Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Mengenal Ponpes Banyuanyar Pamekasan, Salah Satu Ponpes Tertua di Pulau Garam

Hendriyanto • Senin, 8 Juli 2024 | 18:54 WIB

PERKUAT SILATURAHMI: Beberapa keturunan RKH Itsbat bin Ishaq berfoto bersama dalam satu kesempatan.
PERKUAT SILATURAHMI: Beberapa keturunan RKH Itsbat bin Ishaq berfoto bersama dalam satu kesempatan.

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Nama Pondok Pesantren (Ponpes) Banyuanyar tidak asing di telinga masyarakat. Pesantren yang didirikan oleh RKH. Itsban bin Ishaq itu sudah berdiri sekitar abad ke-17.

Nama Banyuanyar diambil dari kata banyu yang berarti air dan anyar berarti baru. Dalam pandangan batinnya, Kiai Itsbat melihat sumber mata air yang jernih.  Sumber itulah yang digunakan santri hingga saat ini.

Lembaga pendidikan Islam yang terletak di Desa Potoan Daya, Kecamatan Palengaan, Pamekasan itu juga menjadi pembuka jalan bagi puluhan pesantren lain. Mulai dari pesantren di wilayah Madura hingga pesantren di Tapal Kuda.

Selain dikenal sebagai seorang yang alim rabbani, Kiai Itsbat juga merupakan seorang arsitek dan tuan tanah. Hal itu diterangkan oleh Ketua Yayasan RKH Itsbat Banyuanyar RH. Lora Abbas Muhammad Rofii.

Baca Juga: Pangdam Kunjungi Ponpes Al-Hamidy Banyuanyar, Panji Hitam Turut Jaga Keamanan

”Beliau membagi tanahnya kepada putra-putranya. Pertama, memberikan tanah kepada Kiai Nasruddin di Desa Potoan Laok, Kecamatan Palengaan. Sekarang jadi Ponpes Miftahul Ulum Panyepen,” tururnya.

Kedua, Kiai Itsbat memberikan tanah pada anaknya yang bernama Kiai Abd. Ghoni di Jember. Di lokasi itulah berdiri sebuah lembaga pendidikan Islam yang cukup terkenal. Yaitu, Ponpes Bustanul Ulum Bulugading.

Kiai kharismatik itu juga memberikan tanah kepada Kiai Abdullah di Desa Pamoroh, Kecamatan Kadur. Berkat kegigihan Kiai Abdullah, berdiri sebuah pesantren bernama Ponpes Banyuayu di wilayah tersebut.

”Lalu, Ponpes Banyuanyar diteruskan oleh putra bungsu Kiai Itsbat bernama RKH. Abd. Hamid. Kiai Hamid ini memiliki tujuh orang anak yang terdiri dari tiga laki-laki dan empat perempuan,” terang Lora Abbas.

Baca Juga: Pondok Pesantren Raudlatul Iman Sumenep Terapkan Program Akselerasi Baca Kitab

Anak sulung Kiai Hamid adalah Nyai Salma. Lalu, Kiai Abd. Majid, Kiai Abd. Aziz atau Kiai Ali Wafa, Nyai Hamidah, Nyai Ruqoyyah, dan Nyai Juwairiyah. Putra Kiai Hamid yang terakhir adalah Kiai Baidhowi.

Sebelum meninggal, Kiai Abd. Hamid juga sempat berwasiat terkait Ponpes Banyuanyar. Sehingga, muncul istilah dhalem barat dan timur. Khusus dhalem barat, Kiai Hamid mewariskannya pada Kiai Abd. Majid.BSementara, dhalem timur diwariskan pada Kiai Baidhowi.

”Sebagai pembatas. Kiai Hamid menyebutkan pohon tanjung dan parseh ke arah tenggara di maqbaroh Banyuanyar,” imbuh Lora Abbas dalam penjelasannya.

Baca Juga: Layanan UHC Hanya untuk Warga Prasejahtera, Komisi IV DPRD Pamekasan Sebut Revisi Perbup Dinilai Terburu-buru

Setelah Kiai Abd. Majid merintis Ponpes Mambaul Ulum Bata-Bata, Banyuanyar dhalem barat (sekarang dikenal dengan nama Darul Ulum Banyuanyar). Kemudian diteruskan oleh putranya, yaitu Kiai Abd. Hamid Baqir.

Khusus dhalem timur (sekarang bernama Al-Hamidy Banyuanyar) dilanjutkan oleh Kiai Muhammad Rofii. Namun, sebelum Kiai Rofii dewasa, Ponpes Al-Hamidy Banyunayar sempat diasuh oleh beberapa kiai.

Yaitu, Kiai Khozin Abdullah, Kiai Salim Zayyadi, Kiai Shobri, dan Kiai Mudatssir Badruddun. "Semoga kelak kita berkumpul bersama mereka di surga Allah subhanahu wa taala,” tukas Lora Abbas. (afg/dry)

Editor : Hendriyanto
#darul ulum #banyuanyar #pondok pesantren #pamekasan #ponpes #madura