Religi, RadarMadura.id – Hari Raya Idul Adha 2025 diperkirakan akan jatuh pada hari Jumat, 6 Juni 2025. Penetapan ini menjadi acuan penting bagi umat Islam di Indonesia untuk mempersiapkan diri menyambut momen suci ini.
Idul Adha merupakan salah satu hari raya besar umat Islam yang selalu dinanti karena mengandung nilai ibadah, kepatuhan, dan pengorbanan yang sangat tinggi.
Perayaan ini juga menjadi waktu pelaksanaan ibadah qurban, yaitu menyembelih hewan ternak sebagai bentuk ketaatan dan syukur kepada Allah SWT.
Pemerintah melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri telah menetapkan tanggal 6 Juni 2025 sebagai hari libur nasional untuk memperingati Hari Raya Idul Adha.
Selain itu, cuti bersama juga diberikan pada hari Senin, 9 Juni 2025. Dengan demikian, masyarakat memiliki waktu libur panjang sejak Jumat hingga Senin, yang memungkinkan pelaksanaan qurban dan kegiatan sosial keagamaan dapat dilakukan dengan lebih tenang dan terorganisir.
Hari Raya Idul Adha bukan sekadar hari libur atau seremonial semata. Ia memiliki akar sejarah dan spiritual yang dalam, merujuk pada kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS.
Kisah ini menjadi teladan keteguhan iman dan ketundukan kepada perintah Allah. Nabi Ibrahim yang diuji melalui perintah untuk mengorbankan anaknya, menunjukkan ketaatan luar biasa, dan Nabi Ismail yang rela menjadi korban juga menunjukkan keikhlasan yang luar biasa.
Peristiwa ini kemudian diabadikan sebagai dasar ibadah qurban yang dilakukan oleh umat Islam setiap tanggal 10 Dzulhijjah.
Sementara itu, penentuan Hari Raya Idul Adha secara resmi oleh pemerintah tetap akan mengikuti hasil sidang isbat yang biasanya digelar menjelang masuknya bulan Dzulhijjah.
Sidang isbat melibatkan berbagai pihak, termasuk ahli astronomi, ulama, dan perwakilan organisasi keagamaan, untuk memastikan penanggalan hijriyah sesuai dengan rukyatul hilal (pengamatan bulan).
Namun, Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah lebih awal menetapkan Hari Raya Idul Adha jatuh pada 6 Juni 2025 melalui maklumat resmi yang dikeluarkan berdasarkan perhitungan hisab hakiki wujudul hilal.
Penetapan ini menjadi pedoman bagi warga Muhammadiyah dalam mempersiapkan diri untuk berqurban, termasuk memilih hewan qurban, pembagian daging, dan pelaksanaan ibadah lainnya.
Qurban dalam Islam bukanlah sekadar menyembelih hewan, tetapi merupakan simbol ketundukan, pengorbanan, dan kepedulian sosial.
Daging hasil sembelihan tidak hanya dikonsumsi oleh yang berqurban, tetapi sebagian besar dibagikan kepada fakir miskin dan masyarakat yang membutuhkan. Dengan demikian, semangat berbagi dan solidaritas sosial sangat terasa dalam momen ini.
Idul Adha juga menjadi pengingat penting bahwa dalam kehidupan ini, kita seringkali dihadapkan pada pilihan antara mengikuti kehendak pribadi atau tunduk kepada kehendak Ilahi.
Seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim, keputusan untuk mengikuti perintah Allah meskipun bertentangan dengan naluri sebagai orang tua adalah contoh nyata ketakwaan sejati.
Menjelang Hari Raya Idul Adha, banyak umat Islam mulai mempersiapkan diri, baik secara spiritual maupun materiil.
Tidak sedikit yang mulai menabung sejak jauh hari untuk membeli hewan qurban terbaik. Ada pula yang memilih berqurban melalui lembaga amil agar distribusi daging qurban dapat menjangkau daerah-daerah pelosok yang kekurangan pangan.
Tahun ini, libur panjang yang bertepatan dengan Idul Adha memberikan peluang lebih besar bagi umat Islam untuk tidak hanya menjalankan ibadah, tetapi juga mempererat hubungan keluarga, memperkuat ukhuwah Islamiyah, dan memperluas kegiatan sosial.
Momentum ini juga bisa dimanfaatkan untuk mengajarkan nilai-nilai qurban kepada generasi muda, agar mereka memahami makna sebenarnya dari pengorbanan dan kepedulian terhadap sesama.
Dalam konteks kehidupan modern yang semakin individualis, semangat qurban di Hari Raya Idul Adha menjadi penyeimbang penting.
Ia mengingatkan bahwa keberagamaan tidak hanya soal ritual, tetapi juga soal empati, pengorbanan, dan pemberdayaan sosial.
Melalui qurban, umat Islam diajarkan untuk tidak hanya dekat kepada Allah, tetapi juga peka terhadap penderitaan sesama.
Oleh karena itu, mari kita jadikan Hari Raya Idul Adha 2025 sebagai momentum untuk memperkuat ketakwaan, meningkatkan solidaritas sosial, serta menumbuhkan semangat berbagi.
Dengan keikhlasan dalam berqurban, kita tidak hanya menjalankan perintah agama, tetapi juga ikut membangun masyarakat yang lebih adil dan berempati.
Semoga perayaan Idul Adha tahun ini membawa berkah, kedamaian, dan keberkahan bagi seluruh umat.***
Editor : Amin Basiri