SUMENEP, RadarMadura.id – Aimmatul Muslimah menghibahkan dirinya untuk memperjuangkan keadilan. Warga Desa Gadu Barat, Kecamatan Ganding, Sumenep, ini aktif di berbagai lembaga sosial.
Dia bertekad memperjuangkan kemaslahatan umat. Terutama kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.
Perempuan kelahiran 27 Mei 1993 itu saat ini aktif di Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Sumenep.
Juga berkecimpung dalam Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama (GKMNU), Satuan Tugas (Satgas) Gerakan Pengabdian NU pada Umat. Selain itu, dia aktif di Forum Ulama Perempuan Madura (FUPM).
Alumnus MTs 1 Annuqayah Putri itu juga aktif di lembaga swadaya masyarakat atau organisasi non-pemerintah (ornop) yang bergerak dengan isu utama penegakan hak-hak perempuan dengan perspektif Islam, yakni Simpul Rahima.
Lalu, aktif juga di Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI). Dewan Pengasuh PP Sabilul Huda Ganding itu juga mengajar ilmu balaghah di MA 1 Annuqayah Putri.
Aktivitas Aimmatul Muslimah banyak berhubungan dengan kemaslahatan umat. Sebab, sejak dulu dirinya memang memiliki cita-cita untuk memperjuangkan hak-hak umat.
”Yang berhubungan dengan kemanusiaan harus terus kita perjuangkan,” katanya.
Alumnus S-1 Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta, itu juga mengungkapkan, menjelang Ramadan tahun ini, ada santri yang meninggal dunia karena diduga dianiaya santri lain.
Hal tersebut membuatnya selaku pengurus FUPM untuk melakukan gebrakan agar hal serupa tidak terjadi di ponpes di Madura.
Karena itu, dia dan rekan-rekan lainnya berinisiatif mengadakan Tadarus Stop Bullying di sejumlah pesantren di Madura.
Kegiatan ini sudah terlaksana di enam pesantren selama Ramadan 1445 H. Enam pesantren itu tersebar di Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.
Neng Aim juga terus menjunjung tinggi keadilan untuk kaum laki-laki dan perempuan. Keduanya harus sama-sama dimuliakan.
Sebab, selama ini kebanyakan kaum perempuan selalu dikesampingkan. Dia mengakui, berbicara persoalan itu terkadang memancing polemik.
”Jika laki-laki bisa dimuliakan dan dihargai, perempuan juga bisa dong. Jika laki-laki bisa menjadi pemimpin, perempuan juga bisa dong. Kita manusia diciptakan dari bahan yang sama,” ujar alumnus MA 1 Annuqayah Putri itu.
Kesetaraan gender itu dia suarakan di luar dan di dalam pesantren. Dia mengisi pengajian kitab Sittin ’Adliyah karya Faqihuddin Abdul Kodir di Pondok Pesantren Sabilul Huda.
Hadis-hadis dalam kitab ini berbicara tentang hak-hak perempuan. ”Sosialisasi berkenaan dengan hak-hak perempuan terus saya lakukan,” ujar pengurus PAC ISNU Ganding itu. (iqb/luq)
Baca artikel dan berita menarik dari RadarMadura.id lainnya di Google News
Editor : Hera Marylia Damayanti