tersebut, negeri dengan 1001 sejarah.
Buku ini memiliki sampul yang cukup menarik dan menggambarkan sedikit tentang maksud isi buku tersebut sehingga membuat siapa pun yang melihat sampul buku ini akan tertarik untuk membacanya, apalagi bagi para traveler ataupun para pelajar yang senang sejarah. Buku ini juga memiliki halaman yang tidak terlalu banyak sehingga membuat pembaca tidak malas untuk membaca hal ini sangat mendukung penampilan sebuah buku tersebut.
Isi dari buku ini juga terkesan simpel serta tidak berbelit-belit. Walaupun singkat dan memiliki halaman yang tidak begitu banyak, bukan berarti buku ini tidak cukup menyimpan informasi yang lengkap. Hal ini dapat dilihat dari beberapa halaman yang penulis selipkan gambar.
Gambar itu sengaja penulis potret di tempat sebagai tambahan informasi tentang negeri yang sedang ia pijaki. Hal ini menambahkan kesan menarik. Selain pengalaman penulis ditulis di sana, penulis juga menyelipkan sedikit kisah-kisah sejarah tentang beberapa tempat yang penulis kunjungi. Dengan begini, buku ini dapat dijadikan sebagai buku informasi yang akurat dan simpel.
Buku ini sedikit memiliki kekurangan, yaitu di bagian bahasa. Dalam buku ini si penulis menyertakan beberapa bahasa asing seperti bahasa Inggris, serta bahasa sehari-hari yang digunakan di Uzbekistan. Penulis tidak menyertakan arti dari bahasa tersebut sehingga akan membuat pembaca bertanya-tanya dan kebingungan. Hal ini dapat ditemui di beberapa halaman seperti kata ”Ekhtiyot buling, eshiklar yopiladi; keyingi bekat Alisher Navoi”, yang terdapat di halaman 24, dan masih ada beberapa lagi kata bahasa Uzbekistan yang penulis cantumkan tanpa arti bahasa Indonesia. Alangkah baiknya, ketika dalam sebuah buku terdapat bahasa asing, penulis juga menyertakan arti dari kalimat tersebut agar pembaca tidak kebingungan dan membuat pembaca lebih mengerti apa yang sedang penulis sampaikan. Mungkin ini akan menjadi motivasi bagi penulis agar lebih mengembangkan lagi karya yang akan ia terbitkan.
Topik-topik yang dipaparkan dalam buku ini sejatinya hanya sebuah kisah pribadi yang penulis paparkan sebagai informasi bagi traveler lain dan sebagai media bagi penulis untuk mengembangkan bakat menulis serta untuk berbagi pengalamannya. Buku ini hanya berisi sedikit informasi yang cukup digunakan sebagai pegangan bagi para traveler yang akan mengunjungi tempat yang penulis kunjungi.
Tentunya, masih banyak lagi informasi atau beberapa fakta menarik tentang Uzbekistan yang belum terungkap. Masih banyak lagi misteri-misteri dan keunikan Uzbekistan, tempat dengan julukan negeri 1001 malam yang tidak penulis cantumkan. (*)
NURUL FITRIA
Mahasiswi semester 2 IDIA Prenduan
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti