Nasional Madura Food & Travel Sastra & Budaya Sportainment Hiburan Features Cek Fakta Catatan Pendidikan Hukum Kriminal Ekonomi Bisnis Internasional Lifestyle Oto & Tekno Religi Ibu & Anak Kesehatan Radar Madura TV

Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Darul Istiqomah, Pamekasan, Madrasah Wustho Belum Punya Ruang Kelas  

Fatmasari Margaretta • Sabtu, 20 April 2024 | 00:24 WIB

 

SEMANGAT: Sejumlah siswa-siswi Darul Istiqomah berada di musala.
SEMANGAT: Sejumlah siswa-siswi Darul Istiqomah berada di musala.

PAMEKASAN, RadarMadura.id – Madrasah Darul Istiqomah, Desa Pamaroh, Kecamatan Kadur, Pamekasan, didirikan oleh K. Hasyim Abdurrahman pada 1972 M/1393 Hijriah.

Selama kepemimpinannya, proses kegiatan belajar mengajar masih diletakkan di emperan musala.

Biasanya, pada siang hari ditempati kegiatan madrasah dan malamnya jadi tempat santri mengaji Al-Qur’an.

”Pada saat itu belum ada ruang kelas dan menggunakan sistem sorogan,” kata Ustad Fakhrurrozi selaku pengelola madrasah.

Menurutnya, kepemimpinan K. Hasyim Abdurrahman berlangsung sekitar selama 30 tahun. Sebab, pada 2002 Kiai Hasyim wafat.

Setelah itu, kepemimpinan madrasah diganti putranya, K Abdul Hayyi Hasyim.

Di tangan K Abdul Hayyi, pengelolaan madrasah mengalami perkembangan, baik bidang pembelajaran maupun pembangunan.

Satu per satu kelas dibangun hingga akhirnya lengkap enam ruangan.

Pada 2005, dibangun tiga ruang kelas yakni kelas I, II, dan III. Lalu, pada 2014 dibangun tiga kelas lanjutan yaitu kelas IV, V, dan VI.

”Kami juga melakukan renovasi musala,” ujarnya.

Kepemimpinan K Abdul Hayyi berlangsung selama 18 tahun terhitung sejak 2002 hingga 2020.

Sekarang kepemimpinan madrasah diganti saudaranya, yaitu K Quthni Hasyim.

”Di kepemimpinan beliau (K Quthni Hasyim), madrasah menambah kelas lanjutan yaitu kelas wustho untuk santri yang telah tamat ibtidaiyah,” ungkapnya

Photo
Photo

Dia menjelaskan, sebelum dibentuk kelas wustho, biasanya siswa yang telah lulus jenjang madrasah ula tidak melanjutkan pendidikan.

Karena itu, penambahan jenjang madrasah wustho sangat membantu pada peningkatan kognitif siswa. Sebab, mereka bisa mendalami materi pelajaran yang sebelumnya telah dipelajari.

 ”Tapi, alhamdulillah sekarang mereka tidak nganggur dan bisa melanjutkan untuk mendalami ilmu-ilmu agama,” jelas Fakhrurrozi.

Proses pembelajaran di madrasah ini menggunakan sistem lesehan atau tanpa kursi dan bangku.

Saat ini prasarana yang dimiliki sangat terbatas. Khususnya untuk kelas wustho yang belum memiliki ruangan.

”Kelas ini lanjutan bagi santri yang sudah lulus kelas VI ibtidaiyah,” pungkasnya. (sin/bil)

Editor : Fatmasari Margaretta
#ruangan #musala #madrasah #kelas #mengajar #pamekasan #sorogan #Al-Qur'an