Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Menghitung Fidyah: Panduan Sederhana untuk Menunaikan Kewajiban dengan Benar

Amin Basiri • Selasa, 13 Mei 2025 | 16:09 WIB
Cara pas menghitung jumlah fidyah yang benar
Cara pas menghitung jumlah fidyah yang benar

RELIGI, RadarMadura.id - Tidak semua orang mampu menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Bagi sebagian orang, kondisi fisik atau situasi tertentu membuat mereka harus melewatkan puasa, dan tidak memiliki kesempatan untuk menggantinya di lain waktu.

Di sinilah fidyah hadir sebagai solusi dari Allah SWT—bentuk kemurahan-Nya agar ibadah tetap bisa dijalankan dalam bentuk lain.

Namun, masih banyak umat Muslim yang bingung: bagaimana sebenarnya cara menghitung fidyah? Berapa besar yang harus dibayarkan? Siapa yang berhak menerima? Dan apakah bisa dibayar dengan uang?

Bayangkan seorang ibu hamil yang tidak kuat berpuasa selama Ramadhan karena khawatir akan kondisi bayinya. Selama sebulan penuh ia tidak berpuasa.

Setelah Ramadhan usai, ia bertanya-tanya: “Apa yang harus saya lakukan untuk mengganti puasa yang tertinggal?”Ia mendengar kata fidyah, tapi tidak tahu pasti bagaimana menghitungnya.

Langkah Pertama: Catat Hari yang Ditinggalkan

Semua dimulai dari hal yang paling dasar—menghitung berapa hari puasa yang tidak dijalankan. Dalam kasus ibu tadi, jumlahnya adalah 30 hari. Maka, fidyah yang harus dibayar adalah untuk 30 hari, Setiap hari yang ditinggalkan, berarti ada satu fidyah yang harus dibayarkan.

Langkah Kedua: Tentukan Bentuk dan Nilai Fidyah

Fidyah bisa dibayarkan dalam dua bentuk: makanan atau uang. Para ulama sepakat bahwa yang utama adalah memberikan makanan pokok kepada satu fakir miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan. Biasanya berupa beras sebanyak satu mud (sekitar 0,6 sampai 0,75 kg).

Namun dalam praktik modern, sebagian ulama dan lembaga zakat membolehkan fidyah dibayar dalam bentuk uang, selama nilainya setara dan disalurkan kepada yang berhak.

Misalnya, jika satu porsi makan di daerah Anda setara dengan Rp50.000, maka itu bisa menjadi patokan nilai fidyah per hari.

Jadi, untuk 30 hari:

> Rp50.000 x 30 hari = Rp1.500.000

Itulah jumlah fidyah yang harus dibayarkan dalam bentuk uang.

Langkah Ketiga: Salurkan Kepada yang Amil zakat

Fidyah bukan sembarang sedekah. Ia harus diberikan kepada fakir atau miskin—mereka yang benar-benar kekurangan secara ekonomi.

Ini bisa dilakukan secara langsung, mencari orang yang membutuhkan di sekitar lingkungan, atau bisa juga melalui lembaga zakat terpercaya.

Beberapa orang memilih cara praktis dengan membayar fidyah lewat BAZNAS atau lembaga sosial Islam lainnya yang sudah memiliki sistem distribusi. Ini sah, dan justru bisa membantu memastikan fidyah sampai ke tangan yang tepat.

Langkah Terakhir: Luruskan Niat

Meski terdengar teknis, fidyah tetaplah ibadah. Maka penting untuk meluruskan niat di dalam hati bahwa fidyah ini adalah bentuk ketaatan kepada Allah, sebagai pengganti ibadah puasa yang tidak bisa dijalankan. Tidak perlu diucapkan, tetapi harus disadari.

Menghitung fidyah bukan perkara rumit jika kita memahami dasarnya:
Satu hari tidak berpuasa = satu fidyah = memberi makan satu orang miskin.

Nilai fidyah disesuaikan dengan harga makanan layak di sekitar Anda. Salurkan dengan tepat, dan niatkan sebagai ibadah.

Seperti halnya puasa, fidyah juga membuka pintu keberkahan. Ia adalah jalan bagi mereka yang tidak bisa berpuasa, agar tetap bisa menyentuh keberkahan Ramadhan, lewat kepedulian kepada sesama.***

Editor : Amin Basiri
#fidyah #proses #pembayaran #uang